Mahasiswa
3 tahun lalu · 4785 view · 4 menit baca · Gaya Hidup smoking-21282_640.jpg

Laku Sufi Para Perokok

Saya pribadi hidup di tengah kepulan asap rokok. Lahir dan tumbuh dalam lingkungan para perokok. Bahkan sewaktu kecil dulu permainan yang sering saya lakukan bersama teman-teman sepulang sekolah adalah permainan bungkus rokok. Eksistensi saya dengan demikian, salah satunya dibentuk oleh batang-batang rokok.

Meskipun belakangan para perokok dipinggirkan dalam wacana sosial, ada satu nilai yang bisa kita angkat dan kita jadikan pelajaran. Pelajaran semacam ini tidak kita temukan dalam praktek kehidupan lainnya. Hanya kita temukan dalam kegiatan ngerokok. Disadari atau tidak, baik para perokok atau bukan, nilai-nilai semacam ini bisa kita golongkan ke dalam tata keyakinan akan hidup sebagaimana tata keyakinan kita pada Tuhan.

Acapkali saya bertanya kepada kawan atau kerabat yang merokok tentang mengapa dia merokok. Bukankah buang-buang uang? Menimbun penyakit dalam badan? Menganggu ketentraman dan kesehatan orang lain yang menghirup asapnya? Lebih jauh lagi, bukankah rokok mencemari udara alam?

Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya tidak cukup sadis kalau kita bandingkan bagaimana kampanye anti rokok dilakukan. Banyak cara yang dilakukan, misalnya ada kampanye yang menggunakan kalkulasi matematis. Anggap saja seseorang dalam sehari, kelas perokok normal, menghabiskan satu sampai dua bungkus rokok berisi 16 batang. Satu bungkus rokok kita hargai saja 15 ribu. Berarti dalam sehari seorang perokok bisa menghabiskan 30 ribu. Kita hitung selama sebulan berarti sekitar 900 ribu ia habiskan untuk rokok.

Kita hitung lebih jauh; bagaimana setahun? Sekitar 11 juta anggaran yang harus disediakan oleh seorang perokok normal. Nominal yang lebih besar tentu dbutuhkan bagi mereka perokok kelas berat, yang sehari bisa menghabiskan 4 sampai 5 bungkus rokok. Nominal yang sangat besar tentu. Belum lagi dengan biaya-biaya kehidupan lainnya.

Kenyataannya, budaya rokok, khususnya di Indonesia, membumi di kelas-kelas masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah. Kelas masyarakat yang biaya rokoknya lebih besar dibandingkan biaya belanja makan istri dan anaknya. Ini mencengangkan mengingat hitung-hitungan matematis yang sudah kita lakukan sebelumnya.

Ketika KKN, saya pernah ngobrol dengan seorang guru madrasah swasta di desa tempat saya melakukan pengabdian. Beliau mengaku gajinya hanya 300 ribu sebulan. Beliau tergolong perokok menengah, yang rokoknya tak tanggung-tanggung; Sampoerna, yang harganya sekitar 16-17 ribu per bungkusnya.

Dari kalkulasi tadi kita melihat ketimpangan dan ketidaklogisan; bagaimana bisa beliau menghidupi keluarganya jika gaji bulanan saja habis bahkan tidak mencukupi kebutuhan rokoknya? Kita masih belum menghitung biaya bensin motor, belanja makan harian dan kebutuhan anak-istrinya yang lain. Loh kok bisa?

Setelah saya bombardir dengan pertanyaan-pertanyaan khas gerakan anti-rokok di atas, guru madrasah tadi kemudian menjawab dengan santai, “Tuhan itu adil. Keadilan Tuhan tidak berarti menyamakan pemberian pada mahluknya. Rejeki tentu disesuaikan dengan kebutuhan. Layaknya orang tua yang punya anak dua; satu kuliah, satu lagi masih SD. Orang tua yang adil tentu memberi sangu lebih besar kepada anaknya yang kuliah dibanding yang masih SD, bukan menyama-ratakan. Tuhan pun begitu. Bagi hambanya yang merokok, ya Tuhan beri rejeki buat beli rokok.”

Begitu juga dengan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Ada orang yang suka mancing, Tuhan beri rejeki dia buat mancing. Ada yang suka ngopi dan pergi ke warkop, Tuhan beri dia rejeki buat ngopi. Ada orang yang suka main game, ya Tuhan beri dia rejeki buat sekali-kali main game. Percaya atau tidak mekanisme semacam inilah yang pada hakikatnya sedang befungsi dalam tata kehidupan manusia.

Tidak ada teori atau konsep yang mengatakan bahwa dengan berhenti merokok seseorang dipastikan lebih kaya. Karena bayangkan! Dia bisa menghemat 900 ribu per bulan dari biasanya. Sepuluh tahun berhenti merokok, seseorang sudah bisa beli mobil. 20 tahun berhenti, dia bisa beli rumah. Namun pada kenyataannya tidak demikian. Ya ketika seseorang berhenti merokok, Tuhan stop rejeki rokoknya. Sama saja...

Pada titik ini saya lalu menyakini satu hal; rokok mengajarkan kita memahami jalan pikiran Tuhan. Kalau pembaca bertanya bagaimana cara Tuhan menghidupi mahluk sekalian alam? Bagaimana mekanisme rejeki sebenarnya berjalan? Amati para perokok atau merokoklah!

Namun sayang, keyakinan semacam ini belum tertancap kuat dalam setiap laku kehidupan manusia di dunia ini. Karena ada beberapa hal yang kontradiktif. Misalnya ada seorang kawan yang merokok tapi gak pernah beli buku. Saya lalu bertanya, kenapa keyakinan membeli buku kamu tidak sekuat keyakinan merokok kamu? Nah ini yang masih problematis. Saya bicarakan di lain waktu...

Jadi minimal bagi saya, kampanye matematis seperti di atas tidaklah efektif. Justru para perokok membuktikan diri sebagai orang yang memahami kinerja dan logika Tuhan. Karena itu hidup para perokok rata-rata tenang, damai. Saya melihat para perokok sebagai manusia-manusia yang tidak dibatasi sekat-sekat kehidupan. Mereka hidup bebas tanpa tekanan. Tidak ada kekhawatiran besok akan makan apa. Atau kesibukan pikiran lainnya yang berkaitan dengan kerja dan dunia. Logika kehidupan para perokok inilah yang menjadi inspirasi tulisan kali ini.

Saya bukan perokok, atau masih belum pantas disebut perokok. Tulisan ini juga bukan membela atau bahkan mengajak pembaca sekalian untuk merokok. Tapi sebagaimana yang saya tunjukkan, dalam diri perokok juga ada unsur positif yang bisa dijadikan pelajaran hidup. Perokok tidak selalu negatif. Nilai-nilai itulah yang mesti kita adopsi. Sehingga kita pun bisa mencoba menjadi manusia yang santai menghadapi hidup dan tidak terlalu ambisius dalam masalah harta dunia. Karena melalui cara ini kita memiliki ruang untuk memaknai hidup kita sebagai manusia.

Akhirnya, kebijakan ada dalam diri pembaca. Setuju atau tidak, minimal saya sudah mencoba untuk melihat sisi positif dari hal-hal yang selama ini terburu-buru dianggap salah. Itulah jati diri perokok; pejuang-pejuang kehidupan yang tahu bagaimana Tuhan berkerja dan mengelola alam semesta.

Artikel Terkait