Sore itu di tengah kota, jalanan mulai bising dan padat. Berpuluh pasang remaja lalu lalang datang dan pergi meninggalkan alun-alun kota. Aku putuskan untuk mencari jalan pintas agar aku bisa sampai rumah lebih cepat.

Hatiku remuk redam karena kalimat yang diucapkan Bi Inah masih terngiang. Hampir seluruh isi kepalaku dijejali dengan kalimat-kalimat itu.

"Jadi belum hamil juga? Udah setahun lebih kan? Kalau anak pertama jangan program. Nanti dikasih lama loh! Ada tempo hari pegawai bank datang jahit baju di sini karena sibuk dia ga mau asuh anak jadi harus menunda kehamilan.  eeh udah hampir dua tahun belum dikasih juga."

Air mataku terus saja berlinang bersembunyi di balik kaca helm yang melindungi wajahku. Aisyah, istri Nabi juga tidak punya keturunan. Beranikah bertanya ini padanya. Kenapa harus bertanya padaku. 

Dari setelah menikah hingga kini lebih satu tahun,  aku belum merasakan gelora pernikahan seperti halnya pengantin baru. Ntah mungkin aku tidak menarik bagi suamiku sehingga sampai detik ini statusku tetap sama seperti yg tertulis di buku nikah, yakni perawan. 

Di saat keluarga bahkan rekan bertanya, "Maryam, sudah isi?" Aku hanya bisa tersenyum dan mengucap, "Doain ya!" dada ini menjadi semakin sesak. Jangankan menyentuh,  memuji pun tidak pernah dilakukan. 

Setiap wanita pasti mendamba pernikahan yang sempurna. Mendapatkan suami yang mencintai,  menjaga,  melindungi, menghargai, dan tentunya membimbing ke arah lebih baik.

Ya Robb,  Maafkan Aku yang belum bisa menjadi yang terbaik untuk suamiku sehingga mungkin belum pantas untukku mendapatkan kasih sayangnya dan hal-hal sederhana yang membuatku merasa dihargai sebagai seorang istri. 

Aku tersadar dari lamunan panjang dan tidak tahu dimana posisiku sekarang. Kuraih HP di balik saku jaketku. Kubuka aplikasi Google Maps.

Dari rumah kecil tepat di depan posisiku berhenti. Seorang istri dengan perut buncitnya tengah tersungkur dengan posisi sujud di kaki suaminya. Meminta ampun sambil terisak tangis, "Jangan mas. Biarkan anak ini lahir."

Aku tak ingin lebih jauh masuk dalam kisah mereka. Aku sudah geram dibuatnya. "Apakah lelaki kebanyakan seperti itu. Hanya ingin merasakan nikmatnya saja tapi tidak tanggungjawabnya," gumamku. 

Sekelebat angan muncul di benakku. Apa mungkin karena itu suamiku ingin sangat  bertanggung jawab padaku dan anak-anakku kelak sehingga sampai detik ini belum ingin menyentuhku. Ntahlah. 

Aku mulai perlahan menyusuri jalan. Sesekali melihat petunjuk arah dari Hp-ku. Tiba dipersimpangan aku melirik pada layarnya yang telah gelap. 

Aku berhenti untuk bertanya pada segerombol ibu-ibu yang tengah asik ngobrol di pinggir warung.  


"Ibu, Mohon maaf. Jalan tercepat ke arah jl. Kartini yang mana ya bu?"

"Ke kiri lurus nanti belok kanan. Ada gang kecil. Keluar itu jalan Kartini."

"Makasih ya Bu."

Saat kembali menunggangi motorku. Ada satu Ibu yang berkata, 

"Enak ya kalau bisa bawa kendaraan sendiri. Menantuku itu kemana-mana mesti dianter anakku. Wong dia opo-opo ndak bisa,"

Kembali aku berterimakasih pada-Mu Ya Robb sudah menganugerahkan seorang mertua yang luar biasa.  Mertua yang baik yang diimpikan setiap wanita. Mertuaku kerap memujiku depan temannya. Ia amat menyayangiku tak ada bedanya seperti anak sendiri.

Orang suka pada wanita mandiri tapi aku rasanya ingin memilih tak bisa apa-apa bila dengan itu suamiku  bisa selalu bersamaku. 

Akankah Maryam, wanita suci  akan menjelma menjadi Aku.
Akankah ada Isa yang akan hidup dalam rahimku.

Ya Robb.
Engkau Maha Tahu Apa Yang Tersembunyi
Maaf bila hamba hanya mampu mengeluh,
Hanya pada-Mu hamba mengadu.
Batin ini sungguh tertekan Ya Allah.
Hamba tidak ingin berprasangka terhadap takdir-Mu. Tetapi ingin dan tak ingin henti hamba memohon pada-Mu agar hamba terus diberi kekuatan untuk menyimpan semua ini sendiri.  

Suara ceramah KH. Zainuddin MZ mulai terdengar dari corong masjid. Lampu  jalanan telah menyala, Aku belum melihat Sedan putih terparkir di teras rumah. Artinya suamiku belum juga pulang. 

Sabtu malam perenungan panjang. Aku masuk  ke dalam rumah dan bergegas membasuh muka, tangan, sebagian kepala, dan kaki. Aku ingin kembali mengadu pada-Nya.

Selesai sholat magrib, aku sempatkan membaca quran. Setiap lembar  yang kubaca memberi kekuatan. Mataku sampai pada kisah dalam surat Maryam. Percakapan Maryam dan Yusuf bin Ya'qub, sepupunya. 

"Mungkinkah tanaman tumbuh tanpa benih?"
"Mungkinkah pohon tumbuh tanpa disirami air atau hujan?

Lalu Maryam menjawab, "Mungkin saja. Bukankah kamu tahu siapa yang menciptakan pepohonan untuk pertama kali? 

Lalu Yusuf kembali bertanya, "Mungkinkah seorang terlahir tanpa laki-laki?" kemudian Maryam menjawab, "Mungkin saja. Bukannya kamu tahu Allah menciptakan adam tanpa kehadiran seorang lelaki dan perempuan sebelumnya."

Aku semakin dekat saja pada sosok Maryam yang namanya begitu mulia dalam alquran. Begitukah keinginan Amak dan Bapak memberi namaku, Maryam.

Ya Robb,
Sekiranya suamiku adalah pilihan-Mu.
Berikanlah aku kekuatan dan keyakinan tuk terus bersamanya.
Sekiranya ia adalah suami yang akan membimbing tanganku ke titian-Mu. Karuniakanlah aku sifat kasih dan ridho atas segala perbuatannya.
Sekiranya suamiku ini adalah yang terbaik untukku di dunia,  peliharalah tingkah laku serta perkataanku dari menyakiti hatinya.
Sekiranya suamiku ini akan bersamaku di surga-Mu, limpahkanlah sifat tunduk dan tawadu padaku atas sgala perintahnya. 

"kreeeek" suara pintu kamar terbuka.
Suamiku baru saja pulang.
Aku letakkan mukenah dan sajadah di tempat semula. Aku letakkan Alquran di atas bantal tempat tidur.

Aku ambilkan air minum dingin dari dapur untuknya. Sedikit melegakan. Lanjut setelah  Ia mandi, kami bergegas makan malam. Setelah makan suamiku langsung menuju kamar sedang aku harus membereskan piring, cangkir, dan perlengkapan dapur lainnya.

Seperti biasa di kamar tanpa bicara. Suamiku tampak bahagia sekali. Aku masih menata hati. Ingin sekali mengungkapkan semua yang kualami hari ini tapi aku takut merusak mood-nya.

lelaki ini kini menjulurkan badannya di sampingku. Ia menatap ke langit-langit kamar. Ketika hendak mengambil guling di sampingku tanpa sengaja tangannya menyentuh perutku. Lalu, Ia langsung minta maaf. "Maaf, ga sengaja."

Lalu ia kembali memunggungiku. Aku sudah tak tahan. Aku hadapkan wajahku ke tubuhnya. Aku peluk suamiku dari belakang. Berderai air mataku.

"Bang, kenapa harus minta maaf. Aku ini hakmu. Aku istrimu. Apa yang ada padaku, semua milikmu. Kenapa engkau begitu enggan menyentuhku. Apa aku ini menjijikkan dan tak pantas  untukmu bang. Jawab bang!" 

Suamiku terdiam mematung. Dia angkat tanganku seraya melepaskan dari pelukan. Kini tubuh kami saling berhadapan dan hanya berjarak 10 cm saja. Ia menyeka air mataku. Lalu berkata,

"Maryam, mengapa baru malam ini engkau bertanya padaku tentang ini?"

"Aku sudah tak sanggup dengan tingkahmu yang terus saja dingin padaku. Bukankah kita menikah untuk menjalankan sunnah Rosul. Tapi mengapa hingga saat ini kau tidak menunaikan kewajibanmu?" ungkapku padanya yang tanpa kusadari mengalir begitu saja dari mulutku mengalahkan ego dan gensi yang aku pupuk selama setahun ini.

Lalu, ia menatapku. Tatapan itu terasa begitu hangat. "Maryam. Istriku. Engkau kunikahi untuk kujadikan istri bukan pelayan nafsu. Aku tidak ingin istriku seperti pelacur." ujarnya mengejutkanku.

"Maksudmu?

"Pelacur, wanita penghibur yang melayani nafsu birahi lelaki hanya karena uang tanpa cinta sedikitpun. Apakah menurutmu aku akan menikmati tubuhmu sedangkan hatimu bukan untukku.  Kau akan melayaniku tapi hatimu menangis?"

"Bang Ren. Jadi itu yang membuatmu enggan menyentuhku?"

"Aku membaca kiriman seseorang di inbox facebookmu usai akad nikah. Sore itu Kau sedang mandi. Aku tahu sebetulnya Amak memilihku hanya ingin kau dekat dengannya. Amak tidak ingin kau memilih lelaki berinisial H karena takut kau akan dibawa pergi karena berbeda pulau."

Serasa disambar petir mendengar penuturan suamiku.
"Setelah akad nikah,  aku telah mencintai suamiku. Tidak ada lelaki lain dihatiku. Aku ingin hidup membangun keluarga kecil yang bahagia bersamanya."

Ia lekatkan jari telunjuknya di bibirku.
Ia menatapku sangat dalam.
Baru kali ini kami  saling memandang.
Ia usap ubun-ubun kepalaku sambil mulutnya mengucap sesuatu.
Ia  tarik selimut sampai menutup seluruh bagian tubuh. Malam itu kami raib dalam sinar bulan yang mengintip malu-malu.