Senja yang kehilangan jingganya telah memisahkan laki-laki dan perempuan itu. Laki-laki itu berharap itu adalah perpisahan sementara mereka berdua. Ibarat senja yang pergi sejenak dan akan kembali pulang tanpa terlambat keesok harinya. Meskipun pertanyaan utamanya belum dijawab, dia percaya bahwa ia telah lebih maju daripada sekadar bertanya dengan dirinya sendiri. Bertanya dengan diri sendiri tentang orang lain hanya akan membelenggu pikirannya sendiri. Bukankah dialog diciptakan agar manusia bisa saling berkomunikasi dan tahu tentang perihal tertentu. Dan benar jika Ia telah mengetahui beberapa hal meski belum semua.

Dengan pikiran yang membelenggu, laki-laki itu telah sampai di tempat yang ia yakini sebagai istana. Laki-laki itu berujar bahwa istana bukan tentang kerajaan, ada raja atau ratu tapi istana adalah tempat yang membuatnya nyaman. Dia mungkin sedang membohongi dirinya. Apa yang membuatnya nyaman dalam kesendirian di dalam rumah sebesar itu? Mungkin dalam kesendirian, iya lebih suka mengatur dirinya sendiri tanpa diatur orang lain dan mungkin juga sebaliknya.

Rumah yang besar itu ditata dengan sangat rapih. Tak banyak foto yang dipajangnya. Hanya Ada foto keluarga, dirinya, sahabatnya dan satu foto yang lain entah siapa tapi yang jelas itu seorang perempuan. Di bagian belakang rumah ada tempat duduk khusus baginya untuk menghabiskan buku-buku yang telah ia beli. Setengah malan dalam kesendiriannya dihabiskan ditempat itu. Mungkin tempat itu yang membuatnya nyaman. Atau yang membuatnya nyaman adalah buku buku yang pernah ia genggam di tempat itu.

Pikirannya tentang perempuan itu telah membelenggunya sepanjang hari. Dia berpikir jika ia tak menemui perempuan itu, dia mungkin lebih bebas menikmati buku bacaannya dengan segelas kopi yang tak pernah seorang buatkan untuknya. Di rumah sebesar itu, ia bebas membaca tulisan dari Paulo Freire, filsafat eksitensialisme Paul Sartre dan buku tentang kebohongan feminisme. Namun kali ini pertanyaan itu telah membuatnya tidak bebas seperti biasa.

Pada akhirnya Laki-laki itu berkata bahwa apa untungnya tentang semua ini. Berpikir tentang perempuan dan hal itu adalah bukan tipenya. Dia lebih berpikir tentang ketidakadilan, korupsi oleh pejabat negara, dan bagaimana feminisme telah berperan dalam kehancuran moral suatu bangsa dengan merusak suatu tatanan masyarakat yang paling dasar yaitu keluarga.

Perempuan dengan dalil kebebasan lebih memilih karir daripada berkeluarga, memiliki anak dan mengurus keluarga. Atau perempuan dengan tahu dan mau mengagungkan idealismenya yang pada akhirnya keluarga dan anak ditelantarkan demi sebuah karir. Sebenarnya bukan idealisme tapi lebih lebih kepada sebuah egoisme. Begitulah yang ia yakini tentang perempuan modern. Wajar saja jika laki laki itu sangat benci dengan perempuan seperti ini.

Mengatakan hal ini kepada para feminis, tentu saja mendapat penolak yang keras. Dia bahkan dibilang kuno dalam suatu perdebatan. “Kau jangan kuno! Perempuan modern harus mendapatkan haknya”, seru seorang wanita. Namun laki-laki itu terus berdalil “Apakah kita mengorbankan suatu tatanan masyarakat dan bangsa untuk hal-hal yang kita sebut hak?”. Karena pandangannya seperti ini, iya sering ditentang oleh orang-orang di sekitarnya. Bahkan Wanita yang pernah bersamanya selalu “meninggalkannya” ketika iya mengutarakan pandangan seperti itu.

Dengan sedikit kemarahan dia berujar bahwa wanita yang pernah bersamanya adalah wanita egois, yang menjadikan karir di atas segalanya. Suatu ketika iya harus menelan pil pahit karena ditinggalkan mantan kekasihnya. Wanita itu berujar bahwa seorang laki laki lain lebih mendukungnya mengejar karir. “Kau laki-laki kuno”. Dia disebut kuno karena pandangannya itu. Bukan hanya wanita itu saja, wanita-wanita yang pernah bersamanya meninggalkannya dengan alasan yang hampir sama.

Ini adalah sedikit tentang kehidupan yang belum berpihak padanya. Inilah gambaran untuk dia yang selalu hidup dalam idealisme yang kuat. Dia selalu menemui yang bernama kesendirian.

Dan kenyataan itu benar adanya. Malam yang semakin pekat ini menjadi bukti bahwa ia sebagai seorang yang selalu ditemani kesendirian. Sendiri bukan berarti hidup dalam kesepian, kata laki-laki itu. Pantas saja ia tak pernah mengutuk malam ini dan malam-malam yang pernah dilewatinya. Menurutnya malam adalah periode sakral dalam hidupnya.

Ketika orang lain mengatakan bahwa kedatangan malam membawa sepih, tapi bagi dia malam adalah waktu paling intim untuk berbicara dengan-Nya. Malam adalah waktu yang paling tepat untuk berbicara dengan-Nya tentang hidup yang tak pernah adil. Dan Sisa dari malam adalah berbicara dengan pikirannya sendiri dan bunga tidur yang kadang menjadi kenyataan. Begitulah ia memaknai malam. Begitu indah untuk dilewati. Ia bahkan ingin menggenggam setiap malam sebagai kekasihnya.

Namun sayang….Malam dan kekasih adalah sangat berbeda baginya. Malam begitu setia untuk dia yang telah menghabiskan waktu dalam kesendirian. Sedangkan yang pernah menjadi kekasihnya adalah mereka yang egois dengan dirinya sendiri. Dia tak ingin setiap malam menjadi kekasihnya. Dia takut jika setiap malam menjadi egois dan dia akhirnya menyadari kesepian yang sesungguhnya.

Dia akhirnya sadar bahwa kehidupan yang terbaik untuknya adalah seperti ini. Iya… Menjalani kehidupan dengan idealisme yang kuat. Idealisme adalah kekasih yang tak pernah egois terhadapnya. Ia mencitai idealismenya dan idealismenya tak mengecewakannya.

Dengan membuat seisi ruangan itu gelap gulita, ia mengakhiri malam itu. Tanpa mengharapkan apa-apa ia telah melewati malam ini dengan senyum penuh tanda tanya. “Mengapa Aku begitu mencitai idealisme ini?”