“Suami saya yang membuatkan saya kopi dan panganan ketika saya masih sibuk berkutat dengan tugas-tugas dari kampus di saat (jam) sarapan tiba.” Begitu dulu, kata Mucha, seorang teman dosen yang lagi melanjutkan kuliah S3 di Yogyakarta.

Wow, aku sangat salut. Mbak Mucha, begitu biasa dia dipanggil karena menyukai panggilan dengan sapaan mbak ala Jawa (bukan kakak seperti kami yang Sulawesi), ini benar-benar menerapkan sadar gender dalam keluarganya. Maksudnya, pekerjaan domestik masak-memasak bukanlah melulu tugas dari perempuan alias ibu.

Di rumah, keluarga inti aku pun masih setengah-setengah menganut ajaran sadar gender, jika budaya masak atau pekerjaan masak-memasak bisa saja dilakukan oleh laki-laki. Mengapa setengah-setengah? Karena ayahku memasak ketika tidak ada orang lain yang di rumah dan ketika tidak ada makanan, dia akan masak sendiri di dapur. Namun, ketika ada ibu, dia “wajib” dilayani oleh ibu.

Adik laki-lakiku bisa dan biasa masak bukan karena rasa masakanku yang kurang enak, namun dia memang suka memasak makanan sendiri tanpa mau merepotkan orang lain ketika yang lain sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Ketika dia berkeluarga, dia tidak segan-segan membantu istrinya memasak makanan, mencuci piring, dan mencuci pakaiannya sendiri, termasuk pakaian istrinya. Sehingga, suatu ketika tanteku yang melihat ini dan dia adalah penganut budaya patriarki (mendewakan anak laki-lakinya dengan tidak boleh mengerjakan pekerjaan di dapur) berkata, adik laki-lakiku tidak beristri tapi bersuami.

Beberapa keluarga (perempuan) yang telah belajar masalah “Gender” sebagai pembagian peran antara laki-laki dan perempuan dan telah sibuk menjadi wanita karier menginginkan suami yang bisa memasak untuknya. Aku pribadi juga ingin jika kelak punya suami, suamiku haruslah seorang laki-laki yang paham akan gender, setidaknya, mau membantu masak di dapur.

Apa Sih Gender Itu?

Menurut Oakley dalam Fakih (2013), gender berarti perbedaan yang bukan biologis dan bukan kodrat Tuhan sedangkan seks atau jenis kelamin (biologis) adalah perbedaan biologis dan merupakan kodrat Tuhan. 

Lebih lanjut, gender adalah perbedaan perilaku (behavioral differences) antara laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial, yakni perbedaan yang diciptakan manusia (laki-laki dan perempuan) melalui proses sosial dan kultural.

Namun, perbedaan gender (gender differences) pada proses berikutnya melahirkan peran gender (gender role). Dari sini terkadang tercipta “ketidakadilan”. 

Ketidakadilan yang tercipta sebagai berikut; pertama, terjadi marginalisasi (pemiskinan ekonomi) terhadap ekonomi, misal, gaji perempuan lebih rendah dari laki-laki. Kedua, terjadinya subordinasi pada salah satu jenis kelamin (perempuan), kebijakan yang dibuat tanpa menganggap perempuan itu penting. Misal, perempuan yang berpendidikan ujung-ujungnya ke dapur juga.

Ketiga, pelabelan negatif atau streotipe yang banyak dilekatkan pada perempuan, laki-laki adalah pencari kerja (bread winner) sedangkan ketika perempuan bekerja sebagai tambahan saja. Laki-laki sebagai sopir pekerjaannya lebih berat dibanding perempuan yang jadi tukang cuci. 

Keempat, kekerasan (violence) terhadap jenis kelamin tertentu, umumnya pada perempuan yang dianggap lemah fisik, sehingga laki-laki bisa melakukan kekerasan seksual dan pemerkosaan.

Kelima, peran gender perempuan adalah mengelola rumah tangga, maka banyak perempuan menanggung beban kerja domestik. Sehingga pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan perempuan. Stigma dapur, kasur, sumur adalah ranah perempuan yang berlaku.

Siwaliparri?

Beberapa orang menyakini bahwa “ladang amal” perempuan adalah ketika dia mengabdi dalam “wilayah segitiga emas”; dapur untuk masak, melayani makanan suami dan anggota keluarga lain. Kasur untuk tidur, melayani suami. Dan sumur untuk mencuci dan sebagainya. Hal tersebut masih dipercaya sampai sekarang.

Di kampung halamanku, Mandar, kami mengenal konsep “Siwaliparri” yang bermakna berbagi beban kerja antara laki-laki dan perempuan, antara suami dan istri, namun lebih kepada di ranah pembagian kerja ( mencari nafkah).

Misalnya, suami yang nelayan pergi melaut mencari ikan. Ketika pulang melaut, hasil tangkapan ikannya akan pergi dijual oleh istri. Hasil dari menjual tersebut dipakai sebagai modal melaut lagi, membiayai anak sekolah, dan makan. 

Namun, ketika istri sibuk masak di dapur mempersiapkan makanan untuk keluarga, hanya segelintir laki-laki yang mau ikut membantu pekerjaan istri. Padahal, sang istri sudah membantu ikut pergi menjual ikan.

Pertama, laki-laki sebagai suami menganggap tugas dan fungsi istrilah untuk urusan masak-memasak dan, kedua, perempuan itu sendiri atau istrilah yang menganggap suami atau laki-laki masuk ke dapur itu “haram” dan dia akan berdosa menyuruh suaminya memasak sehingga yang boleh mengerjakan masak-memasak hanyalah tugas istri.

Kemudian, di Mandar, yang terjadi di sebagian kalangan masyarakatnya, perempuan belum sempurna bila belum bisa memasak. Dulu, ada budaya mereka menolak laki-laki yang meminang. Ketika belum sreg dengan keluarga yang meminang akan mengatakan, dia belum bisa memasak.

Sampai seorang sepupu pernah menjadikan status, tentang perempuan salehah yang bisa masak ikan ala Mandar, bau piapi salah satu makanan khas kami. Memasak ikan ala Mandar penuh dengan cita rasa Mandar; rempahnya dari mangga yang dikeringkan, bawangnya khusus bawang Mandar, minyaknya minyak Mandar (VCO). Sehingga, indikator sepupunya, istri salehah bisa masak ikan ala Mandar, bau piapi.

Hari gini, perempuan sudah sibuk berkarier dan bekerja, ketika pulang ke rumah harus masak untuk suami yang juga bekerja di luar dan masak bagi anak-anaknya. Sungguh sangat sengasara, bukan karena tidak punya pembantu, tetapi karena laki-laki atau suaminya tidak peka, peduli, sadar gender untuk membantu istrinya di dapur sungguh bukan laki-laki yang cerdas.

Referensi:

Fakih, Mansour, Dr. Analisis Gender & Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013.