Saat ini, istilah maskulin dan feminin sudah sangat akrab di telinga kita. Dimana sifat maskulin identik dengan laki-laki dan sifat feminin identik dengan perempuan.

Dalam masyarakat, seringkali laki-laki dituntut untuk memiliki sifat maskulin seperti pemberani, tegas, idealis, pekerja keras, agresif dan kompetitif. Sedangkan perempuan dituntut untuk memiliki sifat feminin seperti pemalu, lemah lembut, penyayang, dan pengasih.

Paham yang sudah menjadi kebudayaan itu telah membentuk suatu norma dalam masyarakat  yang menuntut bagaimana masyarakat baik laki-laki maupun perempuan seharusnya berperilaku.

Karena tuntutan itulah, jika laki-laki malah memiliki sifat feminin yang lebih dominan daripada sifat maskulinnya, maupun perempuan yang memiliki sifat maskulin yang lebih dominan daripada femininnnya akan dianggap aneh dan menyimpang oleh masyakarat.

Menurut Barker, maskulin merupakan sebuah bentuk konstruksi kelelakian terhadap laki-laki. Laki-laki tidak dilahirkan begitu saja dengan sifat maskulinnya secara alami, maskulinitas dibentuk oleh kebudayaan. Hal yang menentukan sifat perempuan dan laki-laki adalah kebudayaan.

Secara umum, maskulinitas tradisional menganggap tinggi nilai laki-laki antara kekuatan, ketabahan, aksi, kendali, kemandirian, kepuasan diri, kesetiakawanan laki-laki, dan kerja. Diantara yang dipandang rendah adalah hubungan interpersonal, kemampuan verbal, kehidupan domestik, kelembutan, komunikasi, perempuan, dan anak-anak.

Kepemilikan sifat maskulin bagi laki-laki dan feminin bagi perempuan sudah dianggap sebagai kodrat oleh masyarakat. Padahal sifat maskulin maupun feminin merupakan bentukan kebudayaan, bukan kodrat.

Pemahaman mengenai “kodrat” laki-laki dan perempuan merupakan kesalahpahaman masyarakat dalam memahami antara sex dan gender. Sex dan gender sering disamakan, padahal keduanya berbeda.

Sex merupakan karakteristik biologis manusia, dilihat dari organ reproduksi, kromosom, dan hormone. Sex inilah yang sebenarnya “kodrat”. Sedangkan gender, menurut WHO (World Health Organization) adalah sifat perempuan dan laki-laki, seperti norma, peran, dan hubungan antara kelompok pria dan wanita, yang dikonstruksi secara sosial.

Sejak kecil, laki-laki sudah diajarkan untuk menjadi laki-laki yang tangguh dan kuat. Laki-laki juga tidak boleh menangis dan menampakkan kesedihannya karena sikap itu dianggap sebagai kelemahan dan hanya pantas dilakukan oleh perempuan.

Ajaran yang sudah ditanamkan sejak kecil dan tuntutan masyarakat membentuk sebuah “toxic masculinity”.

Toxic masculinity merupakan perilaku sempit terkait peran gender dan sifat laki-laki.  Dalam toxic masculinity, maskulinitas identik dengan kekerasan, agresif secara seksual, dan tidak boleh menunjukkan emosi.

Dalam sebuah studi yang dimuat dalam Jurnal of Psychology, toxic masculinity merupakan kumpulan sifat maskulin dalam konstruksi sosial yang difungsikan untuk mendorong dominasi, kekerasan, homophobia, dan perendahan terhadap perempuan.

Beberapa contoh perilaku dari perwujudan toxic masculinity yaitu tidak boleh menangis dan mengeluh, melakukan tindak kekerasan pada orang lain, melakukan kekerasan dan agresivitas seksual terhadap pasangan dan orang lain, merasa tidak perlu membela hak perempuan dan kaum marjinal lain, melakukan tindakan berisiko, enggan melakukan aktivitas yang dianggap hanya milik perempuan.

Toxic masculinity berbahaya karena membatasi definisi sifat seorang laki-laki dan mengekang pertumbuhannya dalam bemasyarakat. Selain itu toxic masculinity juga memberikan beban dan tekanan mental bagi laki-laki karena tidak boleh menunjukkan emosi berupa rasa sedih dan tangisan karena dianggap sebagai karakteristik feminin dan hanya boleh dilakukan oleh perempuan.

Toxic masculinity membuat laki-laki tidak dapat mengekspresikan kesedihan dengan menangis, hal ini membuat laki-laki sering tidak memiliki wadah untuk menyalurkan emosinya. Sehingga baik secara sadar maupun tidak, ketidakmampuan mereka dalam mengelola emosi secara baik membuat laki-laki berpikiran bahwa satu-satunya emosi yang dapat ditunjukkan atau ditampilkan adalah amarah. Bahkan tidak jarang amarah itu diluapkan secara negatif dalam bentuk kekerasan.

Selain berbahaya bagi laki-laki itu sendiri, toxic masculinity juga berbahaya bagi masyarakat yang terdampak atas perilaku toxic masculinity, tidak terkecuali perempuan. Toxic masculinity memicu kekerasan, pelecehan seksual dan pemerkosaan.

Dampak dari toxic masculinity yaitu, pembullyan, depresi, bunuh diri, kekerasan dalam rumah tangga kepada perempuan dan anak-anak, kekerasan seksual, penyalahgunaan obat-obatan, trauma psikologis, dan kurangnya persahabatan yang tulus.

Toxic masculinity merupakan hasil dari budaya patriarki yang secara umum merupakan sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial, dan penguasaan properti.

Partiarki menempatkan  perempuan sebagai subordinat dan memposisikan laki-laki sebagai pemegang kendali utama yang mendominasi dan mengatur perempuan.

Dalam permasalahan ini, terdapat peranan penting dari feminisme. Seperti yang telah diketahui bahwa feminisme merupakan gerakan yang menuntut dan mengupayakan kesetaraan gender.

Sejak feminisme gelombang kedua muncul pada tahun 70-an, feminisme tidak lagi secara eksklusif memperjuangkan perempuan. Namun, lebih luas lagi feminisme berjuang melawan patriarki untuk kesetaraan gender.

Akibatnya, feminisme tidak hanya memperjuangkan hak perempuan untuk mengisi ruang yang umumnya diisi oleh laki-laki, namun juga untuk memperjuangkan kebebasan laki-laki untuk tidak mengikuti standar maskulinitas.

Dapat kita pahami bahwa baik laki-laki maupun perempuan sama-sama budak dan korban dari budaya patriarki. Budaya patriarki secara umum memang berpihak kepada laki-laki, namun keberpihakan itu diberikan dengan syarat menunjukkan maskulinitas tradisional. Akibatnya laki-laki takut akan kehilangan kejantanannya.

Yang harus dipahami di sini bahwa feminisme tidak memiliki agenda untuk menghilangkan status maskulin seorang laki-laki, namun membebaskan laki-laki untuk akhirnya jujur dengan ekspresi gender yang disukai.

Seorang laki-laki feminis tidak takut akan kehilangan maskulinitasnya karena mereka menyadari bahwa tidak ada yang salah dari tidak berperilaku maskulin.

Untuk menghentikan siklus toxic masculinity dapat dilakukan dengan cara mengajarkan anak sejak dini bahwa anak laki-laki juga boleh menangis, mencurahkan apa yang dirasakan, menghindari ujaran yang merendahkan perempuan, mengajarkan konsep konsensual sejak dini sesuai usia anak.

Sudah saatnya kita baik laki-laki maupun perempuan menanamkan kesadaran dan pola pikir baru bahwa laki-laki dan perempuan adalah setara, kita sama-sama manusia yang dianugerahi pikiran dan perasaan, kita berhak untuk mengekspresikannya dengan cara yang baik dan benar.