Dulu yang sering saya dengar pelecehan seksual itu hanya menimpa wanita atau anak-anak saja. Pelakunya juga pasti pria dewasa yang kurang pendidikan dan korbannya adalah wanita yang lemah. Hampir semua berita dan cerita yang saya dengar punya sudut pandang seperti itu.

Tetapi isi kepala saya menjadi berbeda setelah saya juga mengalaminya. Saya pun tidak pernah mengira akan menjadi korban pelecehan seksual. Rupanya kalimat itu sangat dramatis jika didengar atau diucapkan, tetapi itulah yang saya alami.

Cerita berawal pada saat saya mulai memasuki dunia kerja, terlibat sepenuhnya, dan mulai bertemu lebih banyak orang dengan karakter yang berbeda-beda. Saat itu saya masih sangat lugu dan buta tentang hitam putih dunia kerja. 

Waktu itu saya punya kolega pria berusia lima belas tahun di atas saya, berpendidikan, dan punya jabatan lebih tinggi dari saya. Seperti pada umumnya, di awal semua memang canggung. Namun, seiring berjalannya waktu, kami menjadi lebih cair dan menjadi lebih sering bercanda. Semua berjalan normal dan pekerjaan terasa menyenangkan. 

Makin lama, makin terlihat pula karakter asli kolega saya ini. Makin ke sini, makin banyak bercandaan dan komentar yang tidak saya suka, terutama mengenai pakaian dan bentuk tubuh. Menurut saya, hal itu sudah di luar batas profesional. Kedua, kantor bukan tempat yang tepat untuk mengomentari hal-hal pribadi.

Walaupun tidak menyukai cara bercandanya, saya anggap hal itu tidak perlu untuk dibesar-besarkan. Sebaliknya, beliau sebagai lulusan dari universitas ternama di Indonesia sebaiknya paham cara bersikap sebagai pemimpin. Saat itu saya hanya berpikir bahwa mungkin dia hanya ingin mengajak bercanda. 

Saya mencoba untuk melupakan hal itu dan terus untuk bersikap positif. Tetapi, makin hari justru sikap kolega saya menjadi makin melunjak dengan saya. Pernah suatu hari saat jalan berpapasan di dalam kantor, dia sengaja untuk mencubit dada saya. Padahal saat itu tidak hanya ada saya dan dia, tetapi banyak orang lain di kantor. 

Hal itu rupanya jadi pemicu bagi kolega lain untuk melakukan hal yang sama kepada saya. Dan bagi saya, hal itu bisa dikategorikan sebagai perlakuan tidak menyenangkan atau lebih parahnya pelecehan seksual. 

Hal yang lebih parah juga pernah dilakukan, salah satu dari mereka mencubit atau meremas pantat saya di depan umum. 

Saya pernah menyampaikan kepada kolega saya itu bahwa saya tidak menyukai gaya bercanda semacam itu. Tetapi respons yang saya dapat tidak sesuai dengan harapan saya. Alih-alih mereka minta maaf, jawaban mereka justru bernada bahwa saya tidak boleh menganggap hal itu serius.

Mereka menganggap itu hanyalah sebuah banyolan dan lebih parahnya lagi mereka menganggap hal itu lucu. Hal itu membawa keprihatinan bagi saya. Di kalangan orang berpendidikan tinggi dan profesional, mereka masih belum bisa membedakan mana yang sebaiknya tidak jadi bahan lelucon. 

Walaupun sudah mengatakan bahwa saya tidak menyukai hal itu, mereka juga masih tetap saja melakukannya. Bahkan kadang saat meeting sehingga saya menjadi sorotan teman-teman kantor yang lain. Beruntung saya tidak lepas kendali untuk marah atau dendam dan balik memperlakukan orang lain seperti itu. 

Sungguh saya bersyukur, saya melewati babak yang tidak menyenangkan sehingga saya belajar untuk menghormati orang lain dan tidak mengatasnamakan bercanda untuk hal seperti itu demi membuat lelucon atau orang lain tertawa. Hal itu sangat memalukan. 

Bagi saya, hal itu sangat memalukan, bagaimana bisa seseorang yang berpendidikan tinggi dan lulus dari salah satu universitas ternama melakukan hal semacam itu? Bukankah pendidikan seharusnya mengajarkan bagaimana seseorang menghormati orang lain? 

Lalu bagaimana dengan peristiwa yang saya alami ini? Apakah hal ini juga termasuk ke dalam perlakuan tidak menyenangkan atau justru pelecehan seksual?  

Kemudian saya mencari tahu jawabannya sendiri. Ternyata pelecehan seksual bisa dialami dan dilakukan oleh siapa pun. Semua itu tidak memandang bulu seperti jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan seterusnya. 

Menurut situs hukum online, pelecehan seksual bisa saja menimpa laki-laki. Pelakunya bisa sesama jenis atau lawan jenis. Dan kejadian yang saya alami termasuk ke dalam pelecehan seksual, tetapi saya tidak berpikir untuk memenjarakan siapa pun. 

Saya hanya ingin menyampaikan pengalaman tidak menyenangkan saya saja melalui tulisan ini dan saya berharap bahwa publik juga mengetahui bahwa pelecehan seksual mungkin dan bisa terjadi terhadap laki-laki. 

Saya pernah membaca sebuah artikel yang membahas mengenai pelecehan seksual terhadap laki-laki. Artikel itu mencantumkan hasil dari sebuah studi dari jurnal Psychology of Men and Masculinity mengatakan bahwa laki-aki yang dianggap tidak maskulin lebih rentan mengalami pelecehan seksual. 

Saya bukan satu-satunya laki-laki yang mengalami pelecehan seksual dari sesama laki-laki. Terlepas dari gender, banyak orang di luar sana yang bersembunyi dari kejadian yang telah mereka alami. Tentu saja dampak psikologis setiap orang berbeda-beda. Beruntung saya bisa melawan dan menganggap mereka angin lalu. 

Tetapi, bagaimana bagi mereka yang merasa malu dan sangat takut untuk mengutarakan? 

Saya harap pendapat saya melalui tulisan ini menjadikan publik makin terbuka dan aware dengan kasus atau perilaku-perilaku pelecehan seksual di sekitar mereka. Dan juga membantu korban jika mereka mengalami pelecehan, bukan disudutkan atau makin disalahkan.