Gerakannya kacau, matanya terlihat jelas nanar, mulutnya menggeram, mencengkeramlah telapak tangannya, seolah ingin meremukkan siapa saja yang ingin membuatnya sadar sebagai dirinya sendiri. Bukan sebagai Nyi Ningsih, Nyi Blorong ataupun emanasi setan, jin dan entitas supranatural lainnya.

Dini hari yang beku di belantara itu, berbanding terbalik dengan ideologi pendakian gunung anak-anak muda itu yang panas dan fatalis.

Menziarahi gunung dengan membawa kesumat warisan bapak-bapak mereka, membalas dendamkan kegagalan moyang mereka melawan inhabitan asli rimba, demit, jin, "rijalul ghoib" dan sejenisnya, serta satu yang penting, membawa kesombongan dan keangkuhan habitat asal mereka, urban, rural, metro hingga hiperpolitan.

Rita, Ninda, Pareswari, Laila, Rian, dan beberapa nama lainnya, dini hari itu menerima kenyataan pahit di luar dugaan. Ideologi pendakian gunungnya yang panas dan fatalis  koyak oleh ulah Rita yang kesurupan saat menuruni jalur pendakian malam itu.

Ketika gelap datang, maka jangan harap memenangkannya dengan porai-porai terang benderangnya habitat asalmu yang bermandikan cahaya, kerlip lampu dan limpahan mewah sinar-sinar dan cahaya menyilaukan itu.

Malam adalah milik mereka yang mengendap-endap di perdu, mereka yang melata di tanah dingin, mereka yang bergelantung di atas pohon, atau mereka yang juga lalu lalang.

"Saya akan kembali lagi!" serapah Dito yang adiknya sedang kesurupan itu.

Dini hari itu inhabitan asli sukses menghambat laju pergerakan pendakian mereka.

Penunggu sebuah koordinat yang masif oleh batu-batu besar, berhasil merasuki si Rita adik Dito yang masih duduk di bangku sekolah menengah itu.

Sudah tiga kali percobaan Dito dan rekannya untuk menggapai puncak gunung yang terkenal angker itu. Namun, selalu gagal total dengan penyebab yang bervariasi, mulai dari kesurupan, hilang orientasi, pingsan, sakit hingga cuaca buruk.

Tak satupun berinisiatif melewatinya dengan "cinta". Yang ada dendam kesumat, amarah, nafsu dan arogansi.

Kekuatan, kelengkapan peralatan, ajian sakti, jimat dan doktrin mematikan menjadi andalan mereka untuk membuktikan sesuatu yang tak perlu dibuktikan. Tentang dominasi manusia beserta ilmu-ilmunya yang jenawa.

"Kak, bisa gak, sih?" tanya Dito kepada seseorang yang sudah setengah jam melesatkan doa-doa agar yang kesurupan itu sadar.

Bukannya kembali menjadi diri sendiri, Rita yang kesurupan Nyi Ningsih makin menjadi-jadi. Melepaskan energi yang semestinya Rita punyai, kuat dan mematikan.

Terlihat urat dan pembuluh darah lengannya yang semestinya terlihat halus, mulus di kulitnya yang putih bersih itu, kini tampak tonjolan otot bisep yang seolah ingin berbina raga.

Sang penyembuh juga terlihat putus asa, sambil ditutupinya keputusasaan itu dengan makin nyaring rapalan doa-doa yang tadinya lirih.

Bukannya makin sadar, Rita yang kesurupan meliuk-liuk dengan gerakan tari tanpa pakem. Sepertinya sang penyembuh terangsang.

Tangannya bergetar mengelus pipi Rita, entah doa-doa apa yang sepaket dengan sentuhan, bangsat.

Dominasi berkedok doa, teman-teman Rita diam saja, seolah pasrah tanpa tanya. Seseorang di pojok kegelapan sana dari tadi serius memperhatikan apa yang terjadi. Perlahan ia maju mendekati ritual penyembuhan yang bangsat itu.

"Ini makanan, kasih sesuap dia," katanya dengan lembut sambil menyerahkan bungkusan yang masih hangat.

"Dan kamu, ini!" lanjutnya sambil menyodorkan sebatang rokok ke kakak Rita, Dito yang juga ikut-ikutan kesurupan. Namun, gejalanya berbeda, seperti ibu-ibu yang sedang ngidam, mual yang diaduk-aduk hingga terkadang jongkok menahannya.

Menghirup makanan hangat itu, Rita seolah tersihir, berhenti menari, terpaku pada nasi putih dan rendang daging yang nanar bumbunya itu.

Perlahan teman Rita menyuapkan makanan ke mulutnya. Rita perlahan mengunyah, matanya tertuju kepada seseorang yang beramal makanan tadi. Suap berikutnya sepertinya makin nikmat saja kunyahannya. Ah lapar dia....

Sang penyembuh yang sempat terangsang tadi perlahan beringsut mundur dari ritual bangsatnya, malu. Apalagi dengan puluhan doa yang sudah dilesakkan seolah memenuhi penjuru langit itu.

Dito yang menerima sebatang rokok tadi sudah tenang bersandar sambil memperhatikan adiknya yang sudah menjadi dirinya sendiri, Rita yang lapar.

"Dito, aku juga pernah kehabisan, hingga harus memungut puntung di sepanjang jalur pendakian dan mengisapnya," kata si penderma.

Dito melongo sambil terus memperhatikan batas bara di batang rokok itu yang makin mendekati puntung berfilter itu.

"Tapi tak seperti kau, kesurupan!"

Seseorang yang dermawan tadi mulai menghubungi pos perizinan pendakian. Berkali-kali memencet  tombol PTT (Push to Talk) di Handy Talky-nya. Hanya bunyi rimpuk yang didengarnnya. Tak ada jawaban operator keadaan darurat.

Mungkin mereka tidur atau sedang pulang berkempul dengan keluarganya. Kesiapsiagaan hanya isapan jempol belaka. Relawan hanya ada pada sorot.

"Jancok," si penderma mengumpat keras, kecewa. Sengaja agar terdengar, untuk memberi pelajaran. Betapa bangsatnya retribusi tiket masuk pendakian yang tak sesuai fasilitas.

Tampak Laila lebih memperhatikan semua gestur si penderma itu. Sepertinya tertarik, lebih lengkapnya luluh-luntak.

Di antara semua, dia paling banter logos dan logisnya. Bagaimana ketenangannya mengatur teman-temannya yg dalam kepanikannya.

"Kau masih sekolah?" tanya penderma.

"Sudah lulus, kak," jawabnya lembut.

Sepertinya dia kelaparan juga.  Beberapa curi pandang matanya yang jelita ke bungkusan lain di tangan si penderma itu.

Memang ceroboh kelompok pendaki muda-mudi ini. Kelaparan semua, terus kesurupan, bagus otak kalian!

Si penderma seolah jadi Tuhan saat itu. Menentukan lapar dan kenyang mereka dengan bungkusan yang ada di tangannya yang tak bisa dibeli dengan uang, agama, ideologi, ciuman, hingga ranum selangkangan mereka.

Urusannya cuma dua, lapar atau kenyang di tengah hutan. Penderma yang jadi Tuhan itu tak perlu menciptakan kitab suci untuk menjelaskan kegunaan dan apa yang adda di bungkusan besar di tangan dan di dalam tasnya itu.

Laila tak kuasa menahan air liurnya, menetes, berkilau indah dalam sinar lampu "headlamp" si penderma. Indah, bak lendir kenikmatan belia yang terangsang perjaka.

"Ini, makan!" seruan si penderma itu memutus lelehan liurnya, tangannya yang berjari meruncing indah itu menghapus jejak liurnya yang tentunya beraroma busuk. Bakteri pembusuk sudah berkumpul dua hari selama pendakiannya.

"Apa ini, Kak?" tanya Laila sambil menerima sepotong besar memanjang yang padat itu.

"Getuk pisang," jawab si penderma.

Dibukanya perlahan bungkus getuk pisang yang tak berlabel itu. Perlahan jemarinya mengurai bungkus daun pisang itu, perlahan dan gemetar karena sudah tak tahan menipu pencernaannya yang meraung minta diisi.

Si penderma menyulut sebatang rokok, perhatikan cara membuka bungkus daun pisang itu yang tampak membuat Laila kesulitan.

"Diplorot saja," suruh si penderma.

Laila seperti dicocok hidung, jemarinya sigap melorot bungkus pisang itu. Matanya nanar memperhatikan gumpulan yang muncul, batang berwarna coklat getuk nan lezat itu.

Sepertinya tak pernah bersua yang namanya getuk si Laila ini. Tak tunggu lama, ujung tumpuk batangan coklat itu masuk ke mulutnya.

Liurnya berdecak, mengalir deras bersaliva menyambut asupan benda asing ke mulutnya. Sebuah reaksi gastrial alami. Ketika kelenjar ludah berproduksi meningkat ketika mulut mengunyah makanan.

Mata Laila melek-pejam mengiringi kenikmatan itu. Sederhana, apapun statusmu, pangkatmu, uangmu, kekuasaanmu, kamu akan tetap kelaparan kalau si penderma itu tidak berbagi. Sebuah kawasan tanpa transaksi jika si pemilik tak sudi menjual.

"Berapa kali percobaan ke puncak?" tanya si penderma.

"Tiga, Kak," jawabnya singkat.

"Gagal semua?" lanjut si penderma.

"Benar," jawabnya singkat. Mulutnya penuh oleh batangan coklat itu. Bau harum getuk pisang beraroma di rongga mulutnya.

Sementara itu bala bantuan datang. Bapak dan ibu mereka bak tim evakuasi yang sangat diharapkan. Setelah berterima kasih kepada orang yang tak layak diberi ucapan itu, mereka semua pamit turun ke bawah.

"Saya rapalkan doa-doa pilihan, hingga mereka sadar," si penyembuh ngibul. Beberapa kesempatan terlihat kurang ajar, menjamah bagian tubuh dengan alasan ritual penyembuhan.

Si penderma tertawa dalam hati, di pojok kegelapan sebatang pohon besar yang tak terlihat oleh mereka.

"Saya gak turun, ikut kakak itu," Laila menunjuk bayangan hitam di samping pohon besar itu.

"Terserah kamu, yang penting anakku sembuh," jawab enteng salah satu orang tua rombongan itu.

Keputusan Laila sungguh mengejutkan, sementara mereka dalam traumatik tempat-tempat angker dan misterius di belantara itu.

"Tidak ada demokrasi di belantara, siapa yang punya pengalaman survival terbaik dialah suara terbanyak, walau seorang saja," kata si penderma yang sudah si samping Laila.

"Kapan kita berangkat, Kak?" tanya Laila tak sabar.

"Sekarang," jawab si penderma.

"Berapa jam dari tempat kesurupan ke arah puncak,  Kak?" tanya Laila lagi.

"Setelah ini tak ada pertanyaan lagi!" jawab si penderma singkat.

"Iya, Kak," Laila menurut.

Tanpa aba-aba si penderma mulai berjalan telusuri trek pendakian menuju pos 2. Laila hanya menguntit saja tanpa bicara.

Seperti tiada jeda pergerakan mereka berdua. Stabil dan tanpa lelah. Tak ada makanan dan minuman suplemen yang mereka asup, tapi seperti tak pernah capek. 

Semua terasa ringan oleh sesuatu yang membuat lupa tumpukan asam laktat yang mencekik otot sebagai tanda kelelahan. 

Saat seseorang mencapai ambang asam laktat tersebut, seseorang akan merasakan rasa terbakar atau kram. Itu disebut ambang laktat sekitar 50 - 80% dari VO2 max seorang atlit.

Ketika titik tersebut tercapai, seseorang hanya dapat mempertahankan aktivitas secara konstan. Tetapi tidak bisa lebih cepat lagi. 

Tapi Laila bukan atlit, ia hanya ikut-ikutan temannya naik gunung. Namun,  dini hari itu daya tahan tubuhnya tetiba dahsyat. 

Laila tak  sadar telah membangun ototnya.  Laila tak pernah mendwpatkan pelajaran aerobik bahwa otot tidak akan tumbuh berkembang kecuali mereka terkena beban kerja  yang menantang. 

Yang Laila tahu hanya perasaan ekstasi yang memabukan berjalan di belakang si penderma itu. Entah jenis aerobik macam apa itu.......

Banyak sentuhan-sentuhan logos dan logis yang Laila serap. Mulai dari nalar yang sehat tentang kelaparan dan sakau nikotin terhadap fenomena kesurupan, kedermawanan si penderma, kebusukan dan nafsu bejat si penyembuh yang berbalut kealiman doa-doa pencakar langit hingga perasaan ekstasi yang aneh terhadap orang yang sedang berjalan  di depannya itu, dan model demokrasi anehnya.

Mungkin ini yang disebut dengan pendidikan karakter yang sering didengungkan kelompok pecinta alam itu. Tapi ini lebih dahsyat, tanpa cekokan ideologi yang berbusa-busa, baris berbaris yang aneh, perundungan yang merendahkan, aksi-aksi militeristik yang kaku dan hierarkis, teriakan-teriakan edan, yel-yel paganis tak jelas.

Lail malam itu merangkum semuanya dalam kesederhanaan yang dahsyat yaitu tentang doktrin "lupa" yang jauh lebih eksotik dan terhormat dari "kesurupan".