Semua orang tentu memiliki panutan. Mulai orangtua, keluarga, tetangga, sahabat, guru, teman, hingga sosok lainnya termasuk sosok yang dikenal sebagai public figure. Panutan, baik seorangan atau sekerumunan, memberi semangat terhadap langkah yang dijalani dalam keseharian.Panutan memiliki peran psikis, yang dapat memengaruhi pandangan (cara, sudut, jarak, sisi, dan resolusi) terhadap sesuatu bahkan bisa memengaruhi seseorang sepenuhnya.

Seorang panutan biasanya menjelma sebagai sosok agung bagi pengagumnya. Sosok yang memiliki daya dorong luar biasa hingga sanggup membawa batin pengagumnya larut terhadap beberapa perkara. Saking hanyut batin itu sampai perilaku tak bisa dirunut dengan nalar biasa.

Panutan boleh siapa saja. Sah-sah saja preman yang nama sapaan karibnya tak elok menjadi nama sebuah gang menjadi panutan. Walakin nama dari sosok itulah yang selalu dilantan dengan penuh kasih sayang di hati mereka yang menggandrungi, mereka yang menjadikannya sebagai panutan. Itulah nama yang mudah diingat karena inspirasinya, bukan karena muka garangnya.

Dengan demikian, setiap manusia layak menjadi panutan, entah manusia tersebut dipandang sebagai sosok besar karena banyak orang juga mengaguminya atau dipandang sebagai sosok kecil karena sedikit orang yang mengenalnya. Sepanjang orang menunjukkan kesungguhan, pasti ada orang yang menjadikannya sebagai panutan, meski diam-diam.

Salah satu sosok yang menjadi panutan saya adalah Laila Fariha Zein. Sulit untuk dapat mengingat dengan rapi dan rinci serentetan peristiwa yang membuat saya mengagumi Laila, hingga menjadikannya sebagai panutan untuk diikuti rekam jejaknya. Namun, tak dapat dimungkiri kalau dulu saya pernah tak menganggap keberadaannya. Pasalnya waktu itu saya sedang merasa antipati dengan orang yang tampak mengesankan dirinya sebagai sosok relijius.

Bagus juga saya mengenal Laila ketika sedang cenderung bersikap seperti itu. Pasalnya beberapa percakapan dengannya mengubah cara saya memandanganya. Bahkan pelan-pelan berkelanjutan, cara pandang terhadap kalangan yang mulanya membuat saya antipati mulai terkurangi. Tutur kata yang disampaikan oleh Laila membuka tabir bahwa dirinya bukan tipikal orang yang berpandangan sempit.

Percakapan paling penting yang menyuntikkan benih-benih kekaguman terjadi bukan ketika membahas hal yang malah terkesan sepele. Pasalnya waktu itu, pada pekan terakhir September 2016, Laila menyatakan kalau dirinya adalah penggemar Kim Kardashian. Tentu saya, dalam posisi sebagai penggemar Paris Hilton, langsung bereaksi dengan memberikan cibiran.

Cibiran tersebut mulai dari rekam jejak Kim yang pernah menjadi asisten pribadi kesayangan Paris—saking nurut-nya sama majikan—sampai perilaku yang membuat Kim layak mendapat semat sebagai pengkhianat Paris. Tanpa dinyana, Laila malah menanggapi dengan santai. Bukan dengan balas mencibir Paris yang sekarang sudah kalak telak dari Kim soal popularitas dan membentuk fanatisme penggemar, melainkan dengan mengapresiasi keduanya.

Dari tuturan Laila, saya baru menyadari kalau Paris hebat dalam hal keluar dari bayang-bayang kebesaran keluarga sepertihalnya Kim yang keren dalam menjual dirinya meski “modal nekat” semata. Dari percakapan soal hal sepele itulah saya mulai tertarik untuk menyelami lebih jauh pemikiran Laila.

Tema feminisme—apapun maknanya—menjadi tembakan perdana saya. Kebetulan Laila kuliah di program studi Pendidikan Bahasa Prancis, yang semalas atau seapatis apapun sikapnya terhadap feminisme, tentu pernah bersinggungan dengan topik kontroversial tersebut. Kebetulan pula Laila saya anggap sebagai perempuan islami, yang punya stéréotype lantang menolak gagasan feminisme.

Laila tampak antusias ketika terlibat dalam percakapan tersebut. Apalagi bahasan yang Laila bawa dalam percakapan tersebut tidak berumit ria di elaborasi teoritis, melainkan langsung ke bagian kesimpulan yang setidaknya secara umum disepakati. Tampak kalau Laila punya wawasan luas dan dalam terkait feminisme, soalnya dalam kajian sosial hampir tidak bisa luput dari perdebatan, bahkan di kalangan orang yang mengakui sebagai feminis sekalipun!

Penting untuk diketahui bahwa walau dari awal Laila tak menunjukkan referensi teoretis secara khusus, tetapi dirinya menyarankan saya untuk mencari tahu Le Deuxième Sexe karya Simone Lucie Ernestine Marie Bertrand de Beauvoir. Dari menuruti saran Laila itulah saya dapat bersinggungan dengan gagasan erotic capital yang dicetuskan oleh Catherine Hakim.

Karena faktor saran Laila itulah saya merasa bahwa gagasan erotic capital tersebut sebagai peluru yang ditembakkan pada Simone de Beauvoir, meski dalam tuturan yang disampaikan oleh Catherine Hakim gagasan tersebut untuk mengamandemen gagasan economic, cultural and social capital dari Pierre Felix Bourdieu.

Bukannya tambah menyelami feminisme, saya malah tertarik dengan gagasan erotic capital tersebut. Laila sebagai pembimbing saya tampak sepakat dengan gagasan orang Inggris yang kayak menjatuhkan orang Prancis itu. Sisi relijiusnya tampak ketika mengaitkan gagasan erotic capital dengan penggunaan jilbab untuk perempuan.

Dengan cara mengarahkan saya untuk mengikuti percakapan yang dikehendaki oleh Laila, sampailah paka tuturan, “Berarti jilbab itu untuk menutupi kecantikan perempuan.” Satu kesimpulan berharga yang dapat saya tuturkan berkat Laila. Pasalnya fenomena saat ini sedang marak kampanye bahwa jilbab menambah kecantikan. Padahal kalau ditelusuri secara historis, kesimpulan yang diarahkan oleh Laila bahwa fungsi jilbab untuk menutup kecantikan itulah yang lebih tepat.

Cara Laila mengarahkan saya seringkali tak terduga. Lain waktu saat saya berkesempatan bercakap melalui telepon, Laila mengarahkan saya untuk mempertanyakan kembali perihal jilbab. Setelah menguraikan perdebatan soal batasan aurat perempuan, Laila mengarahkan percakapan pada pertanyaan, “Kalau memang jilbab dipakai untuk menutup bagian tubuh perempuan yang merangsang berahi lelaki, kenapa justru rambut yang harus ditutup? Bukankah bibir lebih merangsang berahi?”

Itu adalah gambaran singkat—maunya tapi berkepanjangan jadinya—mengenai sejumput kapling permanen dalam hati saya yang ditempati oleh Laila. Lha gimana ya, meski terbilang eceran dalam membayangi langkah, ecerannya sayang dibuang. Contoh kesimpulan dan pertanyaan tersebut terus tetap lestari memengaruhi diri.

Wajar kalau Laila kerap tampak saya puji. Bukan Laila yang perlu pujian, melainkan saya lah yang butuh mengungkapkan sanjungan. Saya yakin bahwa Laila tipikal manusia yang tak melayang dipuji sepertihalnya tak tumbang dicaci.

Perlahan malar, saya mulai menyempatkan waktu untuk membaca kutipan-kutipan yang dibagikan oleh Laila melalui media sosialnya, seperti Facebook, Twitter, dan Instagram. Tuturannya bagus, mudah dicerna sekaligus bermakna. Jauh beda dengan kesan pertama mengenalnya, ketika dirinya bahkan tak saya anggap keberadaannya. Dari sini Laila mulai menginjeksi pengaruhnya. Pengaruh yang dengan lembut meluruh dalam diri saya.

Misalnya kutipan dalam Facebook, “Adil memang tak mesti sama, jika terjadi penyama rataan maka akan berdampak dholim,,,Islam mengadakan perbedaan, bukan pembedaan...” yang disampaikan pada 22 April 2012 pukul 11:08 (GMT+7).

Atau melalui Twitter, “Tidak perlu menjadi orang lain untuk dikagumi,karena ketika kelayakan telah terpatri,rasa kagum akan datang menghadiahi.” yang ditulis pada 3 November 2014, 23:11.

“There's a dark side in everything. Light and dark are two different things, but we need both. For too much light burns us, while in darkness we can't see. But together, we have shade.” yang ditulis melalui Instagram pada 5 Juni 2017, 05:33, dengan tambahan, “Tapi bukan berarti mati lampu terus. PLN oge bangkrut mereun kalo ga ada yang bayar listrik mah.”

Kutipan kata-kata Laila termasuk perkataan yang saya koleksi. Terus terang saya mengadaptasi kebiasaan Dhani Ahmad Prasetyo (later Ahmad Dhani Prasetyo) yang kerap mengumpulkan cuplikan nada. Adaptasi terhadap kebiasaan Dhani itulah yang membuat saya media sosial Laila biasa saya kunjungi. Semacam menjadi pendobrak kuldesak kala paceklik gagasan dialami. Sejenis alat bantu dalam menggali inspirasi.

Laila seperti punya daya endus tersendiri sehingga mampu menyusun tuturan bergizi dan enak dinikmati. Kadang saya juga sampai over, sampai mengganggu Laila melalui telepon. Pada waktu tertentu, rasanya butuh sekali untuk menelepon Laila. Sayang, karena dirinya masih sibuk dengan kegiatannya, tak ada waktu lagi untuk mendengarnya bertutur kata.

Tutur kata tentang beragam angan, perjuangan, dan kenangan, yang mungkin terasa sepele buat Laila. Mungkin ini adalah hal yang konyol, sesuatu tak penting buat Laila justru menjadi kebutuhan buat saya. Dan dirinya tampak menyadari hal ini, hingga terasa berat buat memohon padanya untuk berbagi cerita.

Laila sendiri menjadi orang yang dapat bicara setara. Memang kami tidak setara, jelas kalau dia lebih mulia dibandingkan dengan saya. Namun, Laila bisa membuat obrolan yang dilakukan terasa setara karena memiliki sejenis ‘standar’ yang sama. Bukan standar ganda yang hanya mau menerima enaknya sendiri saja.

Sebagai lawan bicara, Laila terbilang sosok yang tak banyak basa-basi bicara sejak perbincangan dimulai dari salam. Saat bicara pun, dirinya bisa terhindar dari gagal paham. Sepanjang mengenal Laila, saya memang menganggapnya sebagai orang yang suka bercerita.

Meski termasuk pelajar berprestasi yang lulus strata satu dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebesar 3,5, Laila lebih gemar bercerita alih-alih mengulas persoalan secara akademis seperti menerbitkan jurnal. Ceritanya hanyalah biasa, tampaknya. Tapi dari sini saya mudah menerima karena tak merasa mengancam pikiran sehingga bisa disampaikan secara akrab. Kekuatan cerita dari Laila bukan pada efek tertentu yang dikehendaki olehnya , tetapi pada caranya merasuk benak orang untuk dimaknai terus-menerus melewati ruang dan waktu penuturan.

Laila mengajari saya agar senang terlibat percakapan, bukan sekadar mengungkapkan perkataan. Beda lho, dalam percakapan perlu kemauan untuk menempatkan diri agar tampak setara dengan lawan bicara. Sedangkan dalam mengungkapkan perkataan, tinggal menyampaikan tuturan yang diinginkan.

Dari percakapan pula Laila banyak memberi tahu hal lain yang belum pernah saya jamah. Pun dirinya mengakui, bahwa tak semua hal sudah dia mengerti, misalnya tentang politik elektoral yang perubahannya sulit diprediksi.

Melalui kebiasaan terlibat percakapan, Laila mendidik saya untuk tak mem-‘benda’-kan akal. Soalnya walau terdengar remeh, ucapan Laila kadang perlu direnungkan secara mendalam. Bisa jadi diam-diam Laila berpesan bahwa Sang Pencipta menganugerahkan akal pada manusia bukan hanya sebagai property belaka melainkan untuk di-‘pekerja’-kan terus menerus. Siapa tahu? Lha kita pun tak pernah tahu bukan kenapa kata ‘akal’ tak sekalipun muncul sebagai kata benda «اسم» di dalam al-Qur’ān «القرآن», tetapi berulang kali muncul dalam bentuk kata kerja «فعل»?

Mungkin Laila tak segagah ‘Ā’isha «عائشة‎‎» dalam menggerakkan kerumunan untuk bertarung di medan peperangan. Bolehlah perannya tak sepenting Ḥafṣah «حفصة» dalam berperan menyusun teks al-Qur’an. Bisa jadi segala usahanya tak berdampak banyak laiknya Émilie du Châtelet dalam mengembangkan gagasan.

Walau demikian, Laila tetap menempati kapling permanen dalam kalbu. Tak dapat ditolak bahwa kami dapat berbeda pandangan, tak dimungkiri kadang berlawanan, namun benar salah Laila tetapkah yang laras, panutan yang pantas. Ssemoga keteladanan darinya sepanjang mengayuh perjalanan membuahkan riḍhā Allah selamanya.

K.Jm.Lg.121239.240818.16:37