Pengkhianatan dapat menjadi katalis perubahan dalam hubungan rumah tangga. Sejumlah pasangan mampu bertransendensi pasca-pengkhianatan. Mereka meninggalkan pengkhianatan di belakang mereka untuk menciptakan hubungan yang lebih indah. 

Meminjam istilah dari Esther Perel, psikoterapis yang menangani kasus-kasus perselingkuhan, pasangan-pasangan ini mengalami lahir baru pasca-pengkhianatan.

Empat sikap wujud kematangan

Sejauh yang saya temukan, pasangan-pasangan ini memiliki kematangan tersendiri sehingga tidak jatuh dalam tipe-tipe hubungan di atas. Kematangan ini tampil dalam empat sikap. 

Pertama, tidak melihat pengkhianatan semata-mata hanya sebagai pengkhianatan, melainkan justru sebagai kesempatan untuk memperbaiki hubungan. 

Kedua, tidak berpikiran sempit untuk memandang pengkhianatan dari kacamata moral, tidak mempertanyakan moralitas pengkhianat dan menganggap pasangan yang dikhianati sebagai pihak yang lebih bermoral. 

Ketiga, tidak melihat pengkhianatan sebagai tindak kejahatan dengan pengkhianat adalah pelaku dan pihak yang dikhianati adalah korban. 

Sering kali pihak yang dikhianati terjebak dalam posisinya sebagai “korban”. Tanpa bermaksud mengabaikan luka hati dan kepedihan pihak yang dikhianati, tetapi memosisikan diri sebagai korban dapat menghambat pemulihan hubungan. 

Keempat, menyadari bahwa untuk dapat melewati masa krisis ini, tidak dapat sekadar meminta dan memberikan maaf, melainkan perlu upaya berkelanjutan dari kedua belah pihak.  

Empat bentuk kematangan di atas memungkinkan pasangan untuk melakukan upaya-upaya berikut ini setelah pengkhianatan. 

Pertama, masing-masing pihak tidak saling menyalahkan. Sebaliknya, mereka menerima bahwa meski hanya ada satu pihak yang berkhianat, tetapi masing-masing telah turut andil dalam memburuknya hubungan yang telah mengantarkan salah satu dari mereka pada tindak pengkhianatan. 

Pihak pengkhianat menerima tanggung jawabnya, demikian pula dengan pihak yang dikhianati. Bersama-sama kedua pihak perlu melakukan introspeksi diri, baik sebagai individu maupun pasangan. 

Pasangan perlu melakukan introspeksi terhadap riwayat hubungan mereka, melihat ke masa lalu mengenai perjalanan hubungan mereka, yang telah mengantarkan mereka sampai ke titik ini.

Kedua, pihak yang dikhianati perlu berbesar hati untuk mendengarkan dari pihak lain apa yang sebenarnya mereka cari dari pria atau perempuan lain, apa yang mereka temukan dalam hubungan itu yang tidak ada dalam hubungan mereka. Selanjutnya, bersama-sama, mereka mencari solusi agar apa yang didambakan pasangan dapat terpenuhi dalam hubungan mereka.

Intinya adalah menemukan akar permasalahan agar pengkhianatan tidak kembali berulang. Bukan tidak mungkin akar masalah terletak lebih pada diri sendiri, bukan pada hubungan itu. Ini yang sering kali membuat seseorang dapat berselingkuh meski mencintai pasangannya dan tidak memiliki masalah berarti dalam hubungan mereka.

(Terkait dengan hal ini, dapat dibaca pula: Perselingkuhan, seks atau kebutuhan untuk berkoneksi?)

Ketiga, terkait dengan penemuan diri, kedua belah pihak belajar ‘kembali’ mengenal pasangannya: ketakutan-ketakutannya, kegelisahan-kegelisahannya, kekecewaan-kekecewaannya, mimpi-mimpi, dan harapan-harapannya yang sebelumnya tidak pernah diungkapkan atau mungkin sudah tidak lagi sama dengan dahulu. 

Kedua belah pihak perlu mendengarkan perasaan-perasaan pasangan dan berani mengungkapkan perasaan-perasaannya sendiri. Sering kali tahap ini menjadi krusial karena akan terungkap hal-hal yang sebelumnya mungkin tidak diketahui, tetapi wajib diketahui sebelum memulai lembaran baru.

Tahap ini bisa jadi lebih mengguncang dibandingkan pengkhianatan itu sendiri. Bayangkan suami yang mengatakan bahwa ia ternyata memiliki kecenderungan sadomasokis. Karena tidak ingin menyakiti istrinya, ia melakukannya dengan perempuan lain. 

Atau istri yang terfiksasi dalam hubungannya dengan ayah sehingga sering tergoda tiap kali menemukan pria simpatik yang berumur. 

Ada pula pasangan yang mengaku bahwa ini bukanlah pengkhianatannya yang pertama kali, bahwa ia memang tidak dapat setia karena memang ada persoalan diri yang jauh di luar kendalinya (hal ini akan saya bahas lebih lanjut dalam kesempatan lain).

Tahap ini menjadi genting karena pasangan kembali dihadapkan pada pilihan: menerima pasangan dan bersama mencari jalan keluar untuk masalah aspek diri ini atau merasa bahwa ini ‘terlalu banyak’ dan tidak mampu lagi menerima semua ini. 

Bahkan meskipun tidak ada masalah diri yang kompleks seperti contoh di atas, tidaklah mudah mendengarkan keluh kesah pasangan kita. Tetapi dapat pula kita memaknainya secara berbeda bahwa acara sharing ini menjadi menarik, penuh kejutan, dan menggairahkan. 

Diskusi ini memungkinkan kita menemukan sisi-sisi lain yang berbeda yang selama ini tidak kita kenali dari pasangan kita dan bahkan dari diri sendiri. Sering kali dengan percakapan semacam inilah kita jadi mengenali diri sendiri dan menemukan diri yang sesungguhnya.  

Keempat, kedua pihak menerima bahwa hubungan tidak dapat kembali seperti semula dan bahwa pengkhianatan tidak dapat dibatalkan. Sebaliknya, mereka memahami memang tidak seharusnya kembali seperti semula, karena justru hubungan yang sebelumnyalah yang telah mengantarkan keduanya pada krisis ini. 

Selanjutnya, kedua belah pihak mempersiapkan diri untuk menciptakan hubungan baru, membuat harapan-harapan baru, dan mengonkretkan langkah-langkah yang akan dijalani. 

Termasuk dalam tahap ini adalah mendefinisikan apa yang dimaksud dengan kesetiaan bagi masing-masing pihak dan sejauh mana kedua pihak dapat menoleransinya. Keduanya perlu menetapkan batas-batasnya.

Satu hal lain yang perlu ditambahkan juga adalah pentingnya mendengarkan pasangan sepanjang proses diskusi dan introspeksi ini. Masing-masing perlu mendengarkan sudut pandang pasangannya terhadap semua hal yang sudah terjadi sebelumnya. 

Jadikan diskusi ini benar-benar sebagai kesempatan untuk belajar memahami dan menerima. Kedua pihak perlu menyingkirkan ego masing-masing, membuang jauh kecenderungan manusia yang meyakini bahwa pendapatnya yang benar. 

Mudah untuk menuliskan semua ini, tetapi tentu tidak mudah dilakukan. Tetapi sama sekali bukan hal yang tidak mungkin. Dengan kedewasaan, kebesaran hati, niat yang kuat, dan upaya yang gigih dari kedua belah pihak, pasangan-pasangan sungguh dapat bertransendensi dan mengalami lahir baru pasca-pengkhianatan.

Catatan: Lahir baru pasca-pengkhianatan adalah sebuah proses. Sebagai manusia, kita tidak akan serta-merta menampilkan sikap-sikap penuh kedewasaan ini begitu mengetahui suami/istri kita berselingkuh. 

Mereka yang tidak setia juga tidak semudah itu baginya meninggalkan perempuan atau laki-laki lain yang dengannya ia mungkin sudah menjalin hubungan serius. 

Pasca-pengkhianatan, kita pasti terluka, kecewa, marah, merasa bersalah, tidak berdaya, dan lain sebagainya. Ini adalah normal. Emosi-emosi negatif ini bahkan sangat perlu dialami, dirasakan, dan dinikmati sebelum pada akhirnya kita mampu memberikan ruang di hati kita untuk cinta yang baru, bersama pasangan yang telah lahir baru.