Tekanan bullying ibarat virus yang dapat menyerang dan merusak sel-sel dalam tubuh, sehingga diperlukan kehadiran pendidik yang dapat memberi panacea.

Pada Februari 2020, beredar sebuah video tentang seorang pelajar berusia 9 tahun bernama Quaden asal Queensland, Australia, yang akhirnya menjadi viral di kalangan netizen.

Bagaimana tidak, dalam video itu, Quaden menangis sambil berkata terus terang kepada ibunya bahwa ia ingin mati. Dalam keterangan singkat kepada ibunya bahwa ia di-bully oleh teman-temanya karena kondisi tubuhnya yang pendek.

Quaden memang terlahir dengan kondisi achondroplasia yang membuat tubuhnya kerdil (dwarfisme). Ia mengalami gangguan pertumbuhan tulang sehingga tinggi tubuhnya berada di bawah rata-rata. Kondisi itu membuat ia kerap kali menjadi objek bully teman-temannya di bangku sekolah.

Akibat insiden yang memilukan ini, Bayles yang adalah Ibu dari Quaden memilih mengeluarkannya dari sekolah dan mempertimbangkan kemungkinan tentang home schooling.

Terkait video, ini telah disaksikan 4 juta kali. Bayles dibanjiri dukungan dari publik sekaligus menerima banyak kritik pedas karena membagikan video yang memilukan tentang anaknya. Namun Bayles bersikeras untuk tidak menghapusnya agar bisa menunjukkan kepada banyak orang bagaimana dampak bullying terhadap anaknya.

Insiden ini memberi bukti nyata pada kita semua bahwa begitu rapuhnya sistem ketahanan moral dalam lingkungan sekolah. 

Sebuah studi dari Make Bullying History Foundation di Australia menemukan satu dari lima pelajar menerima bullying setiap pekan. Sementara di tanah air, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat dalam kurun waktu 9 tahun. Dari 2011 sampai 2019, ada 37.381 pengaduan kekerasan terhadap anak. Untuk bullying, baik di pendidikan maupun media sosial, angkanya mencapai 2.473 laporan dan trennya terus meningkat.

Komitmen pengakuan dan perlindungan terhadap hak atas anak telah dijamin dalam UUD 1945 Pasal 28B ayat (2), menyatakan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. 

Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan anak telah banyak diterbitkan, namun dalam implementasinya di lapangan masih menunjukkan adanya berbagai kekerasan yang menimpa pada anak, antara lain adalah bullying.

Bullying (dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai “penindasan/risak”) merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu orang atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, dengan tujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus-menerus.

Bullying dapat dikelompokkan ke dalam enam kategori. Kesatu, kontak fisik langsung, seperti tindakan memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang yang dimiliki orang lain. 

Kedua, kontak verbal langsung, seperti tindakan mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip.

Ketiga, perilaku non-verbal langsung, seperti tindakan melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya disertai oleh bullying fisik atau verbal. 

Keempat, perilaku non-verbal tidak langsung, seperti tindakan mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng.

Kelima, cyber bullying, seperti tindakan menyakiti orang lain dengan sarana media elektronik (rekaman video intimidasi, pencemaran nama baik lewat media sosial).

Keenam, pelecehan seksual di mana tindakan pelecehan dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal.

Malatuny (2017) menjelaskan, bullying kian merajalela di antara anak bangsa dan sangat disayangkan jika terus dibiarkan merusak potret pendidikan kita. Bullying merupakan tindakan yang tidak terpuji karena mengandung kekerasan. 

Tekanan bullying ibarat virus yang dapat menyerang dan merusak sel-sel dalam tubuh, sehingga diperlukan kehadiran pendidik yang dapat memberi panacea (obat mujarab) untuk mencegah dan menanggulangi perilaku dimaksud.

Astuti (2008) menegaskan, salah satu faktor penyebab perilaku bullying adalah situasi sekolah yang tidak harmonis atau diskriminatif. Sekolah yang semestinya menciptakan keamanan dan kenyamanan agar para pelajar dapat mengembangkan kecerdasan dan membentuk akhlak mulia malah berubah menjadi tempat kekerasan yang dilakukan dengan sengaja di antara para pelajar.

Sementara menurut penjelasan Jasra Putra, anggota Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak, bahwa bullying dapat terjadi karena anak sudah yang terbiasa menyaksikan cara kekerasan sebagai penyelesaian masalah. Artinya, mereka tidak pernah diajarkan cara menyelesaikan masalah dengan baik, bahkan memandang kekerasan sebagai cara penyelesaian.

Menjadi perhatian serius bagi lembaga sekolah dengan berbagai kebijakan yang memengaruhi aktivitas, tingkah laku, dan interaksi pelajar. Rasa aman dan dihargai merupakan dasar pencapaian akademik yang tinggi di sekolah.

Jika hal itu tidak dipenuhi, maka pelajar akan bertindak mengontrol lingkungan dengan melakukan tingkah laku anti-sosial seperti melakukan bully. Manajemen dan pengawasan disiplin sekolah yang lemah juga mengakibatkan munculnya bullying di sekolah.

Kebiasaan yang tidak terpuji ini tentu merusak akhlak mulia setiap pelajar, sehingga diperlukan penanganan khusus dari lembaga sekolah melalui beberapa cara; Kesatu, merancang dan membuat desain program pencegahan yang berisikan pesan kepada murid bahwa perilaku bully tidak diterima di sekolah. Dengan kata lain, membuat kebijakan “anti-bullying”.

Kedua, membangun komunikasi efektif antara pendidik dan peserta didik, berdiskusi dan ceramah mengenai perilaku bully di sekolah. 

Ketiga, menciptakan suasana lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan kondusif. Keempat, menyediakan bantuan kepada pelajar yang menjadi korban bully dan melakukan pertemuan berkala dengan orangtua atau komite sekolah.

Mari kita jadikan sekolah sebagai wahana yang dapat menjamin keamanan dan kenyamanan bagi setiap generasi bangsa agar mereka belajar segala hal yang baik-baik, terlebih lagi mencegah agar iklim moral sekolah tidak tercemar oleh virus bullying.