Arsiparis
2 bulan lalu · 63 view · 2 menit baca · Puisi 37052_74872.jpg

Labirin Asali

Pencarian

Dalam bimbang sedih dan pilu
Satu-satu kumpul menumpuk
Tinggi-tinggi menjulang entah
Sampai di mana semua
Ada rindu yang menumpuk
Ada cinta yang terbakar
Ada hasrat yang terikat
Ada harapan yang tersimpan rapat
Kadang kala jatuh
Bangun dan jatuh lagi
Terus dan terus berlari
Hingga tak lagi mempunyai arti
Kucari kau kemana mana
Ke hutan-hutan di seberang sana
Ke gua-gua di negeri tetangga
Akhirnya kudapatkan kau dalam asa

Waktu

Waktu adalah saksi berjuta peristiwa
Dari zaman Adam hingga kini
Telah dilaluinya ribuan kilo sejarah
Bahkan mungkin ribuan tahun cahaya

Adalah waktu yang menjadi saksi
Bagi setiap kebohongan yang dilakukan manusia
Sayang manusia tak menyadarinya
Hingga waktu terpaksa menghenikannya

Kemarau, Panas, dan Keringat

Dua belas siang adalah perjuangan
Melawan panas terik matahari
Kemarau pun demikian adalah
Perjuangan petani dalam mencari hutang

Panas adalah nyawa bagi pelaut dalam
Mengarungi gelombang kehidupan
Yang menebarkan aroma uang
Di setiap hempasan air asinnya

Keringat adalah bunga yang bersemi
Yang siap dipelihara
Agar dapat dipanen
Di setiap akhir kerja

Menjadi Tua

Menjadi tua adalah kewajiban
Bukan diinginkan tapi mesti dijalankan
Menjadi tua adalah beban
Bagi si muda yang berhati arogan
Menjadi tua haruslah bijak
Agar diterima sang pengikut jejak

Purnama

Bulan purnama yang terang
Kini hilang ditelan sinar lampu nan gemilang
Bulan purnama yang terang
Indahmu hanya di daerah yang tak bertuan
Bulan purnama yang terang
Bagai lebaran di masa anak-anak malam
Bulan purnama yang terang
Sinarilah malam-malam panjang penantian

Ada Seribu Puisi

Ada seribu puisi di hati
Yang berisi tentang suasana hati
Ada seribu puisi dibaca
Lewat mulut indah penyairnya
Ada seribu puisi dicampakkan
Oleh si buta dan si tuli peradaban
Namun ada satu puisi terpatri di hati
Tentang cahaya-cahaya Ilahi

Ilmu Adalah

Ilmu adalah matahari
Menyinari siapa saja
Baik muslim maupun non muslim
Semua menerima panasnya

Ilmu adalah lautan
Diarungi berbagai jenis insan
Kafir atau bukan
Asal bersampan semua sampai tujuan

Ilmu adalah ilmu
Bukan hitam bukan putih
Apalagi abu-abu
Karena dia adalah warna itu sendiri

Hari-Hari

Hari-hari adalah siang sore dan malam
Hari-hari adalah waktu yang berputar duapuluh empat jam
Hari-hari adalah penantian panjang
Kapan tiba hariku yang terakhir berbilang

Lahir

Ada yang lahir di hari ini
Tangisnya bergema di lembah-lembah kehidupan
Semua berkumpul menyambutnya
Menunjukkan suka duka dunia

Ada yang tertawa menyapa
Ada pula yang menangis bahagia
Namun ada satu yang menjerit
Bayi yang kaget melihat wajah dunia

Dalam tangisnya ada sejuta Tanya
Tentang dunia yang fana
Tentang tanggung jawab yang diterimanya

Insan Kamil

Oh, kau yang rendah hati
Kau sudah tiba di tempat tertinggi
Tapi kau minta turun kembali
Oh, kau yang bijaksana
Yang dijanjikan istana surga
Tapi masih mencoba meniti tangganya
Oh kau yang terpercaya
Yang tak sanggup berkata dusta
Walau pada orang yang tuli serta buta
Oh kau sang pemberi teladan
Aku rindukan kamu
Sampai tiba waktuku

Semua Mendekat

Lewat tangisan pertamanya ia sambut jalannya
Semakin lama semakin dekatlah ia
Tak peduli aral menghampiri bertubi-tubi
Semua yang bernyawa pasti akan berserah diri
Hingga pada satu titik kata pasti
Tak kuasa ia tolak tak daya ia minta segera

Kepada Hujan, Halilintar, dan Air

Kepada hujan aku titipkan rinduku
Yang dingin beku membiru
Bersama langit malam yang kelabu
Kepada halilintar aku ucapkan cinta
Agar disampaikan pada sang juwita
Yang sedang lelap terlena
Kepada air aku titpkan harapan
Agar turun membasahi hati
Yang kering tak terperi


Ketiadaan

merawat usia terlena fana
hampa dalam ramainya dunia
menjemput nafas tersisa
ringkih menyendiri ramai dalam sepi
ada sapa malaikat di ujung langit langit
menjemput waktuku dibawanya berlalu
menjadi rindu pada kehampaan abadi

Labirin Asali

melingkar lingkar berpelangi
pada ruang kosong tak berbatas
dieja dengan relativitas
terbaca bagai selintas cahaya
kembaliku untukmu
menyatu dalam ada yang tiada

Artikel Terkait