Ada apa? Pertanyaan yang kerap mencuat menanyakan sosok La Pulga (julukan Lionel Messi) ketika harus berseragam Albiceleste (Putih-Biru). Ya, La Pulga sering disodori pertanyaan demikian, karena adanya pembeda yang sangat kentara. Karena kala dengan kostum Biru-Merah, warna kebanggaan klub Barcelona, La Pulga tampil superior. 

Buktinya, enam Ballon d’or berhasil dalam genggaman plus catatan apik sebagai El Pichichi (top skor) dalam beberapa edisi di La Liga. Belum lagi sederet prestasi bersama El Barca di La Liga maupun kejuaraan di Eropa. Namun kondisi itu berbalik 180 derajat ketika pemain jebolan akademi La Masia ini berbaju timnas.

Messi kurang menggigit, ketika mengenakan seragam Putih-Biru. Lakonnya pun bak api jauh dari panggangan. Bahwasannya pemain paling top di Argentina pasca era sang legenda hidup sepakbola Argentina, Diego Armando Maradona seperti belum bisa meneruskan kenangan manis si ‘Tangan Tuhan’. Ketika legenda bola dunia yang telah tutup usia itu berhasil menyegel trofi piala dunia menjadi milik Argentina.

Ibarat kutukan yang medera. Messi tak bisa beranjak dari yang namanya spesialis runner-up. Terus menggelinding dengan bola, namun hasilnya tetap sama. Di awali Piala Dunia 2014 di Brasil, Argentina harus puas mengantongi medali perak, pasca tumbang dari De Panzer, Jerman.

Selang setahun, plot-nya juga sama. Kali ini, di laga pamungkas Copa America 2015. Lagi-lagi, La Pulga cs hanya menempati posisi runner-up, kalah dari Chili selaku tuan rumah. Dan, kutukan tuk menggondol trofi dengan timnas seperti masih belum berakhir. Edisi khusus, atau centenary alias perayaan 100 tahun, Argentina kembali bertemu lawan yang sama.

Edisi khusus ini dihelat di Amerika Serikat. Seperti ini, alur ceritanya pun tak berbeda. Lionel Messi, Masche (Mascherano), dan Aguero dengan terpaksa harus mengernyitkan dahi, mereka kalah di adu tos-tosan, dengan skor 2-4. Sementara Vidal, Sanches, dan Claudio Bravo bisa tertawa semringah.

Inilah La Pulga yang kita tahu bersama. Pemain dengan segudang prestasi di level klub, bahkan dijuluki ‘alien’ oleh banyak orang, tapi seperti melempem kala membawa nama timnas. Kondisi Messi ini pun bak dikutuk dengan absurditas sama halnya Sisifus, di cerita mitologi Yunani.

***

Mitos Sisifus adalah sebuah esai filsafat karya Albert Camus. Cerita dalam bahasa Prancis yang dilabeli judul Le Mythe de Sisyphe. Diceritakan Sisifus merupakan seorang raja para dewa dari mitologi Yunani. Ia dipuja dan disembah-sembah, entah dari kalangan manusia maupun rekan para dewa.

Hingga suatu ketika, sang raja pun berusaha untuk memusnahkan Dewa Maut bersama dewa lainnya. Dan niat buruk Sisifus bertujuan agar keabadian itu dimiliki oleh siapa saja. Membangun tipu muslihat untuk menangkap Dewa Maut, tapi justru Dewa Maut berhasil kabur.

Singkat cerita, ia dihukum untuk hidup selamanya di bawah tanah. Akan tetapi hukuman Sisifus tak sampai disitu. Raja yang dilengserkan ini, harus menjalani hukuman tambahan. Sisifus wajib mendorong bongkahan batu raksasa menuju ke permukaan bumi hingga akhir masa.

Kesialannya pun tak berakhir, karena tiap kali Sisifus mendorong batu itu ke atas, namun tiba-tiba batu itu kembali meluncur turun. Cara ini terus, dan terus dilakoninya secara berulang-ulang. Suatu absurditas!

Kondisi ini pula ibaratnya dialami Messi. Seperti dibebani ‘hukuman’, La Pulga harus terus mendorong timnas-nya agar bisa menggapai puncak. Dan, seperti itu hingga saat ini belum sekalipun puncak kejuaraan yang berhasil digapai El Messiah bersama timnas di level senior.

Meski bedanya Messi dan Sisifus, jika Sisifus sudah menjadi hukuman yang bersifat abadi, tapi La Pulga setidaknya memiliki kesempatan dalam beberapa fase kejuaraan bersama timnas. Tapi ingat, itu pun sudah tak akan lama, karena usia terus beranjak!

Dan terdekat saat ini, Copa America 2021 yang tengah dihelat di Brasil. Sempat mengundang kekuatiran di laga pembuka fase grup, karena bermain imbang ketika berhadapan dengan musuh bebuyutan Chili. Argentina hampir dipastikan lolos ke perempat final setelah menang lawan Uruguay, dan mempecundangi Paraguay. Peluang lebih terbuka, karena lawan berikutnya adalah Bolivia, tim penghuni dasar klasemen.

Inilah momen kesempatan bagi La Pulga untuk menghapus ‘kutukan’ tak bisa menggondol titel mayor bersama timnas. Meski bicara sepakbola, kolektivitas menjadi patron utama. Tanpa itu, sehebat apa pun seorang pemain, harus diingat, ia hanyalah seorang manusia.

Di mana sosok manusia adalah makhluk yang paling kompleks. Karena acap kali dibebat kekuatiran, keresahan, kegundahan dan kelemahan. So, dukungan para pemain lain, dan strategi moncer sang pelatih akan menjadi keyword utama. Maka dari itu, jangan biarkan La Pulga seorang diri terus menggendong timnas itu sendiri. Karena harus diingat, ia tetaplah seorang manusia.

Kesimpulannya? kerjasama, dan bersama bekerja membangun tim itu yang terpenting. Karena permainan yang terpusat hanya pada seorang Messi, maka niscaya kata menang sangat sulit tuk dicapai, dan buatlah Sang Messiah tetap gembira. Viva Albiceleste!