La La Land baru saja menerima karmanya karena menipu penontonnya dengan epilog manisnya yang penuh muslihat. Pada pergelaran The Academy Award ke-89, semua penerima Piala Oscars secara mengensankan telah mencatatatkan dirinya sebagai bagian dari sejarah panjang perfilman Hollywood-yang tiada matinya.

Bukan hanya itu, insiden di puncak acara tak kalah historikalnya, kesalahan fatal dari panitia menjadikan tontonan yang sangat menghibur bagi kita (atau barangkali hanya saya) yang sudah begitu lelah dengan propaganda agama bercampur baur dengan politik di dalam negeri.

La La Land sendiri, secara personal, adalah film yang begitu magis. Hal ini terjadi karena film ini seakan begitu familiar dengan hidup saya-ya barangkali saya saja yang terlalu menyambung-nyambungkan.

Film ini bercerita mengenai dua orang yang sama-sama mengejar mimpinya (diperankan secara apik oleh Emma Stone dan Ryan Gosling) dibalut dengan suasana kota yang di beberapa bagiannya sengaja ditampilan artifasial dan gambaran-gambaran kehidupan yang kadang rewel dan tak mau diajak bekerja sama. Kesemuanya diramu dengan tarian dan lantunan Jazz yang menciptakan emosi yang begitu berfrekuensi dan bergelombang.

Mengapa saya memilih untuk menceritakan La La Land, padahal ada begitu banyak film yang masuk nominasi The Oscars 2017 dan tentunya film dalam negeri kita yang sedang bangkit juga. Bukan untuk ajang pendakian saya di tangga sosial, ini lebih kepada pesan yang saya tangkap di dalam film, yang bagi saya sangat relevan bagi anda yang saat ini roda kehidupannya sedang (diusahakan) merangkak naik.

Bagi saya, film ini ingin menggambarkan bahwa memang hidup itu butuh perjuangan dan kita perlu berjuang untuknya. Sesederhana itu memang, namun perlu komitmen yang nyata di dunia nyata. Bahkan, di dunia nyata kita, sang penari yang mengejar mimpinya tidak bisa menari setiap waktu dan dimana-mana ketika sedang bersenang diri atau bahkan bersusah hati.

Atau si penyanyi yang juga sedang dalam pertarungan mengejar mimpi bisa seenaknya bernyanyi di tengah kemacetan dan tiba-tiba ada berbagai banyak orang yang datang ikut bernyanyi dan menari bersama. Menyenangkan memang sejenak berkhayal bersama durasi film, namun juga kadang hal ini menampar.

Film ini sebenarnya menampar setiap fresh graduate yang sedang berusaha mewujudkan berbagai hal yang belum selesai atau bahkan belum dimulai dari hidupnya. Ambil saja contoh mahasiswa lulusan terbaik di sebuah Universitas cukup mentereng, memiliki mimpi merantau ke luar negeri dengan berbekal beasiswa program master di kantong.

Bagi kita yang tidak pernah hidup di dalam tubuh dan pikirannya, barangkali akan beranggapan bahwa dia akan mudah untuk menggapainya. Namun, hidup menawarkan sejuta kejutan, kadang perjalanan menggapai mimpi tidak bisa melalui jalan tol. Sehingga beberapa rintangan dihadapi oleh si mahasiswa lulusan terbaik tersebut hingga akhirnya mengharuskannya untuk redesign segala hal untuk ambisinya.

Anggap saja rintangannya hanyalah sekedar waktu dan mendaftar, namun hidup masih saja menawarkan beban. Ketika teman sejawat sudah bergaji dan beberapa yang bermimpi sama malah sudah melepas mimpinya untuk menelan pil pahit kehidupan, realistis, dan meninggalkan orang-orang yang masih berjuang dibawah panji-panji mimpi, sendiri. Di situlah si pemimpi kadang kala merasa seperti badut.

Ya, badut. Badut yang ketika badut-badut lain sudah menghapus tata rias diwajah dan berganti kostum dengan seperangkat pentalon. Tentu badut tersebut akan menjadi pelawak handal bagi bakas-bekas badut yang lain dan ditertawakan dengan mudah. Karena hanya dia yang masih bergurau dengan kehidupannya.

Dalam psikologi, ada yang dikenal dengan Fear of Mising Out (FOMO). FOMO yang menimbulkan rasa cemas dan gelisah atau bahkan ketakutan terhadap perasaan ketertinggalan. Hantu inilah yang sering hinggap dan bergentayangan di pikiran para pengejar mimpi.

Mereka yang memerlukan waktu untuk sekedar memecahkan stigma di lingkungannya, akhirnya menggugurkan mimpinya untuk terbang jauh menembus awang-awang hanya karena takut dan lelah diserbu pertanyaan-pertanyaan "kok masih nganggur?" "kok ngga ada usaha?" dan lain sebagainya.

Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan adik tingkat saya di perkuliahan. Ia sedang sibuk dengan tugas akhirnya yang tiada berakhir. Terakhir bertemu dia berujar ingin mendobrak stigma macam diatas di daerahnya dan terbang ke Korea dengan beasiswa (bukan 'hanya' untuk bertemu artis idolanya tapi untuk mengejar gelar master).

Namun seribu namun, ada yang berbeda hari itu, dia tak lagi sesumringah biasanya ketika berbincang mengenai mimpi. Dia bertutur bahwa dia sudah merelakan mimpinya ikut larut bersama keikhlasannya untuk tidak kemana-mana. Ketika ditanya mengapa, jawabnya karena dia takut akan dunia sehabis lulus.

Mimpi tak harus mengenai program master ataupun beasiswa, ada pula teman yang bermimpi untuk mendapatkan pekerjaan impiannya dan keok dimakan realitas. Namun ada pula yang masih segar bugar, tegak bak pohon nyiur yang menantang angin yang ingin merobohkan semangatnya.

Dari pengalaman-pengalaman inilah saya kemudian mengerti, betapa banyak anak-anak Indonesia yang tidak sanggup lagi memvisualisasikan mimpinya dan menyerah, merubah haluan atau bahkan melupakan keingin untuk berguna pada banyak orang. Hal tersebut tidak egois bagi saya, semua adalah pilihan dan tidak semua menyerah adalah salah dari si penyerah. Ada begitu banyak faktor yang harus dipertimbangkan, termasuk omongan orang.

Namun juga saya melihat Anggun, maklum bunda saya sangat mengidolakannya, ia adalah salah satu manusia Indonesia yang ternyata berhasil menembus awang-awang itu. Umur 19 tahun ketika sudah terkenal dan memiliki perusahaan rekaman sendiri, ia berujar untuk menjual semuanya dan pergi bertualang di tengah-tengah gurun kehidupan yang ganas.

Tidak mudah memang, namun jika sekali saja Anggun berpikir untuk menyerah kala itu, maka habislah sudah semua. Kemudian, usaha berkata lain, ia sukses dan berhasil mendapatkan apa yang ia mau (dengan bonus proses yang panjang dan melelahkan).

Ada begitu banyak orang-orang seperti Anggun, ia hidup dengan mata khalayak ramai yang selalu menyorot kepadanya, semua karena pencapaian hidupnya yang ternyata tak semua orang sanggup. Sama hal dengan La La Land yang menggambarkan tokohnya sempat menyerah dengan keadaan dan merelakan semuanya berakhir sia-sia.

Namun, film akan langsung tamat dan tidak ada pesan moral berarti jika segampang itu ia menyerah. Bangkit sehabis terjatuh, barangkali adalah proses paling berat dan menyayat, karena yang dilawan adalah diri sendiri.

Ini seakan refleksi bahwa bermimpi saja adalah sebuah risiko, apalagi mewujudkannya. Saya membayangkan, ada begitu banyak anak di setiap sudut Indonesia, yang barangkali untuk berani bercita-cita sudah menasbihkan diri sebagai orang tidak waras yang terlalu banyak bermimpi. Atau fresh graduates yang saat ini masih bertarung dengan diri sendiri untuk memilih menerima jalan paling cepat tanpa rintangan atau hidup mengejar mimpi dengan konsekuensi babak belur.

Akhir cerita La La Land, kedua tokoh yang bermimpi sengit itu berhasil meraih mimpinya dengan cara dan jalan yang berbeda-beda. Tidak ada dramatisir yang berlebihan, namun filmnya dapat menyentuh lebih banyak dari film yang menjual tangisan dan melankoli. Itulah yang saya sebut magis.

Damien Chazelle, dengan umurnya yang masih 32 tahun, sang peramu film ini berhasil mengangkat sisi-sisi perjuangan dan proses yang sebenarnya sudah sering terpapar motivasi, namun ia melakukannya dengan cara berbeda, dengan musik dan tarian.

La La Land mengambarkan mengerjar mimpi adalah sebuah pesan untuk diri sendiri agar mau bersabar dan berproses. Film ini juga menjelaskan, bahwa tidak perlu terlalu terseok-seok dalam proses itu, nikmati saja segalanya, termasuk kegagalan.

Percayalah berani bermimpi dan melangkahkan kaki untuk mewujudkannya, sudah menjadi pencapaian yang patut dibanggakan dihidup anda. Memang kadang disela-sela mewujudkan mimpi, kita perlu untuk menari dan bernyanyi, tanpa alasan yang jelas bila perlu, bukan untuk menanggalkan kewarasan, namun untuk merawatnya.

Selamat bermimpi dan mewujudkannya.