Pernikahan Cinta

Mengapa kau ribut
Menyeretku
Ke altar gereja itu
Tidakkah kau tahu
Dia, aku, telah menikah
Di pantai kala itu
Alam menjadi altarNya
Dia, aku, diberkati
SuaraNya hadir dalam deru ombak
CahayaNya dalam kerlip bintang 

Singkirkan gaun itu, Tuan
Dia, aku, suami istri
Dalam pakaian terindah
PemberianNya 

Kami merayakan cinta, Tuan
Bukan ikatan
Kami tidak butuh ikrar
Cinta kami telah menyatukan
Tidakkah kau tahu, Tuan
Tuhan hadir dalam tiap elemen ciptaan 

  

Prasasti

Di antara berjuta malaikat
Dengan sayap-sayap terkepak
Dalam keabadian cerita ribuan jiwa
Mereka yang terbaring dalam gelap makam
Kisah yang belum usai
Ambisi setengah tercapai
Dendam yang mereka punya
Derita yang pernah menyapa
Bahagia yang hinggap sementara
Dalam cinta yang tak sampai
Gairah tak henti menyala

Tersenyum mereka di sisi nirwana
Gelisah mengintip celah neraka
Jadi saksi gundah gulana
Rasa yang menyeruak
Meresap dalam lara yang sesak
Dalam tanya beribu keraguan
Dalam perih luka kebohongan
Abadi tanpa tali mengikat

Rumput merah jambu
Prasastiku,
Akankah kau teguh
Kirimu atau kananku selalu?


Hanya kita yang tahu

Apa yang aku katakan kepada mereka, tidaklah benar
Mereka tidak tahu tentang diriku
Tentang dirimu
Tersembunyi jauh di lubuk kalbu
Sepanjang waktu bayangi hariku

Mereka bertanya padaku
Di mana kau, siapa dirimu
Aku ceritakan tentangmu
Dengan imajiku
Jadikanku  tercela, cacat, tak setia
Tuk tutupi  cerita pilu kau dan aku

Satu kali aku pergi dengannya
Lain waktu aku di sampingnya
Mereka heran, tak mungkin paham
Itu kewajiban, itu desakan
Kutengok kau di hatiku
Tersenyum lembut,
Pintaku bersabar

Hanya kita yang tahu
Cintamu membungkus diriku
Kau ada bersamaku
Dalam tiap detak nadiku
Meski tiada yang dapat melihatmu


Bila Saatnya

Aku duduk di pangkuan rembulan, melihatmu sedang termangu
Kau angankan diriku, wangi kasihmu tercium sampai penuh rongga dadaku
Aku terselimuti dekapan hangat aura semesta di seluruh tubuhku
Titik demi titik tergetar, menatap tetes-tetes air matamu

Aku terguncang dalam rindu haru menggebu milikmu untukku
Benamkan kepala mungilku dalam peluk tubuh ringkihmu
Kurasakan tulang-tulangmu berbalut lembut rasa sucimu
Jemarimu belai helai rambutku, temani desah berpadu pekat nan indah

Kita terisak dalam beratnya sebuah nama,
Dalam beban yang kita lekatkan pada anak-anak kita,
Pada ayah bunda nun jauh di sana
Dalam norma bentukan manusia tak sempurna
Dalam dogma yang mencatut gelarNya

Bukan Dia mempersatukan kita,

Kita memaksanya atas nama keinginan berlabel cinta

Biar di sini dulu beberapa detik lebih lama..
Menunggu Dia rekatkan, dalam inginNya, dengan murni hatiNya
Bahkan maut tak dapat memisahkan kita..

 

Mati Bersamamu

Senja ini di makammu
Aku datang padamu, kekasihku
Berjuta sesal  menghantamku
Beribu maaf kutabur dalam pedihku

Terngiang ucapmu kala itu
Di tengah sedu sedanmu
Ratapi lukamu
Sembilu kutusuk di jantungmu
Kau cabut dengan pilu
Kutusuk lagi hingga membiru
Susah payah kau singkirkan itu
Aku basuh dengan cintaku,
Cinta yang merobek hatimu
Sampai kutancapkan kembali
Di tempat yang sama
Kau dulu meronta
Di tempat yang sama
Kau pancarkan cinta
Kau beri padaku
Tanpa pamrih, seutuhnya

Aku tak tahan lagi
Katamu siang itu
Kala terik membungkus tubuhmu
Aku letih, jeritmu
Airmatamu basahi dadaku
Kupeluk kau dengan sungguh
Saat itu kutahu
Kau telah membeku

Senja ini di makammu
Aku datang padamu, kekasihku

Bawakanku setangkai mawar merah,
Cinta kita penuh gairah
Setangkai mawar putih,
Cinta kita yang suci,
Gambar sang putri
Dalam aura balerina
Kucintai sama dengan rahimku
Kau cintai sama dengan diriku

Letakkan itu,
Letakkan semua tanda cinta kita
Di makamku
Itu katamu malam itu
Saat kuterlelap di sisinya

Senja ini di makammu
Aku datang padamu, kekasihku
Tuk mati bersamamu


Di Sisi NirWana

Aku ingin melihat ibu, ayah
Kakak,  adik,
Dan putri kecil nan jelita
Dari sini, dengan mata terbuka
Senyum tulus
Semanis air surga

Aku ingin melihatmu
Kekasih jiwa
Pemilik abadi rasa terindah
Kutabur melati selimuti dirimu
Hangatkan tubuhmu dalam kepak sayap lembutku
Setiap hari di sisimu
Menjagamu, lindungimu
Ciumi harum nafasmu
Bisikkan kata
Hanyutkan kau
Dalam aroma kopi tegukan pertama

Aku menatapmu dari hamparan awan
Jangan sesali, jangan tangisi
Kan ku hampiri tuk raih jemarimu
Hapus air matamu
Kita kan berdansa dalam desah maut nan indah
Bercinta dalam temaram malam
Di tengah lelap tidurnya

Jika fana dunia tak mampu satukan kita
Kutunggu kau di sisi nirwana