Albert Camus adalah seorang sastrawan, seniman, wartawan sekaligus filsuf yang terkenal. Beberapa novel telah dia hasilkan. Salah satu novel yang sempat menjadi perbincangan dan dianggap relevan dengan kondisi hari ini adalah novel yang berjudul La peste (Sampar), terbit pada 1947.

Banyak ulasan terkait novel tersebut yang berusaha mengaitkan kejadian pandemi Covid-19; wabah sampar yang dianggap memiliki kesamaan dengan Covid-19. Beberapa penulis berusaha menyejajarkan dengan situasi penyebaran pandemi hari ini.

Akibat dari hal tersebut, dilansir dalam The Guardian, di Inggris, penjualan buku La Peste melonjak tajam sampai di angka 2.156 pada awal Maret 2020. Selain itu, The Guardian juga mencatat 1.504 buku terjual per minggu dengan pembaca generasi muda.

Membaca ulasan yang mengaitkan antara novel dan kejadian hari ini memang menarik. Puluhan ulasan saya dapati dan tentunya mempunyai beragam intepretasi.

Saya tentunya tidak berusaha mengulas lagi hal tersebut. Karena sudah banyak yang berusaha mengulas novel dan mengaitkannya dengan kejadian hari ini. Justru dalam cerita Camus yang lain saya menemukan satu hal yang layak untuk kita jadikan refleksi kondisi hari ini. Sebuah cerita legenda Sisyphus yang datang dari mitologi Yunani Kuno. Seorang raja Sisyphus dari kerajaan Efira yang licik dan tamak yang menerima kutukan yang luar biasa. 

Hal tersebut disebabkan oleh berkali-kali ia membangkang terhadap dewa, berbuat hal-hal mengerikan kepada rakyatnya, serta yang paling besar dosanya adalah membocorkan rahasia Dewa.

Sisyphus dilempar ke dalam neraka. Dalam kutukan tersebut, dia terus-menerus mendorong sebuah bongkahan batu besar ke atas puncak bukit. Setelah sempat merasakan kelegaan sedikit saat di puncak, batu besar itu menggelinding kembali ke kaki bukit. Karena dikutuk oleh obsesinya untuk mendorong batu, ia lakukan pekerjaan tersebut terus-menerus berkali-kali tanpa boleh berhenti.

Sisyphus lebih menganggap hukumannya adalah kesenangan. Sesuatu hal yang aneh, tetapi itulah Camus dengan segala ambiguitasnya.

New Normal dan Kutukan 

Pandemi Covid-19 di Indonesia belum menunjukkan perkembangan yang membahagiakan. Aneka keruwetan informasi, pejabat yang cenderung meremehkan, tontonan konflik antar-elite politi,k dan kebijakan yang tidak konsisten kerap menjadi tontonan beberapa minggu lalu. Kita hari ini sedang memasuki era transisi menuju new normal, di mana sebuah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sudah diakhiri oleh banyak daerah.

Kondisi di atas yang membuat saya mengaitkan dengan apa yang terjadi pada Sisyphus. Apa yang terjadi di Indonesia anggaplah sebuah kutukan atas perilaku kita selama ini. Kutukan kepada rakyat sekaligus kepada pejabatnya yang tidak siap atas bencana yang terjadi.

Bagi sebagian negara, hal tersebut bukan kutukan, mengingat kesiapan mereka. Sedangkan bagi Indonesia, hal tersebut relevan disebut kutukan mengingat sejak awal pejabatnya cenderung meremehkan dan implikasinya pada kesiapan menyambut bencana besar ini.

Berbulan-bulan saya menjalani kerja dari rumah, membatasi aktivitas, dan banyak hal yang lainnya. Kita akan memasuki kondisi yang banyak orang sebut sebagai new normal. Sebuah kondisi dengan pola interaksi baru di mana masyarakat diminta agar bisa berdamai dengan virus. Berbagai aturan sedang disiapkan, dari aturan kantor hingga fasilitas publik.

Pertanyaannya, apa hal tersebut relevan di tengah sebaran virus yang masih begitu besar? Apakah mungkin aturan-aturan dalam new normal yang bakal kita lakukan setiap hari bakal mampu membendung laju virus? Apa hal tersebut tidak akan berakhir pada korban jiwa yang besar sehingga aturan-aturan tersebut berujung pada kesia-siaan?

New normal sangat mungkin disebut sebagai kutukan jika pertanyaan-pertanyaan tersebut terbukti dengan jawaban “kesia-siaan”. Masyarakat diminta menjalankan aktivitas-aktivitas baru setiap hari tetapi negara tidak menjamin dengan pertimbangan yang ilmiah bahwa hal tersebut akan membuahkan hasil yang terbaik bagi masyarakat.

Alegori kutukan Sisyphus tersebut menggambarkan pola kehidupan new normal yang akan kita jalani. Dan pastinya akan kita ulangi setiap hari.

Akankah hal tersebut bernasib sama seperti Sisyphus? Usaha untuk sampai ke puncak bukit sebagai metafora dari usaha kita menerapkan aturan new normal yang hasil akhirnya harus kembali ke dasar bukit, yakni sebuah kesia-siaan.

Haruskah tetap bahagia seperti Sisyphus? 

Tuduhan tentang kesia-siaan tersebut bukan tanpa dasar, mengingat beberapa bulan ini kita dipertontonkan cara penanganan sebaran Covid-19 yang serba-gamang. Katanya tidak berbahaya, faktanya cukup banyak korban yang meninggal; katanya dilarang mudik, tetapi transportasi tetap dibuka; dan hal-hal gamang lainnya.

Pertanyaannya, apakah new normal yang sedang disiapkan ini bukan bagian dari kesia-sian? Sebuah kesia-siaan yang harus dilakukan rakyat yang kita semua tidak tahu mau diarahkan ke mana di tengah krisis yang melanda.

Akankah kita bisa tetap bahagia menjalani ini semua? Sebuah kondisi yang kita semua tidak tahu bagaimana akhirnya. Kita bukan Sisyphus yang digambarkan Camus. Tetapi dalam beberapa hal, apa yang dilakukannya menjadi menjadi relevan. Berusaha untuk tetap berbahagia atas kondisi yang ada.

Kita memang bukan Sisyphus yang asli, namun kita adalah personifikasi kondisi hari ini. Di mana kita akan menjalani kutukan new normal dengan aturan-aturan yang baru setiap harinya. Kita berusaha menjalankan hal tersebut siang dan malam tanpa lelah, tanpa tahu apakah hal tersebut ada hasilnya.

Dalam kondisi tersebut, apakah kita masih bisa bahagia? Camus menutup kisah Sisyphus dengan senyuman yang barangkali sedikit angkuh. Orang harus membayangkan Sisyphus bahagia. Kita tercengang memandang senyum seperti itu: bahagia untuk apa?

Di tengah masyarakat yang berjibaku dengan tekanan teror menyeramkan dari Covid-19, agaknya kita perlu menengok Sisyphus yang sedang mendorong batu karangnya. Dan kita percaya Camus bahwa “dia bahagia”.

Pada akhirnya, Sisyphus mengajarkan kita, seburuk apa pun situasinya, kita tidak akan pernah patah dan menyerah. Kita semua harus membayangkan Sisyphus, bahagia.

Akankah nasib kita seperti Sysiphus? Kita semua tidak tahu. Selamat datang, new normal. Semoga kondisi baru tersebut bukan kutukan yang diceritakan yang berakhir dengan “kesia-siaan”.