Pertama saya mau mengucapkan selamat atas pelantikan Bapak Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia untuk periode kedua, dan juga untuk Bapak Ma’ruf Amin sebagai Wakil Presiden.

Maaf, kemarin saya tidak antusias mengikuti acara pelantikannya melalui layar kaca karena memang setahun atau dua tahun terakhir ini saya malas nonton televisi. Semua berita/informasi dan hiburan saya konsumsi dari Internet saja. Iya, saya memang budak Internet.

Kutukan Masa Jabatan Kedua atau second-term curse sangat populer di Amerika Serikat (AS), merupakan anggapan bahwa ada kecenderungan masa jabatan kedua tidak sesukses masa jabatan pertama.

Pada masa jabatan kedua Presiden AS biasanya diwarnai oleh skandal besar, musibah, kebijakan yang gagal, masalah pribadi, dan lain-lain. Ada 21 Presiden AS yang menjabat selama dua periode dan semuanya menghadapi kesulitan atau kegagalan lebih besar di periode kedua, sehingga muncullah anggapan bahwa ini adalah kutukan periode kedua.

Istilah kutukan masa jabatan kedua ini muncul karena Franklin D. Roosevelt mencoba melanggar aturan masa jabatan yang hanya dua periode, berniat maju untuk priode ketiga. Tentu saja tidak bisa. Kemudian orang mulai mengatakan bahwa arwah George Washington mengutuk semua presiden yang maju untuk periode kedua.

Benar tidaknya anggapan itu dapat diperdebatkan karena beberapa Presiden sebelum Franklin D. Roosevelt pun juga mengalami kesulitan pada masa jabatan kedua.

Menurut Nate Silver (Nathaniel Read Silver), penulis dan ahli statistik Amerika, menemukan bahwa dukungan publik (approval rating) lebih rendah di periode kedua karena banyak hal, sehingga teori kutukan periode kedua itu menjadi sangat lemah. Ya, iyalah, namanya juga kutukan, itu bukan teori ilmiah.

Tapi approval rating pun tidak bisa menjadi patokan karena Bill Clinton mendapat approval rating lebih tinggi pada periode kedua (61% dari sebelumnya 50%), tapi tetap menghadapi banyak kegagalan, misalnya Skandal Lewinsky, skandal sexual harassment terhadap Paula Jones, impeachment atas kejahatan tinggi dan pelanggaran ringan (high crimes and misdemeanors), pemberian grasi yang kontroversial, dan lain-lain.

Penurunan approval rating George W. Bush pun terjadi pada periode kedua karena inisiasi perang melawan Al-Qaeda di Afganistan dan Pakistan, dan juga terjadi krisis ekonomi yang melanda AS tahun 2007 – 2008. Approval rating-nya turun dari 62% saat mulai menjabat hingga menjadi 37% saat meninggalkan Gedung Putih.

Demikian juga Barack Obama, presiden yang sangat populer, baik di dalam negeri maupun dunia internasional. Walaupun dia dicitrakan oleh pendukungnya zero scandal, sesungguhnya Obama menghadapi banyak masalah di periode kedua. Approval rating Obama saat memasuki Gedung putih adalah 67% dan 57% saat mengakhiri jabatan.

Salah dua skandal Obama (dan Hillary Clinton yang saat itu sebagai Menteri Luar Negeri) adalah peristiwa Bengazi dan membidani lahirnya ISIS. Obama menjadi presiden dengan rekor tertinggi menjatuhkan bom, yakni sebanyak 26.171 kali hanya di tahun 2016. Syria menjadi negara ke-7 negara muslim yang dihujani bom oleh Obama setelah Afghanistan, Pakistan, Yamen, Somalia, Libya, dan Iraq.

Sebelum menjadi presiden, Obama berjanji untuk mengakhiri semua perang melawan negara lain yang dilakukan oleh George W Bush. Ternyata saat meninggalkan Gedung Putih, Obama tercatat sebagai Presiden AS terbanyak melakukan peperangan.

Presiden Obama memang mengurangi jumlah tentara AS yang bertempur di Afghanistan dan Irak, tetapi ia secara dramatis memperluas perang udara dan penggunaan pasukan operasi khusus di seluruh dunia.

Kemudian bagaimana dengan Indonesia? Sayang sekali usia negera ini masih sangat singkat dibanding AS sehingga datanya masih sedikit dan belum berpola.

Soekarno menjadi presiden selama 22 tahun (1945 - 1967), Soeharto selama 31 tahun (1967 – 1998), BJ. Habiebie selama 1 tahun (1998 – 1999), Abdurrahman Wahid selama 2 tahun (1999 - 2001), Megawati Soekarnoputri selama 3 tahun (2001 – 2004), Susilo Bambang Yudhoyono selama 10 tahun (2004 – 2014), dan Joko Widodo akan memasuki masa jabatan kedua.

Dari tujuh presiden tersebut, 3 orang tidak melewati 5 tahun, 2 orang melewati angka 20 tahun, seorang lolos 2 periode, dan yang satu lagi sedang memasuki periode kedua. Hal ini bisa dimaklumi. Karena pada saat pemerintahan Megawati, baru dilaksanakan Pemilihan Presiden Langsung yang menghasilkan SBY sebagai presiden pertama yang dipilih rakyat.

Walaupun demikian, mari kita lihat catatan pemerintahan SBY pada periode pertama dan kedua.

Di Indonesia, katalisator penerimaan masyarakat terhadap keberhasilan pemimpin dikenal dengan Tingkat Kepuasan Masyarakat. Melansir dari laporan The Indonesian Institute, survei LSI pada Juli 2009 menunjukkan rekor tertinggi kepuasan masyarakat atas kinerja Presiden SBY, yaitu 85%. Ini adalah masa akhir periode pertama SBY.

Tingkat kepuasan itu menurun setahun kemudian menjadi 75% dan terus menurun hingga 65% di Maret 2010 dan mencapai 53,2% di Oktober 2011.

Seingat saya, yang menyebabkan turunnya kepuasan masyarakat terhadap SBY di periode kedua adalah karena beliau terlalu hati-hati mengambil keputusan. Kadang keputusan penting dibiarkan mengendap berbulan-bulan tanpa keputusan, sehingga dia sempat mendapat gelar “kebo” yang artinya lambat bergerak.

Pemerintahannya juga sering disebut autopilot. Secara bercanda, prestasi SBY sering diukur dengan jumlah album yang dia keluarkan. Pasti ada prestasi yang beliau torehkan, tapi tidak kasat mata, seperti jalan tol atau MRT yang dibangun Jokowi.

Survei terbaru Centre for Strategic and International Studies (CSIS) 15-22 Maret 2019 menunjukkan, mayoritas masyarakat puas dengan kinerja pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Sebanyak 72,9 persen responden mengaku puas dengan kinerja pemerintah dalam empat tahun terakhir.

Bagaimana tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan Jokowi di periode kedua nanti? Ini masih teka-teki. Saya sangat berharap Jokowi bisa membalikkan kutukan periode kedua tersebut dengan cara membangun fondasi ekonomi yang kuat untuk rakyat sehingga tinggat kesejahteraan meningkat.

Seberapa banyaknya pun pembangunan infrastruktur yang dilakukan, tapi bila ekonomi rakyat tidak baik dan korupsi masih merajalela, akan berakibat pada tingkat kepuasan masyarakat yang rendah.

Beberapa kali Jokowi mangatakan bahwa tidak mempunyai beban pada periode kedua karena tidak lagi memikirkan elektabilitas untuk periode selanjutnya. Semoga hal itu benar sehingga beliau bisa fokus melaksanakan program-program kerja yang sudah ditetapkan.

Ingin aku optimis bahwa kutukan periode kedua Pemerintahan Jokowi tidak akan terwujud, tapi hari ini kita disuguhi tontonan yang luar biasa, di mana rival saat pilpres diajak ikut serta dalam pemerintahannya. Saya yang tidak terlalu mengerti dunia politik ini merasa cemas dengan kondisi ini.

Ada yang mengatakan peran Prabowo kali ini adalah untuk menghancurkan gerakan radikalisme yang mulai mengkhawatirkan di semua lapisan dan sektor. Bagaimana bila Prabowo memakai cara-cara saat peristiwa Semanggi untuk melancarkan aksinya? Memikirkannya saja pun aku ngeri.

Jika Gerindra menjadi bagian pemerintahan, pihak oposisi di Gedung DPR nyaris tidak ada. Semua akan koor satu suara dalam merumuskan undang-undang atau apa pun yang menjadi output DPR. Mungkin akan seperti DPR zaman Orde Baru dulu.

Satu lagi, sekiranya para pembantu Jokowi cekatan dan berani memberikan argumen kepada Presiden dalam mengambil keputusan strategis, tentu tidak ada masalah ke depannya. Tapi bila para Menteri hanya menggut-manggut terhadap semua cara Jokowi melaksanakan program pembangunan, saya khawatir Jokowi akan kebablasan.

Aku melihat Jokowi sudah siap berangkat bersama pasukannya yang berusia muda. Dia akan membawa gerbongnya melaju kencang. Semoga Jokowi masih ingat untuk menginjak rem saat diperlukan.  

Selamat bekerja di periode kedua, Pak Jokowi! Patuhilah rambu-rambu agar tidak disemprit polisi.

Source: