Aku tergabung sebagai salah satu dari peserta Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan (SKK) Buya Ahmad Syafii Maarif periode 3 bersama 24 teman-teman lainnya yang setidaknya sebagai representatif Indonesia karena berasal dari berbagai pulau atau daerah seperti; Padang, Lampung (Sumatra), Samarinda (Kalimantan), Manado, Mamuju, Makassar (Sulawesi), Banten, Jogja, Salatiga, Solo, Ngawi, Garut (Jawa), Ambon, dan Papua. 

Kami datang dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda, latar belakang pendidikan yang berbeda, pekerjaan dan passion yang berbeda, sampai pada karakter yang berbeda. Namun, bertemu pada satu titik yang ingin membumikan pemikiran Buya Ahmad Syafii Maarif. Pemikirannya dalam kebudayaan, kebinekaan, kemanusiaan, dan kebangsaan.

Di malam pertama, kami mendapat ilmu dari Prof. Amin Abdullah. Keesokan harinya, kegiatan SKK 3 dilanjutkan dengan berbagai kegiatan, di antaranya; goyang kewer-kewer yang seru yang membuat suasana pagi hari makin semangat.

Kemudian, kami disuruh membuat enam kelompok yang nanti akan mempresentasikan tentang film yang sudah kami tonton. Kami menonton film yang berjudul "Pee Key" atau PK yang dirilis tahun 2014 dan dibintangi oleh Aamir Khan, Anuskha Sharma, dan lainnya. 

Film yang disutradarai oleh Rajkumar Hirani ini merupakan film yang bertema komedi satire. Film ini mempertanyakan eksistensi Tuhan dan keberadaan makelar agama. 

Film yang dimulai dengan munculnya seorang laki-laki tiba dari langit dengan tampilan polos, tanpa busana. Namun, memakai kalung yang berwarna hijau. Kalung yang ternyata berfungsi sebagai remote control-nya ternyata langsung dicuri orang. Nah, keseruan lebih lanjut pun sangat menarik perhatian.

Di tengah-tengah pencariannya mencari kalung hijau, PK menemukan banyak Tuhan dan agama. Dan para pengikut agama ini banyak yang menyalahgunakan agamanya karena merasa sebagai perpanjangan tangan Tuhan kepadanya.

Di sisi lain, diceritakan tentang seorang wartawati perempuan, Jaggu, yang mengalami romansa percintaan dengan seorang laki-laki yang bernama Shafraza yang berasal dari Pakistan yang berbeda agama dengannya. Hingga pada akhirnya putus karena pernyataan salah seorang tokoh agama atau guru agama bapak Jaggu yang mengatajan bahwa laki-laki yang dicintai Jaggu adalah laki-laki yang berbohong padanya.

Pada akhirnya, yang ketahuan berbohong adalah guru agama bapak Jaggu tadi. Sehingga, terbongkarlah komodifikasi agama yang dilakukan oleh tokoh agama itu. 

Apalagi, tokoh agama tadi menggunakan kalung PK sebagai simbol keagamaannya. Sehingga, PK harus mencari cara membongkar kebohongan tokoh agama yang abal-abal. Kemudian, diakhir cerita, si PK pun bisa pulang ke tempat asalnya dengan kalung atau remote control tadi.

Kelas Prof. Azyumardi Azra

Di siang hari, kami peserta SKK-ASM 3 belajar dari Prof. Azyumardi Azra. Ia membahas tentang Dynamics of Islamic Reforms in Indonesia: Historical Courses of Tajdid and Islah. Materinya membahas tentang pembaruan dalam Islam dimulai dari abad ke-17.

Setelah kelas Prof. Azra, kami coffee break dan kami melakukan diskusi tentang film yang tadi kami sudah ditonton.

Kelompokku hari itu adalah kelompok enam. Kami disuruh mencari kutipan atau quotes dari film PK dan pengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu kutipan yang kami peroleh dari film yang hampir setiap saat itu membuat kami tertawa terbahak-bahak walaupun ada juga scene yang membuat kami sedih dan ingin menangis. Berikut, beberapa kutipan dari film yang menurut kelompok kami paling mengena ketika berhubungan dengan Everyday Religion.

Kutipan yang pertama adalah; Percayalah pada Tuhan, Tuhan akan menyelamatkanmu. Kamu bilang mau melindungi Tuhan? Tuhan tidak perlu dilindungi. Tuhan tidak perlu dibela. Kamu yang menciptakan Tuhan, atau Tuhan yang menciptakan kamu? Kita hidup di dunia yang sangat kecil, hanya debu di alam semesta. Aku ingin membeli Tuhan. Dan lain sebagainya.

Permasalahan hari ini adalah banyaknya dari kita yang menjadi "Tuhan" itu sendiri. Jika bukan menjadi Tuhan yang mau sok mengatur "hamba" (seseorang), kita sibuk menjadi makelar tuhan. 

Padahal, tuhan telah kita politisasi dengan mengaku menjadi umat-Nya yang paling benar, yang bisa menjadi "wakil" tuhan itu sendiri.

Kelompok teman-teman lain juga tak kalah seru dengan menulis puisi cinta karena muara film ini pada akhirnya ke cinta. Dan cinta menjadi jawaban atas semua pertanyaan, termasuk tentang agama. Mereka menyimpulkan dengan kalimat berikut; "Intuisi adalah kebajikan, kebajikan adalah cinta, dan cinta adalah keharmonisan (perdamaian)."

Terakhir, aku perlu mengutip puisi dari Jalaluddin Rumi, tentang agama cinta. 

"Aku bukanlah Nasrani, aku bukanlah Yahudi, aku bukanlah Majusi, aku bukanlah Islam. Keluarlah, lampaui gagasan sempitmu tentang benar dan salah sehingga kita dapat bertemu pada suatu ruang murni tanpa dibatasi berbagai prasangka atau pikiran yang gelisah."

Hmmm, hari gini, kita memang perlu agama cinta. Agama yang berlandaskan cinta dan penuh cinta, biar dunia ini menjadi damai, apalagi Indonesia. Setuju?