Musisi
4 minggu lalu · 1238 view · 4 menit baca · Buku 49403_21390.jpg

Kurt Cobain dan Bunuh Diri yang Literer
Ulasan "Heavier Than Heaven"

Aku akan menjadi seorang musisi superstar, lalu bunuh diri dan melebur dalam api kemuliaan. Aku tidak khawatir tentang apa yang bakal terjadi saat usiaku 30 tahun, aku tidak mau mencapai usia itu. Kau pasti tahu seperti apa hidup setelah 30 tahun—aku tidak menginginkannya. ~ Kurt Cobain

Hampir semua kritikus mengatakan bahwa “Havier Than Heaven” merupakan buku yang paling kompleks menuliskan setiap episode kehidupan Kurt Cobain. Sebagaimana pernyataan Aberdeen (Washington) Daily World: Heavier Than Heaven mungkin akan diakui selamanya sebagai biografi definitif Kurt Cobain.

Cikal bakal kata Havier Than Heaven lahir dari seorang promotor musik Inggris yang mengiklankan salah satu gig Nirvana dan TAD dengan tajuk “Havier Than Heaven”. Kata-kata tersebut kemudian disepakati menjadi tajuk tour Nirvana dan TAD di Inggris pada Oktober 1989.

Charles R. Cross mengerjakan buku ini dalam kurun waktu 4 tahun. Ia menelusuri perjalanan Kurt Cobain dengan melakukan lebih dari 400 wawancara. Dengan tebal 564 halaman dan 517 episode, buku ini disajikan secara gurih dengan gaya prosa. 

Membaca riwayat hidup Kurt Cobain dalam buku terjemahan ini terasa seperti sedang membaca sebuah novel yang mengalir menggiring imajinasi ke dalam cerita. Baru ketika usai larut berlabuh membaca, ingatan seketika tergugah bahwa ini merupakan kisah nyata. 

Dalam buku ini, ada begitu banyak hal yang menerangi kita tentang kehidupan Kurt Cobain. Mulai dari cinta, perjuangan, konsistensi, serta totalitas Kurt dalam menggapai mimpi.

27 tahun, 1 bulan, dan 16 hari mungkin terbilang waktu yang singkat. Namun, sebagaimana ungkapan pendeta Towles pada pemberkatan terakhir Kurt Cobain: Kita di sini untuk mengenang dan melepas Kurt Cobain, yang menjalani kehidupan singkat dengan pencapaian abadi.

5 April 1994 menjadi hari berkabungnya para penikmat musik grungy. Pada akhirnya Kurt Cobain terlalu mudah untuk dicintai namun sulit untuk dibaca. 

Bualan dari mulutnya serta kenyataan dalam hidupnya yang kontradiksi sekaligus fakta. Ia adalah legenda rock yang akan selalu dikenang sebagai sosok yang paling sukses mengangkat grunge yang segmented menjadi penguasa seluruh frekuensi penyiaran di masanya.

Hingga hari ini, saya belum yakin jika ada seorang musisi besar yang jeli dalam mencipta lagu tanpa mengakrabkan diri dengan buku. Tak bisa dinafikan bahwa bacaan menjadi salah satu yang membentuk kematangan Kurt dalam menulis lagu dan catatan harian. 

Selain buku, ia juga rutin membaca majalah musik dan artikel-artikel terkait jainisme. Beberapa karya vandalismenya juga terinspirasi dari buku. Semisal saat ia tinggal di sebuah apartemen, ia mengecat kamar mandi dengan warna merah darah dan menulis “REDRUM” di temboknya, mengacu pada novel The Shinging-nya Stepen King.

Buku yang pernah dilahapnya beragam. Mulai dari To Kill a Mockingbird karya Harper Lee hingga All You Need to Know About the Music Business karya Donald Passman. 

Sewaktu memasuki usia 18 tahun, Kurt dihadiahi oleh bibinya dua buah buku: Hammer of the Gods, Biografi Led Zeppelin, dan koleksi ilustrasi Norman Rockwell

Buku juga acap kali Kurt jadikan hadiah untuk kekasihnya. Kurt pernah memberikan kado Natal pada Tracy, kekasihnya, berupa buku The Art of Rock, mengirimi Courtney dua buah novel karya Oscar Wilde berjudul The Picture of Dorian Gray dan karya Emily Bronte berjudul Withering Heights. Kurt dan Courtney juga sesekali saling membacakan buku di atas tempat tidur.

Pengakuan Hilary Richrod, seorang petugas perpustakaan Aberdeen Timberland Library, Kurt sering menghabiskan waktunya di perpustakaan untuk membaca atau sekadar tidur. Saat tur di Rotterdam, ia hanya membawa tas kecil berisi salinan novel William S. Burroughs berjudul Naked Lunch

2 tahun setelah Nevermind turun dari Bilboard, Kurt diwawancarai oleh Jon Savage, penulis buku England’s Dreaming. Dalam penuturan penulis, pada kondisi Kurt yang malas berbicara dengan media, ia saat itu mau karena barangkali lantaran Kurt mengagumi buku Savage tersebut.

Kurt akrab dengan karya Shakespeare. Pernah meracau tentang Shakespeare dalam mobil ambulance saat dirinya dari rumah diantar ke rumah sakit sebab sekarat karena overdosis pemakaian narkoba. Pun saat sekarat di Roma. 

Pada penggalan catatan bunuh dirinya, ia menyinggung tentang karakter Hamlet yang paling terkenal dalam drama Shakespeare: seperti Hamlet, aku harus memilih antara hidup dan mati. Aku memilih mati.

Dari buku Heavier Than Heaven, ada banyak kata ‘bunuh diri’ yang ia lontarkan dalam hidupnya. Suatu ketika, saat cuci piring, tangannya luka dan harus dijahit. Waktu itu dia bilang: kalau jarinya tidak bisa dipakai main gitar, dia akan bunuh diri. 

Entah kebetulan atau tidak, bunuh diri menjadi semacam genetik di keluarga Kurt. Kenneth Cobain, saudara dari kakeknya bunuh diri setelah terpukul dengan kematian istrinya. Bibir pistol berkaliber 22 milimeter dihempaskan tepat dahi untuk menyudahi hidupnya. 

Ayah kakeknya meninggal setelah menarik pelatuk pistolnya tanpa sengaja. Kakek buyutnya bernama James Irving pernah mencoba bunuh diri dengan menikam perutnya, dua bulan setelahnya ia tewas. Burle Cobain (saudara kakeknya) menembak perut dan kepalanya dan Kurt berkekeh bahwa kakeknya membunuh dirinya sendiri untuk menyusul Jim Morrison.

*

Sebelum menghembuskan nafas terakhir, dengan Shotgun Remington-M11 ke kepala, pada akhir surat kematiannya, Kurt mengutip kata Neil Young: Lebih baik terbakar habis daripada memudar.

Melewati proses panjang dan berdarah-darah, ada banyak yang menyayangkan ketika Kurt Cobain telah berhasil menembus segala batasan dalam hidupnya. Justru pada saat mimpinya tercapai, ia malah mengakhiri hidupnya.

Namun darinya kita bisa belajar bahwa Kurt Donald Cobain adalah pemimpi yang menjalani hulu hidupnya dengan mengaliri alur mimpinya hingga ke hilir.