Kursi Tua

Sebuah kursi tua  yang sengaja aku pindahkan ke kamar ini, berharap dapat menampung tubuhku yang letih  dari padatnya lalu lintas pikiran.

Sebulan terakhir, aku lebih banyak menghabiskan waktu bersandar di kursi ini. Entah mengapa saya betul-betul menikmatinya hingga tak terasa waktu berlalu begitu cepat.

Malam-malamku tuntas hingga berjam-jam. Adakalanya memutar radio dan membakar rokok berulangkali  kemudian bersikap apatis tentang kesibukan di luar rumah.

Apakah ini kebiasaan buruk? Jika demikian maka memakilah, tetapi aku tetap di sini membuang resah  dari hiruk pikuk dunia .

Rasanya semakin dalam heningan itu, jiwaku merasa terbuai dan jauh dari potensi terluka.

Alika

Namanya alika, dia berbulu lebat dan bermata bulat seperti kelereng. Seminggu lalu dia melahirkan anak kembar yang lucu dan menggemaskan.

Kata ayahku, jika anaknya sudah bisa makan sendiri, maka berikan saja pada tetangga. Andai dia seekor sapi  maka rawatlah dengan baik, kelak bisa mendatangkan uang untukmu.

Beberapa tahun lalu, Alika datang ke rumah dengan perawakan lusuh tak terawat. Namun karna merasa nyaman atas perlakuan keluarga kami padanya, dia memutuskan menetap di rumah.

Kini, dia sudah di angap  sebagai bagian dari keluarga. Meski terkadang menjengkelkan, tetap saja kasih sayang itu mengalir padanya.

Pernah suatu malam dia mengetuk pintu kamarku lalu mengajakku seranjang. Aku iyakan lantaran  tidak enak hati jika sampai menolak tawarannya.  

Saat itu aku mengelus tubuhnya yang hangat lalu berkata, "Tidurlah Kucing, malam sudah larut."

17 Juni

Hari ini tepat ulang tahunmu. Maaf, aku tidak sempat mengirimkan kata perpisahan agar kau menyisakan satu buah lilin untuk membakar keputusanku.

Saat ini kau memasuki usia  dewasa. Sudah sepatutnya mengerti mengapa aku memutuskan berpisah padahal hubungan ini sudah memakan waktu.

Beberapa kali aku coba bertahan, namun tetap saja kau tidak pernah berubah. Aku mencintaimu, sungguh! Itu sebabnya pemakluman selalu terucap manis padamu.

Tetapi sifatmu yang selalu menggores kepercayaan membuatku ingin segera melebur kasih sayang ini di persimpangan jalan.

Indonesia Di Matamu

Kemarin ketika hujan mengguyur lalu menahan langkah kita di sebuah gubuk, kau mulai  bercerita tentang  resahmu akan nasib bangsa ini;

Perihal hukum yang tak lagi menghukum, perihal tenaga kerja asing yang di biarkan menyerbu nusantara dan, Perihal komunis yang berupaya bangkit kembali.

Kemudian sarkasme kau hadirkan ditegah perbincangan kita. Atas dasar kecintaan, kau rela bertaruh nyawa.

 Aku berupaya membaca fikiranmu. Di dalamnya ku temukan warna darah  yang merah kental, tulangmu lebih putih dan semangatmu adalah api.

Cinta Sepanjang Malam

Cahaya mentari telah bersimbah di ufuk timur. Seketika aku merapikan ingatan sisa semalam, lalu menatapmu masih tertidur lelap.

Apa yang telah terjadi? Tanyaku pada tumpukan kain yang mengambang di sisi ranjang. Bukankah semalam kita hanya meninggalkan bekas kecupan di cangkir kopi yang sama?

bahwa demikian kuat energi merasuk dalam tubuhku, menuntunku menabur bunga pada taman hatimu, juga berupaya bermukim di sana hingga malam menaggalkan gaun kegelapan.

Aku ingin mengarungi malam yang panjang bersamamu dan memaknai segala pertemuan yang ada  dalam bingkai kemesraan.

Jangan biarkan tubuhmu menjauh. Rintik hujan berubah duka, atau menyerupai bintang yang bersembunyi di balik awan, karena engkau  adalah segala.

Peluklah aku malam ini, hingga tidak ada alasanku meninggalkanmu sampai keremangan ini selesai.

Maafkan aku  hingga ini benar-benar terjadi. Bangunlah, kita akan segera bergegas meniggalkan tempat biadab ini.

Sebelum Tiba

Aku tuliskan kata ini sebelum kita berjumpa di sebuah halte depan pom bensin.

Waktu itu, kaupun  ikut menghidari kepadatan antrian  hingga berakhir sepi, lalu mengambil alih.

Nasib kita sama bukan? Sama-sama  tidak ingin terjebak dalam himpitan kendaraan yang berdesakan.

Lihatlah, andai simbol  kecukupan  di lihat dari adanya kendaraan, mungkin mereka tidak lagi membutuhkan asupan vitamin dari negara.

Itu sebabnya mata ini melumat setiap jengkal sudut kesibukan yang ada kemudian menyaksikan ketimpangan yang begitu nyata.

Pesan untukmu

Selembar kata terakhir telah ku kirimkan bersama sepucuk kembang angrek callus vanda kesukaanmu.

Rawatlah dengan bijaksana, kecup bila perlu manakala rindu datang menyiksamu.

Bunga itu sengaja ku beli kemarin siang sebelum  pesawat  berangkat menuju kota Las vegas.  Selepas ini, kuharap dirimu  baik-baik saja. Jagalah hatimu, juga bayi yang ku titip rahimmu.

Kita akan berpisah dalam jangka waktu cukup lama, mungkin selepas presiden berganti ataukah selepas anak itu lahir. 

Di kamar ini, aku merasa sepi tampamu. Meski kita di pangkas oleh  jarak  namun hati ini seolah lebih dekat. 

Bagaimana kabar ibumu juga ayahmu? Apakah mereka masih berkata aku lelaki yang tidak pantas untukmu seperti sebelum kita menikah. 

Hapuslah air matamu, sayang.  Ku harap kau tidak terlibat menanamkan kecurigaan di hatimu.