Jagat media sosial beberapa waktu lalu dihebohkan dengan munculnya sebuah meme menggelikan, yang oleh sebagian orang dianggap lelucon, sedang lainnya menanggapi sangat serius hingga meradang. Bagaimana tidak, meme yang viral itu mengatakan klepon tidak islami, sedangkan kurma islami.

Saya sendiri jujur tidak percaya begitu saja, jika meme itu dibuat tanpa sebuah tujuan, atau sekadar guyonan. Sebut saja terkisah dan terupload tanpa sengaja. Bagi saya, itu konyol. Dan, tidak masuk akal. Serta-merta judgment dalam meme ini mengakibatkan sebagian orang jadi seolah membenci kurma.

Konyol, kan? Apa coba salahnya kurma? Terlepas dari beredarnya meme yang terkesan menyakiti beberapa hati yang baperan, kurma justru memiliki begitu banyak kebaikan bagi manusia. Salah satunya, memiliki kandungan asam amino tinggi yang dapat digunakan sebagai sumber amunisi penting melawan stunting.

Stunting merupakan gangguan gizi kronik yang disebabkan oleh banyak faktor. Dan, salah satu faktor penyebabnya adalah gangguan pemenuhan nutrisi yang terjadi sejak dalam kandungan, hingga dua tahun pertama kehidupannya.

Anak dengan stunting akan mengalami gangguan pertumbuhan, yang digambarkan dengan perawakan pendek (kerdil). Selain itu anak dengan stunting akan mengalami gangguan kecerdasan (IQ rendah) dan mudah terserang penyakit (karena daya tahan tubuhnya rendah).

Sunting menjadi suatu masalah yang dianggap serius. Pasalnya, tidak hanya menyebabkan gangguan pada pertumbuhan. Tetapi juga berkaitan dengan nasib bangsa. Karena, seorang balita dengan stunting di masa yang akan datang tidak hanya akan mengalami kesulitan mencapai perkembangan fisik, tetapi juga perkembangan mental dan kognitifnya.

Saya mendapatkan informasi, anak dengan stunting memiliki peredaran asam amino esensial lebih rendah dari pada anak normal. Padahal sudah menjadi rahasia umum, bahwa asam amino adalah pembentuk protein yang berfungsi untuk menumbuhkembangkan tubuh. Rupanya, inilah sebab mengapa pada anak dengan kadar asam amino yang rendah, akan mengalami gangguan pertumbuhan.

Banyak makanan yang memiliki kandungan asam amino yang tinggi. Dan, kurma adalah salah satu diantaranya.

Menurut International Journal Food Science Nutrition, banyak sekali mineral yang terkandung di dalamnya, seperti potasium (kalium) dan magnesium, boron, kalsium, kobalt, tembaga, fluorin, zat besi, mangan, fosfor, sodium, selenium, dan seng.

Selain mineral, protein yang terdapat pada kurma juga mengandung 23 tipe asam amino seperti, asam palmotoleat, oleat, dan linoleat. Ketiga nutrisi ini, memiliki peran yang sangat penting bagi pertumbuhan tubuh dan fungsi otak. Selain itu, ia juga memiliki peranan dalam mengatur sel tubuh, sistem syaraf dan memperkuat sistem kardiovaskuler. Sayangnya, ketiga nutrisi ini tidak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh. Jadi, kita harus menambahkannya dalam menu harian yang dikonsumsi.

Dalam upaya menekan angka stunting, asam amino yang diberikan harus mencukupi kebutuhan anak, sejak ia masih menjadi janin di dalam kandungan hingga dua tahun awal kehidupannya.

Kurma yang dikonsumsi wanita hamil akan membantu memenuhi kebutuhan nutrisi seperti protein, asam folat, yodium dan zat besi. Keempat nutrisi ini sangat penting untuk membantu tumbuh dan kembang janin selama berada di dalam rahim. Apabila kebutuhan tidak tercukupi, maka janin akan mengalami gangguan tumbuh kembang yang akhirnya berdampak pada stunting setelah dilahirkan.

Demikian juga ketika bayi telah dilahirkan, ia masih membutuhkan nutrisi. Pada enam bulan kehidupan pertamanya, bayi mendapatkan nutrisi melalui Air Susu Ibu (ASI). 

ASI harus diberikan secara eksklusif, agar bayi memiliki tumbuh kembang yang optimal. Kualitas ASI, tergantung dari kualitas makanan yang dikonsumsi ibu. Oleh karena itu, kurma bisa menjadi salah satu pilihan terbaik bagi ibu, guna meningkatkan kualitas ASI.

Makanan Pendamping ASI (MPASI) dapat diberikan saat anak sudah berusia enam bulan. Sajian nutrisi yang diberikan haruslah lengkap. Karbohidrat, protein, vitamin, dan nutrisi lainnya sebisa mungkin harus ada dalam menu yang disajikan, untuk mencegah terjadinya stunting di kemudian hari. 

Dan, kurma tidak hanya memiliki kandungan nutrisi yang dibutuhkan bayi, ia juga memiliki tekstur yang bisa diberikan pada anak usia enam bulan. Sekalipun belum memiliki gigi untuk mengunyah.

Pada ibu hamil dan menyusui, kurma dapat dimakan secara langsung. Dapat juga dibuat jus, tanpa perlu menambahkan gula. Kurma juga bisa dibuat nabeez (kurma yang direndam selama delapan jam), kemudian diminum airnya. Dan, dagingnya pun tetap bisa dimakan untuk mendapatkan manfaat serat dan nutrisi lainnya.

Pada bayi yang membutuhkan MPASI, kurma bisa diberikan dalam bentuk nabeez. Setelah direndam selama tiga jam di suhu ruangan atau 8 jam dalam kulkas, air disaring lalu diberikan. Bisa juga dengan diblender, sehingga teksturnya menjadi sangat lembut seperti bubur.

Kurma juga bisa dijadikan gula-gula atau permen, lalu diberikan pada anak-anak yang sudah lewat masa MPASI-nya. Dalam membuat gula-gula atau permen ini, tidak perlu menambahkan gula apalagi pemanis. Cukup diambil dagingnya, kemudian diberikan pada anak untuk diisap atau dikunyah.

Mengingat banyak sekali nutrisi yang terkandung di dalam buah kurma, serta cara mengonsumsinya yang mudah. Sepertinya, kurma dapat menjadi alternatif pilihan dalam upaya menekan angka stunting di Indonesia. Selain mudah didapat, harganya pun cukup bersahabat.

Jadi ingat omelan tetangga, saat anaknya divonis BGM (Bawah Garis Merah atau stunting), “Sembarangan! Dasar anak emang sudah bawaannya cilik, dikasih apa aja juga tetap cilik. Yang penting, anakku sehat dan aktif. Kalau gini, jadi males ke posyandu lagi, paling juga cuma dikasih susu dan roti marie. Di mana gizinya? Kalau cuma itu, aku juga bisa beli sendiri.”

Semoga kurma bisa menjadi solusi. Dan, kaum dengan sensitivitas tinggi, semoga terketuk hati untuk membawa kurma kembali ke dalam hati. “Yuk, klepon kita nikmati bersama manisnya kurma yang memiliki nilai gizi tinggi.”