Siapa sih yang ngga tahu Barter? Yup Barter adalah sistem atau alat pembayaran yang dilakukan dengan saling menukarkan barang. Barter sudah ada sejak 6000 tahun sebelum Masehi loh, dilakukan pertama kali oleh suku-suku yang ada di Mesopotamia. Sebagai sistem atau alat pembayaran pertama jauh sebelum ditemukannya uang, nyatanya Barter ngga cuma dilakukan di zaman dahulu aja nih. Indonesia sendiri pernah melakukan Barter, yaitu pada tahun 1996 menukarkan dua buah pesawat terbang dengan 110.000 ton beras ketan dari Thailand, hmm keren bukan.

Eitsss tapi disini kita ngga mau bahas tentang sistem Barter, melainkan sistem pembayaran yang ada di platform online shop. Iya itu loh yang kalau mau beli barang tinggal pencet di smartphone doang. Ngga perlu ribet datang langsung ke toko, apalagi harus ngantri lama di kasir. Lewat platform online shop pastinya memberikan kemudahan kepada kita sebagai pembeli. Mau barang apa saja dari murah sampai mahal, bervariasi, berkualitas ada semua, tinggal uang nya aja nih yang harus banyak (wkwk).

Kembali ke sistem pembayaran yang ada di platform online shop. Sistemnya beragam, ada yang non-tunai bisa lewat kartu kredit, ATM, mobile banking, dan lewat toko retail. Namun, sepertinya pembayaran non-tunai ini kurang begitu dipercaya entah karena ada pembeli yang merasa takut ditipu, sehingga berpikir uang nya akan hilang dan barang yang dibeli ngga sampai ditangan. Lagi pula banyak pembeli yang belum punya akses pembayaran digital. Nah, jangan khawatir sistem pembayaran tunai juga ada loh di platform online shop ini, yakni menggunakan sistem pembayaran Cash On Delivery atau yang disingkat COD.

Pasti kita sudah familiar banget nih sama yang namanya COD. Baru-baru ini COD meroket di dunia maya karena adanya suatu kasus yang membuat viralnya sistem pembayaran ini (serius banget ni kayaknya hehe). Namun, sebelum berlanjut kita harus tahu dulu nih apa itu COD?

Cash On Delivery (COD) adalah suatu sistem pembayaran yang dilakukan secara tatap muka ketika barang sudah sampai di tangan pembeli dengan kurir sebagai perantaranya. Sistem COD memudahkan pembeli dan penjual untuk melakukan transaksi loh karena tidak perlu mengeluarkan uang yang banyak, hemat waktu, dan hemat tenaga. Seperti yang kita sudah ketahui, sistem COD juga bisa berdampak negatif kalau penggunaannya tidak dipahami dengan baik.

Yuk, lebih dalam kita simak kasus permasalahan COD ini. Pada setiap kasus keadaanya hampir serupa, Pembeli mencaci maki dan mengancam kurir. Kasus pertama, dalam sebuah rekaman video menunjukan seorang ibu paruh baya bersama dengan anaknya naik pitam karena barang yang sampai tidak sesuai pesanan. Mereka pun menyalahkan kurir dan mencaci maki dengan kata-kata kasar. Kasus selanjutnya, seorang bapak yang juga mencaci maki kurir dan lebih sadis mengancamnya dengan samurai (duh seram banget ya), disebabkan karena tidak ada barang pesanan yang datang setelah paket dibuka. Paket tersebut hanya berisi kertas-kertas kosong dan barang pesanannya tidak ditemukan di dalamnya.

Sangat disayangkan kurir selalu menjadi sasaran apes dari permasalahan sistem COD ini. Lantas siapakah yang harus disalahkan?

Harus ditekankan kalau tugas kurir hanyalah sebagai pengantar barang pesanan. Kurir adalah seseorang yang menjadi perantara dalam transaksi. Nah, pastinya kurir tidak tahu-menahu tentang isi dan spesifikasi barang itu dong dan juga tentu bukan menjadi tanggung jawab kurir.

Penjual dan pembeli adalah sebagai pelaku utama dalam transaksi ini. Penjual semestinya bijak dalam menerapkan sistem COD di toko online-nya agar lebih teliti dalam pengemasan barang. Ada juga nih ternyata penjual yang curang, sebaiknya ini menjadi perhatian dari platform online shop agar memberikan kebijakan yang ketat bahkan sanksi kepada penjual yang curang. Pembeli dalam hal ini juga harus pahami dulu prosedur pembayaran sistem COD ini sebelum menerapkannya. Jangan langsung main cekout barang aja nih. Kita sebagai pembeli harus lebih selektif juga dong. Jika terjadi ketidaksesuain barang kita tidak langsung menyalahkan kurir, tetapi bisa memperhatikan kebijakan pengembalian barang di tiap platform online shop yang kita gunakan untuk transaksi ini.

platform online shop dapat memberikan edukasi bagi para penggunanya mengenai sistem COD. Pemberian edukasi ini bisa dilakukan lewat platform yang bersangkutan, misalnya media sosial, dan sarana online lainnya. Nah, ini bisa jadi suatu langkah pencegahan loh agar tidak terjadi kasus-kasus karena ketidakpahaman menggunakan sistem COD. Pelaku penipuan dan pembeli yang melakukan hal-hal yang tidak pantas dapat dijatuhi hukuman yang sesuai.

Sistem COD yang belakangan ini viral pun menimbulkan pertanyaan nih, apakah sebaiknya COD dipertahankan atau dihilangkan?

Sebagai salah satu sistem pembayaran yang memberikan kemudahan, Sistem COD tidak perlu dihilangakan. COD ini hanya perlu pengawasan dalam penarapannya. COD harus dipahami dengan baik dan benar kepada siapa saja entah penjualnya, pembelinya, si kurirnya (pokoknya harus paham deh!). Oleh karena itu, alangkah baiknya diberikan kebijakan tambahan pada sistem COD ini agar kita semua dapat teredukasi sehingga lebih paham dalam penggunaannya dan meminimalisir kerugian yang dapat terjadi.