Tulisan ini saya buat berdasar pengamatan sejumlah program immersion ke luar negeri yang pernah diterapkan secara mandiri oleh kelas internasional di beberapa sekolah menengah pertama dan menengah atas di Ibu Kota.

Obat mujarab pendidikan kita adalah duit. Segudang model dan desain kurikulum sulit mengubah mimik pendidikan kita. Salah satu yang berhubungan dengan duit itu adalah program kelas internasional yang mengandalkan kurikulum campuran (blended curriculum) dan program Immersion.

Memang susah kalau mengandalkan pemerintah dalam pengembangan kelas internasional, khususnya yang berhubungan denga dana. Kenapa yang dibidik pendanaan mandiri untuk kelas internasional?

Salah satu alasannya adalah komponen keberhasilan kurikulum yang bernama “pendidik” atau menunjuk kepada pekerjaan guru, dosen, instruktur, tutor, dan sejenisnya, untuk sementara ini, dan mungkin ke depannya, sulit menemukan kata “ideal”-nya lagi.

Artinya, harap dimaklumi, kalau ada duit yang cukup menggiurkan, maka semangat mengajar mereka “sedikit” naik. Pendidikan kita tidak bisa mengandalkan model-model pengajar seperti ini, yang selalu merengek-rengek minta naik gaji. 

Daripada dana habis untuk hal yang tidak memberikan timbal balik yang sepadan, mending digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat. semisal pengembangan kelas internasional dengan pengajar yang profesional walaupun itu asing. 

Perlu diingat, ini bukanlah zaman para empu, nabi, rasul, atau orang suci lainnya yang “sangat amat teramat” bersemangat sekali dalam hal mengajar hingga berdarah-darah. Cukuplah susah didapatkan model-model seperti itu di masa sekarang ini.

Pada dasarnya, tidak ada yang baru dalam hal desain kurikulum itu. Paling banter kisaran improvisasi dan perbaikan tambal sulam sana-sini. Kalau perlu dibebaskan saja, dalam artian bisa dikombinasikan model dan desain kurikulumnya seperti di atas.

Bukti yang saya temui, walaupun itu sangat sederhana dan kecil, yang pasti ada perubahan yang cukup signifikan dengan memadukan pengembangan kelas internasional, kurikulum campuran, dan immersion program.  

Komposisi kurikulum campuran (blended curriculum) yang diimbangi dengan program immersion ke kelas-kelas di luar negeri cukuplah memberi bukti nyata daripada sekadar gonta-ganti kurikulum ataupun transformasi kurikulum yang pada akhirnya berputar-putar di situ-situ saja. .  

Dengan komposisi kurikulum fifty-fifty (lokal dan terinternasionalkan) pada kelas internasional dengan pengajar asing beserta bahasa pengantar asing pada mata pelajaran tertentu (unggulan), akan lebih nyata dampaknya daripada pelit dana dan hanya menyuarakan model-model teoritis ala transformasi kurikulum ataupun gonta-ganti kurikulum yang tak efektif tersebut. 

Program Immersion yang membawa siswa berinteraksi langsung di kelas-kelas sekolah yang mereka kunjungi di luar negeri terbukti banyak memberikan motivasi luar biasa dan bersemangat untuk membentuk kelas-kelas unggul yang poliglot (sisi bahasa) dan polimatik (sisi sains).

Istilah sederhananya, pendidikan kita agak kurang gizi. Dalam hal ini, "gizi" dalam artian luas, bukan dalam hal kesejahteraan pendidik saja, termasuk juga semangat mengajar dan semua komponen pendukungnya. Sedangkan gizi itu identik dengan dana.

Benar adanya bahwa dunia terus berubah setiap hari dan penemuan-penemuan baru terus bermunculan. Perubahan dan penemuan itu diharapkan bisa untuk cepat diserap dan disatukan ke dalam kurikulum pendidikan.

Dalam artian, akan selalu ada dan “mudah” dibuat teknik dan strategi pengajaran yang inovatif, seperti metode pembelajaran aktif (active learning) atau pembelajaran campur aduk (blended learning).

Bagaimana bisa sukses kalau kurang “gizi”? Kurikulum itu adalah currere, sebuah akar kata bahasa Latin yang mempunyai makna berat, “berlari” atau “berpacu” bak seorang kurir. Bagaimana bisa berlari dan berpacu kalau kurang “gizi”?

Teori-teori pengembangan pendidikan lewat transformasi kurikulum itu hanya berkisar pada dasar-dasar inti pengembangan desain dan modelnya saja yang dua itu, yaitu model produk dan model proses. Tidak terlalu istimewa jika dibandingkan dengan berlarinya sebuah kurikulum liberal (bebas).

Model produk berorientasi pada hasil. Kelas adalah tujuan utamanya dengan memberikan fokus lebih pada produk jadi daripada pada proses pembelajaran.

Sedang model proses, ini lebih terbuka, bebas dan berfokus pada bagaimana pembelajaran berkembang selama periode waktu tertentu. Seperti kreasi-kreasi pada kelas internasional dengan program immersion-nya.

Tugas-tugas administrasif pengajar tak perlu diulik-ulik lagi. Memang sudah tugasnya, dan itu sangat penting bagi kontrol dan pengembangan kurikulum yang berbasis proses.

Selama fase administratif yang menyangkut kurikulum, pengajar dapat mempertimbangkan faktor-faktor yang mungkin melengkapi atau menghambat kurikulum yang sedang dijalankan.

Kesibukan administratif itu bagian dari kelembagaan. Enak saja mau dilonggarkan. Kan, Anda semua digaji? Adalah lucu merengek-rengek minta dikurangi tugas administratifnya. Semestinya mereka para pengajar harus tetap disiplin di bagian ini.

Dengan kesibukan administratif tersebut, pendidik bertanggung jawab untuk dapat memastikan bahwa perencanaan kurikulum mereka memenuhi kebutuhan pendidikan siswa, dan bahwa materi yang digunakan adalah terkini, dapat dipahami, dan mempunyai instruksi yang koheren.

Membuat transformasi desain kurikulum itu mudah. Jangan terlalu diistimewakan. Apa susahnya mengidentifikasi apa yang akan dilakukan, siapa yang akan melakukannya dan kapan, serta apa tujuan dari setiap pembelajaran.

Apa susahnya mengumpulkan pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai seorang siswa untuk pindah ke tingkat berikutnya. Apa susahnya mengeksplorasi berbagai pendekatan dan metode pengajaran yang dapat membantu mereka mencapai tujuan mereka.

Desain kurikulum cuma ada tiga, kok. Yaitu, desain yang berpusat pada subjek (fokus sekitar mata pelajaran atau disiplin ilmu tertentu), kemudian desain kurikulum yang berpusat pada peserta didik (kebutuhan, minat, dan tujuan siswa).

Dan, yang terakhir adalah desain kurikulum yang berpusat pada masalah (mengajarkan siswa bagaimana cara melihat suatu masalah dan merumuskan solusi).

Yang susah itu adalah penggalangan dana mandiri tanpa merengek ke pemerintah kemudian didukung dengan kurikulum campuran yang bebas dan fleksibel serta diaplikasikan pada kelas-kelas internasional beserta immersion program-nya.