Freelance
1 minggu lalu · 748 view · 4 min baca · Agama 43052_69226.jpg

Kurban adalah Kritik atas Nalar Patriarki

Telah lama ritual iduladha diasosiasikan dengan ketokohan Ibrahim dan Ismail, dua orang laki-laki yang adalah bapak dan anak. Seakan Adha dan pengorbanan hanyalah sepotong kisah tentang Ibrahim saat hendak menyembelih putranya, Ismail. Ismail kemudian diganti Allah dengan seekor domba. Kelak dari sanalah umat islam kemudian merawatnya dengan tradisi kurban.

Padahal ada kisah lain yang mesti direkam oleh tangan sejarah selain Ibrahim. Ada salah perspektif laki-laki atas perempuan yang kemudian melahirkan kasuistik semisal kurban. Dari Arafah kita bisa menyibak kisah-kisah itu.  

Sebagai tempat sua dua anak manusia, Arafah adalah keping cinta yang disatukan oleh taubat Adam dan Hawa. Melalui Muzdalifah, kita berjalan menuju Mina. Mina adalah pengharapan (tamanna, umniyah), setelah Jibril pergi meninggalkan Adam dengan mengantongi sejumlah harapan ke Surga. Di sana darah ditumpahkan dan pengorbanan diteguhkan.

Andaikan Adam dan Hawa tak diusir, mungkin saja tak ada pengorbanan di bumi manusia. Habil dan Kabil lahir, lalu sejarah dicipta. Keduanya ingin mempersunting adik perempuannya, Iklimah. Tapi syaratnya harus mempersembahkan hewan korban pada Allah. Kurban Habil pun diterima, sedang kurban Kabil ditolak.

Entah mengapa sejarah tak memberitahu itu. Hanya ada beberapa alasan tentangnya. Satu, karena Kabil mempersembahkan domba kurus, yang kedua ia mempersembahkannya dengan sikap yang dengki. Konflik umat manusia pun bermula. Demi paras dan tubuh cantik Iklimah, Habil dibunuh kakak kandungnya, Kabil.

Habil yang adalah petani tekun, sedang Kabil adalah pemburu yang tangguh. Dua kelas sosial umat manusia perlahan terpetakan. Habil yang proletariat dan Kabil yang borjuis. Habil yang Penyabar, Kabil yang Gegabah. 


Dua kelas etik pun terbentuk. Altruisme Habil versus Egoisme Kabil. Kelas moral yang kelak harus dibicarakan oleh Kant, Stuart Mill, dan Rawls berhari-berhari di ruang universitas yang nyaman (Harari, 2018).

Habil yang berkurban dengan ikhlas, sedang Kabil yang berkorban karena hasratnya atas tubuh perempuan yang cantik adalah sejarah lain tentang komodifikasi tubuh perempuan. Iklima adalah korbannya dan Kabil adalah pelakunya. 

Persembahan kurban pun menyeleksi itu. Penolakan persembahan Kabil oleh Allah adalah bahasa lain tentang pentingnya cara pandang laki-laki atas perempuan. Ada bagian lain yang mesti dicitrakan oleh laki-laki selain tubuh perempuan.

Seperti ucap Murata dalam The Tao of Islam (1992), selain citra maskulin (jalal) Ilahi atas manusia, citra Feminis (jamal) Ilahi juga sangat berperan penting. Salah satunya pada rentetan peristiwa Adha di Arafah.

Arafah tak sekadar tanah. Ia adalah saksi atas perjumpaan Adam dan Hawa. Arafah adalah ruang bumi yang feminis, selain langit yang maskulin. Jumpa Adam dan Hawa berlangsung di sana, di Arafah.

Kelak, dari keduanya, bumi dirsetiki, dan kisah kurban tentang Ibrahim dimulai. Kalau boleh dibilang, Arafah adalah puzzle cinta dua anak surga yang terbuang, lalu bumi menerimanya secara lapang.

Ibrahim dan Ismail hanyalah puncaknya kurban. Sudah lama nama Ibrahim teguh sebagai pahlawan. Belum lagi tatkala ia digelari bapak tiga agama besar (padahal sekarang masih ada agama yang lebih besar dari tiga agama itu). 

Mungkin saja orang mengingatnya karena ritual kurban lebih dekat dengan perintah penyembelihan Ismail. Tapi ingat, ritual kurban tak melulu soal keduanya. Masih ada Hajar, si perempuan kuat yang lahirkan Ismail. Hajar adalah budak kulit hitam yang kelak jadi selir Ibrahim, hanya karena sekian lama pernikahannya dengan Siti Sarah tak juga menghasilkan seorang anak.

Kelak, beberapa tahun kemudian, setelah Hajar melahirkan Ismail, barulah Siti Sarah melahirkan seorang anak, Ishak. Dalam keluarga kecil Ibrahim, kecemburuan terus menyelimuti dua orang perempuan ini. Ditemani Ibrahim, Hajar pun memilih pergi ke padang tandus bersama Ismail.

Berbekal keteguhan, Hajar hanya menyerahkan perjuangannya menyelamatkan Ismail pada Tuhan. Ia harus rela berlari bolak-bolak dari Safa ke Marwah untuk mencari air bagi Ismail. Cinta dan perjuangannya Hajar hanyalah untuk menyelamatkan Ismail.


Hajar tak butuh Ibrahim dan keluarga formalnya sebagai peneguh batin kala ia melanglang buana bersama Ismail. Ia merdeka dan menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Ilahi. 

Ismail pun kelak tumbuh di tangan seorang perempuan hebat, Hajar. Kepergiannya bersama Ismail seakan pertanda fungsinya telah selesai bersama Ibrahim setelah peran reproduksinya usai. 

Dalam tradisi patriarki, perempuan kerap dianggap seperti itu: hanya pemuas nafsu dan reproduksi laki-laki. Tapi bagi Hajar, ia harus pergi lalu menumbuhkan anaknya.

Hajar adalah jalan kritis perempuan Islam. Kisahnya mengandung kritisisme terhadap patriarki. Ia merdeka dari Ibrahim dan menyerahkan (mengurbankan) dirinya secara totalitas bagi Allah. 

Hajar adalah kritik atas patriarki, rasisme, diskriminasi sekaligus formalisme keluarga. Ia adalah jalan cinta para pejuang. Tanpa Hajar, Ibrahim tak hadir sebagai tokoh kuat dalam sejarah. Bahkan Ismail yang adalah buah hati Hajar, kelak dipilih sebagai ikon pengorbanan dan keikhlasan. 

Selalu ada rantai sejarah antara seorang anak yang ikhlas dan ibu yang pejuang. Pengorbanan sebenarnya telah dimulai dari Hajar.

Ibrahim hanyalah tokoh puncak tentang pengorbanan. Namun batu bata sejarahnya diletakkan oleh Adam, Hawa, Iklimah, dan perempuan tangguh semacam Hajar. 

Seperti diutarakan Peter Berger (The Pyramid of Sarcrife), umat manusia hanya membangun sejarahnya dari sejumlah tumpukan korban. Ada yang mesti dikorbankan hanya untuk  menumbuhkan yang lain. Seperti belantara hutan, ada musim yang usai sebagai awal dari musim berikutnya. Dalam paradoks-paradoks itulah keikhlasan kemudian berbicara sebagai bahasa kemerdekaan yang paling tinggi.

Sepertinya Iklimah dan Hajar sama-sama sedang mengucapkannya secara lembut: "Kurban atas laki-laki dimulai dengan menyembelih perspektifnya yang kerap melihat perempuan dari tubuhnya."

Artikel Terkait