Program pemerintah berupa asuransi kesehatan yang pro rakyat, yang bersemboyan dengan gotong royong semua tertolong pada kenyataannya bisa berguna bagi masyarkat. Pelaksanaan BPJS sudah berlangsung selama tujuh tahun.

Sejak diluncurkannya BPJS di awal tahun 2014 sampai sekarang banyak orang yang belum begitu paham tentang asuransi ini. Bagi orang yang tahu dan mengerti tentang BPJS, bisa dipastikan orang tersebut akan ikut mendaftar BPJS. Masyarakat yang sadar akan arti pentingnya BPJS kesehatan, tentunya lebih memilih membayar asuransi yang terjangkau (ramah dikantong) tetapi bisa memberikan jaminan kesehatan maximal untuk kesehatan kita. Selama ini kualitas pelayanan yang diberikan BPJS sangat bagus, sesuai pengalaman saya sebagai peserta, pihak BPJS memberikan pelayanan maximal yang tentunya pro rakyat. Hal ini dibuktikan dengan tercovernya hampir semua penyakit yang dilayani oleh BPJS, cuma beberapa penyakit saja yang tidak tercover oleh pihak BPJS.

Sakit-sakit yang lumprahnya dialami oleh masyarakat, BPJS akan mengcover biaya pengobatannya. Seperti pengalaman saya saat pertama peluncuran BPJS saya menggunakan kartu BPJS untuk control kehamilan dan persalinan cesar saya di RSCM yang tentunya jika tanpa BPJS sudah menghabiskan puluhan juta untuk biaya kehamilan dan persalinan saya. Bayangin saja saat itu saya kehamilan pre-eklamsia sampai eklamsia (kejang) dengan resiko kematian ibu dan anak sangat tinggi. Beruntung dengan BPJS semua biaya control kehamilan sampai persalinan saya bisa tercover meskipun bayi saya meninggal.

Sayang sekali tidak semua orang bisa mengakses layanan ini, hal ini disebabkan karena kebanyakan dari masyarakat kita minim informasi. Contohnya seperti apa yang dialami oleh tetangga saya yang lebih memilih untuk tidak mendaftar BPJS pada saat keluarganya sedang membutuhkan BPJS untuk mengcover biaya perawatan istrinya yang sedang sakit berat. Padahal jika tahu BPJS itu bisa membantu, tentu tetangga saya akan memilih mendaftarkan BPJS untuk biaya perawatan istrinya.

Seperti yang terjadi oleh adik saya sendiri yang saat ini sedang hamil, dia memilih untuk tidak mendaftar BPJS, meskipun dia sadar bahwasannya resiko persalinannya nanti bisa cesar. Pernah sewaktu dia periksa kehamilannya dengan USG , bagi dia perut hanya di usap-usap dan disuruh liat monitor, oleh pihak RS dikenakan biaya Rp. 600.000. Harga itu diluar dugaan adik saya, pada ahirnya sampai saat ini dia akan memeriksakan kehamilan di bidan atau Puskesmas karena harganya terjangkau.    

Dengan minimnya sosialisasi masyarakat menjadi takut untuk mendaftar BPJS, apalagi sempat terdengar kabar hoax bahwa masyarakat yang sudah terlanjur mendaftar BPJS akan mendapatkan pelayanan kesehatan yang buruk karena asumsi biaya pelayanan yang begitu besar (kalau pakai biaya sendiri) tidak sebanding dengan pembayaran premi yang sangat murah. Oleh karena itulah mengapa program BPJS diwajibkan untuk setiap keluarga, melainkan untuk membantu saudara kita yang sedang sakit, walaupun sakit berat sekalipun.    

Minat pendaftar yang tinggi yang  tidak dibarengi dengan sosialisasi pihak BPJS kepada masyarakat membuat masyarakat merasa kebingungan mengenai cara mendaftar BPJS kesehatan. Idealny, pemerintah sejak awal gencar memberikan informasi mengenai BPJS pada masyarakat, sehingga tidak ada kegagapan dalam upaya keikutsertaa program BPJS kesehatan mandiri.  

Seringkali masyarakat kita menggunakan jaminan materi sebagai jaminan kesehatannya. Mereka rela menjual sawah ladang, sapi dan aset-aset lainnya sebagai jaminan kesehatannya. Akan tetapi saat ini para dokter menyarankan pasien untuk membuat kartu PBJS kesehatan mandiri dengan alasan kemanusiaan.

Diakui atau tidak masyarakat merasa gagap informasi ketika ingin mendaftarkan BPJS untuk keluarganya, terlebih dimasa pandemic sekarang ini. Semua pelayanan tidak bisa dilakukan secara tatap muka, melainkan harus secara online dengan menggunakan aplikasi di HP. Perlu kita ketahui bahwa tidak semua penduduk di Indonesia memiliki dan bisa mengoperasikan HP/android, terlebih orang pedalaman, dimana di desanya terkadang belum ada sinyal. Ruwetnya system pelayanan BPJS membuat masyarakat bingung dalam mengakses informasi. Satu-satunya rujukan yang bisa menolong masyarakat dalam mendaftar BPJS adalah melalui customor care di nomor layanan 1500400. Semua masalah pendaftaran ataupun informasi apapun tentang BPJS bisa di akses melalui kontak tersebut.

Keberadaan kartu BPJS sebagai asuransi kesehatan kita dan bisa menolong orang lain. Artinya, apabila kita tidak sakit anggap pembayaran premi yang kita bayarkan tiap bulan sebagai sodaqoh, dan apabila  sakit, kita sudah ada yang nanggung biayanya. Terkadang banyak orang berfikir bahwa membuat kartu BPJS sama halnya mengharapkan sakit, pikiran seperti itu perlu diluruskan. Dan satu lagi, karena peserta BPJS memiliki fasilitas gratis dalam mendapatkan rawat inap, rawat jalan, periksa di klinik/dokter/puskesmas, sehingga masyarakat yang belum tahu membuat kesimpulan bahwa fasilitas yang diberikan tidak seperti apa yang diberikan pada pasien yang berbayar.

Semestinya sosialisasi BPJS dilakukaan di tiap tingkatan pedesaan, sehingga masyarakat bisa lebih mudah untuk mengakses informasi mengenai cara pendaftaran BPJS. Dengan begitu diharapkan tidak ada lagi mis informasi atau bahkan ketakutan pihak masyarakat terhadap pendaftaran BPJS.