Seperti yang kita ketahui, orang tua merupakan salah satu faktor pengaruh dari sehat atau tidaknya mental anak yang dapat menentukan karakter, serta meninggalkan jejak yang tidak terhapuskan pada kepribadian seorang anak.

Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, depresi pada orang berusia 15 hingga 24 tahun meningkat pada tahun 2018, dan tidak menutup kemungkinan akan terus meningkat. Hal tersebut kemudian dijelaskan bahwa salah satu faktornya dipengaruhi oleh kualitas keluarga.

Baik buruknya aspek keluarga ini berdampak pada perkembangan anak menuju dewasa. Pola perilaku, keyakinan, dan pengaruh dari orang tua hampir selalu dapat ditemukan pada pribadi anak-anaknya.

Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa perilaku orang tua mudah diturunkan kepada anak-anak yang sedang mengalami pubertas yang jiwanya masih belum seimbang.

Kualitas rumah tangga atau kehidupan keluarga tentunya sangat berpengaruh dalam perkembangan kepribadian anak menuju keseimbangan dan kesehatan mental atau bahkan hal terburuknya dapat membuat psikologi anak menjadi sangat terganggu.

Berbagai penyebab yang biasanya terjadi adalah ayah dan ibu terlalu sibuk dengan masalahnya sendiri, perselisihan yang berlarut-larut, serta menginginkan anaknya untuk tunduk terhadap setiap pilihan yang mereka pilih tanpa memikirkan apa yang anaknya inginkan, dan senangi.

Lalu, kebutuhan fisik dan psikologis anak kemudian menjadi tidak terpuaskan karena tidak mendapatkan pelatihan fisik dan mental yang diperlukan untuk memahami bentuk tanggung jawab dan sikap disiplin.

Anak-anak sering merasa khawatir, bingung, terpojok, atau merasa tidak berguna sebagai akibat dari perlakuan buruk tersebut. Kemudian, anak-anak ini mencari bantuan dari kecemasan mereka di luar rumah.

Tidak sedikit dari mereka bergabung dengan geng yang kurang bermoral atau sekelompok anak kriminal yang menderita berbagai masalah mental. Mereka saling berbagi nasib karena merasa bahwa di tempat itulah mereka seperti dianggap sebab memiliki kesamaan masalah.

Anak yang tidak mendapat perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya terus menerus merasa tidak aman, seolah-olah kehilangan pijakan atau perlindungan. Kemudian, mereka memperoleh reaksi dari hasil yang mereka dapat seperti kepahitan hidup mengenai lingkungan keluarga secara tidak sengaja.

Anak-anak ini mulai merasa kehilangan sosok “rumah” yang di mana peranannya menjadi sesuatu yang aman, nyaman, serta damai untuknya berkeluh kesah. Namun, nyatanya tidak.

Mereka menjadi lebih suka menjelajahi dunia di luar keluarga dekat mereka. Anak-anak yang diasuh di rumah dengan sedikit atau tanpa pengawasan dan pelatihan disiplin yang teratur akan kurang mampu mengenali nilai-nilai moral dan etika yang kenyataannya harus diterapkan dalam lingkungan sosial.

Mereka menjadi terlalu bingung dan akhirnya berperang dengan dirinya sendiri tentang hal apa yang harus mereka lakukan tanpa melukai siapa pun. Kenyataannya, banyak diantara mereka yang berkembang menjadi tidak peka terhadap nilai kesusilaan, dan menjadi lebih rentan terhadap pengaruh negatif.

Kebanyakan orang tua lebih memilih untuk mengutamakan kebutuhan jasmani anaknya daripada kebutuhan perkembangan karakternya karena mereka beranggapan hanya dengan kebutuhan berupa materi, anak akan merasa senang dan tugas mereka sebagai orang tua sudah terpenuhi.

Tidak sedikit anak yang merasa dirinya tidak mendapat kasih sayang ini memiliki ego dan rasa amarah yang menjalar cukup tinggi pada dirinya. Disisi lain juga mereka ada yang cukup pendiam dan memendam segala emosi yang mereka rasakan karena takut dimarahi oleh orang tuanya.

Apabila tidak sepaham dengan orang tua, maka artinya mereka telah menentang keputusan orang tuanya. Pada media sosial juga sering sekali ditemukan postingan berupa keluhan-keluhan dari seorang anak yang merasa tidak nyaman bahkan terancam dengan sikap serta sifat orang tuanya.

Tidak jarang pula, mereka melakukan hal-hal yang melukai dirinya sendiri. Hal tersebut sering diketahui oleh banyak orang sebagai self harm bahkan yang lebih parahnya sampai melakukan bunuh diri.

Sebenarnya, seorang anak layak untuk mengatur, memulai, dan menentukan arahnya sendiri agar mampu mengembangkan kebebasan berpikirnya. Berkaitan dengan hal tersebut, karakteristik orang tua yang sangat mendominasi anak akan berdampak negatif terhadap perkembangan karakter anak dalam keluarga.

Hal ini dapat diamati dari kenyataan bahwa semakin banyak anak muda yang sehat dan cerdas, namun kepribadian mereka jauh dari harapan. Pada akhirnya, anak akan terus mengikuti aturan keluarga hanya karena mereka tidak ingin dihukum.

Hal tersebut dapat mempengaruhi keseimbangan hidupnya dan dapat dikatakan sebagai toxic dalam kategori keluarga yang kemungkinan besar akan berdampak jangka panjang pada kesehatan mental anak-anak.

Orang tua hanya memikirkan keinginannya sendiri tanpa mengetahui apa yang diinginkan anaknya. Terlihat jelas bahwa hal tersebut erat kaitannya dengan masalah komunikasi antara orang tua dan anak.

Lalu, langkah seperti apa yang baiknya dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anaknya supaya memiliki kesehatan mental yang baik? Kemudian, bagaimana cara mengatasi perilaku orang tua yang toxic bagi kesehatan anak?

1. Tetap fokus pada tindakan anak saat menghukum atau mengkritik kesalahannya. Katakan bahwa perilaku tersebut tidak pantas atau tidak diinginkan tanpa melabelkan anak tersebut sebagai "anak yang tidak tahu terima kasih" atau “anak tidak tahu diri”.

2. Ajari anak bahwa memenangkan atau mencapai tujuan bukanlah segalanya. Kenali bahwa hal terpenting dari menyelesaikan sesuatu adalah menikmati prosesnya.

3. Ketika anak berpartisipasi dalam suatu perlombaan, lebih baik tanyakan bagaimana perasaannya selama pertandingan berlangsung daripada menanyakan dirinya menang atau kalah. Menuntut agar anak menang sepanjang waktu dapat menyebabkan rasa takut untuk mencoba hal-hal baru.

4. Biarkan anak untuk mempelajari hal-hal baru dan bersosialisasi dengan orang lain terutama teman sebayanya agar mereka memiliki kemampuan dalam menyadari perilaku tertentu yang harus dihindari dan akibat dari tindakan apa yang telah ia lakukan.

5. Berikan contoh dan motivasi yang efektif untuk mengembangkan perilaku disiplin mereka, namun tetap disesuaikan dengan norma sosial serta prinsip agama agar tidak kehilangan arah.

6. Membangun suasana rumah yang hangat dan nyaman. Dengan menerapkan hal ini, anak akan mendapatkan kembali kepercayaan diri ketika menghadapi kesulitan dan masalah.

Oleh karena itu, hal-hal tersebut sangat perlu diajarkan orang tua kepada anak agar mereka memiliki kualitas pribadi yang baik untuk dirinya sendiri, dan orang lain sesuai dengan keyakinan serta prinsip hidup mereka selama ini dari berbagai perjalanan yang telah mereka tempuh.