Bayangkan berada dalam sebuah keluarga yang nyaris digilas nasib, tak ubahnya kawanan mamut pada penghujung zaman es. Pilihannya hanya dua: pergi berkelana atau mati sia-sia. Kamu memilih opsi pertama, tetapi kamu justru terjebak di tengah belantara tak dikenal.

Pagi belum terang benar, kaki masih sesekali terperosok ke dalam kubangan sisa hujan semalam yang bertebaran di jalan berlumpur. Akan tetapi, Simbah sudah menyapa dari ladang. Bajunya dicopot dan diikatkan di atas kepala seperti hachimaki orang Jepang. Tangannya menggenggam cangkul dan kakinya mulai belepotan tanah basah.

Masa lalu Simbah sebagai penggemar ceki membuatnya kehilangan banyak hal dan harus mengambil langkah tegas. Berangkat sebagai transmigran, ia merintis kembali kehidupan keluarganya dari nol. “Niat saya ke sini untuk bertani. Saya akan terus macul (mencangkul –pen) sampai hasil tanah ini bisa menghidupi keluarga,” tegasnya.

Simbah hanya salah seorang dari 250 KK yang saat ini mendiami Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) Sepunggur–satu dari sekian banyak kawasan transmigrasi di Provinsi Kalimantan Utara. Nyaris semua, kalau tidak bisa dikatakan memang semuanya, memiliki latar belakang yang mirip: kurang, wirang, atau utang.

Maka, keputusan untuk mendaftarkan diri sebagai peserta program transmigrasi menjadi semacam pertaruhan hidup. Meninggalkan gemerlap Pulau Jawa, seterpaksa apapun itu, bukanlah pengorbanan yang ringan. Malah kemudian harus menempati lahan di tengah rimba Kalimantan, menjadi beban lain lagi yang berlipat ganda.

Pun, kalau dihitung-hitung, satu tahun belum genap sejak pertama kali mereka menjejakkan kaki di Sepunggur. Kadar asam tanah gambut, siklus harian pasang-surut, kalender tanpa musim, dan serangan hama-hama endemik masih merupakan variabel eksperimen yang belum sepenuhnya tersentuh. Di laboratorium satu hektar yang dibagikan untuk setiap KK, semua masih terasa sebagai teka-teki tak terpecahkan.

Membawa semangat “kemanusiaan” politik ethiek sejak masa pendudukan Belanda, jaminan hidup (jadup) terus dialirkan untuk menutupi proses trial and error di periode awal transmigrasi. Satu setengah tahun, tidak lebih. Menariknya, pada rentang satu setengah tahun ini pula masyarakat dihadapkan pada dilema untuk bertahan atau pulang.

Warga setempat melakukan segala cara untuk bisa menyambung hari. Sebagian berkelana ke kawasan perkotaan terdekat, mencari apa saja yang dapat dikerjakan. Ada pula yang benar-benar sudah merelakan lahannya untuk sarang tikus hutan dan rumahnya untuk gua kawanan kelelawar, pergi entah ke mana dan tidak terdengar ada niatan untuk kembali.

Etos kerja Simbah tergolong kasus langka. Outlier, meskipun bukan satu-satunya. Ketimbang menelantarkan tanah yang dimilikinya, ia memilih untuk merawatnya, perlahan-lahan, hari demi hari.

Karena ini pula, Simbah banyak menghabiskan waktu di rumah, menjadi destinasi utama banyak keluarga lain untuk berkeluh-kesah atau sekedar bersua ramah. Di tengah minimnya fasilitas ruang publik, rumah kecilnya, dilengkapi nasi beserta lauk-pauk dan sayur-mayur yang selalu dimasak dalam jumlah berlebih, sudah terasa lebih dari cukup.

Namun, bentuk kehidupan komunal seperti itu justru tidak mudah ditemui di Sepunggur. Kerja bakti rutin mandek di tengah jalan setelah diwarnai sambat sana-sini akan nihilnya antusiasme sekelompok warga. Rapat warga sepi peminat, pun tidak ada yang menginisiasi.

Bentuk UPT yang dipimpin seorang Kepala UPT dari pihak Dinas Transmigrasi rupanya  gagal melahirkan sosok pemimpin idaman. Alih-alih dekat dan selalu ada untuk warga, tidak banyak orang tahu siapa dia dan apa yang dikerjakannya. Kuatnya pengaruh pemimpin adat turut menciptakan dualisme kiblat. Warga semakin skeptis dengan keadaan yang kelewat kompleks nun jauh di atas menara gading.

Kekosongan motor penggerak, beberapa mulai mencoba berlomba unjuk gigi. Hanya saja seringkali langkah ini terasa terlalu ambisius sehingga justru melahirkan kecurigaan akan modus kepentingan. Yang curiga ini menjadi apatis dan kerap menolak berpartisipasi. Dalam keadaan seperti ini, diskursus Franz Magnis-Suseno tentang etika Jawa, tentang keris yang dipasang di belakang punggung, kembali terngiang.

Konflik semacam ini bukan berarti tidak terjadi di tempat lain. Prasangka kerap membutakan pandangan justru sebelum interaksi dilakukan. Padahal, witing tresna jalaran saka kulina. Teori Johari Window sendiri mengamini bahwa keterbukaan orang lain merupakan timbal balik dari keterbukaan diri sendiri. Dengan tidak adanya kegiatan kolektif di lingkungan desa, dinding antar individu semakin tinggi dan semakin sulit untuk dibuatkan pintu.

Namun, sambil mengunyah sayur oblok-oblok yang dimasak Mbah Wedok (istri Simbah –pen) untuk makan malam, Simbah menganggap semuanya angin lalu saja. “Daripada memikirkan hal seperti itu lalu berprasangka buruk, lebih baik menggarap sawah dan menggali kolam,” sebut Simbah yang sebenarnya menjabat sebagai ketua RT, dituakan sebagai tokoh desa pula.

Di malam yang selalu hujan gemerlap bintang dan kunang-kunang itu, ia akan beranjak dari rumah menuju pos ronda. Bermain remi dengan sesama laki-laki tanpa memasang taruhan apa-apa (karena memang tidak ada yang dimiliki untuk bisa dipertaruhkan) menjadi temali penghubung ikatan kekerabatan–seperti rokok dan korek api yang saling pinjam-meminjamkan. Obrolan-obrolan ringan dipertukarkan.

Pada titik ini Simbah menikmati sikap yang diambilnya. Nerimo, tetapi tidak pasrah. Ia biasanya akan berkelakar menyebut dirinya sendiri tuan tanah (bayangkan memiliki tanah satu hektar di Pulau Jawa!) ketika yang lain malah mengeluhkan keadaannya yang belum layak tanam. Setelah puas bermain hingga ujung hari, ia tetap akan bangun pagi-pagi dan memeras keringat dari hachimaki-nya lagi.

Pada kenyataannya, kunang-kunang memang baru tampak terang di kegelapan malam. Keberadaan Simbah menjadi kandil, sekaligus memberi energi bagi kunang-kunang lain untuk ikut menyala dan saling menyalakan. Rupanya, dinding dan batasan-batasan yang beku bisa ditertawakan, melebur bersama tanah yang dicangkul.

Emha Ainun Nadjib pernah mengatakan bahwa di tengah kesengsaraan paling berat, manusia Indonesia yang sesungguhnya justru akan menjadikannya candaan. Benar belaka, transmigran tetaplah manusia Indonesia itu juga. Kepala yang semakin panas tidak lantas menutup pintu rumah dan menghentikan asap dapur mengepul.

Setiap pagi, tiap rumah menyediakan beberapa piring porsi ekstra untuk siapa saja yang datang berkunjung. Lebih-lebih kala jadup terlambat didistribusikan, satu sama lain saling berbagi hasil panen dan sisa jadup periode lalu. Tiap kali ada warga jatuh sakit atau dirundung masalah, berita mengalir cepat ke seluruh penjuru desa dan bantuan menjadi arus balik yang tak kalah deras–menghantam penjara pikiran buruk dan perasaan segan.

Kalau ditengok kembali dengan kacamata yang lebih jernih, Sepunggur adalah sasana bagi penduduk senasib-seperjuangan meski dilatari tujuan yang tidak sejalan. Percik tensi di sana-sini seperti bunga api las yang memang harus tersulut untuk menyambung bongkah-bongkah baja. Konflik tidak lagi dapat dipandang sebagai dinding, melainkan denyut nyawa yang membangunkan kunang-kunang tadi dari tidur lelap.

Suatu hari, di atas bumi menggelayut langit mendung. Tetapi sapa ramah pagi hari dari tengah ladang tidak hanya milik Simbah seorang. Gemanya terus bertambah ketimbang hari kemarin dan kemarinnya lagi. Di tanah antah-berantah ini, orang-orang kurang, wirang, dan utang bereksperimen dengan alam dan mencangkul mimpi-mimpi.


#LombaEsaiKonflik