Saat riset penulisan cerpen Rahel yang Urapi Bukit Zaitun, nama Marisa Papen itu muncul lagi. Yang pasti, dia bukanlah si Rahel dalam cerpen tersebut. Marisa yang ini adalah nyata adanya, Marisa yang jauh melampaui dari semua heroisme cerpen-cerpen perlawanan di tanah Kingdom of Jerussalem.

Marisa Papen yang seorang model majalah Playboy asal Belgia itu cukup sengit di dalam memberikan perlawanan nyata bagi kekuasaan tiran yang berkedok agama. Pose bugilnya di area Tembok Ratapan, Yerusalem, cukup menohok dominasi, diskriminasi, dan arogansi atas nama agama. 

Tentunya yang dilawan bukanlah negara Israel yang zionis itu. Akan tetapi, yang dilawannya adalah rasialisme oknum Rabi Yahudi yang sangat diskriminatif atas hak beribadah bagi kelompok lain di area suci tersebut.

Kalau yang dilawan zionis Israel, dipastikan akan berlarut-larut masalahnya. Itulah mengapa tidak ada penahanan atas dirinya setelah berfoto bugil di area suci Tembok Ratapan dan Masjidil Aqsa.

Berbeda saat pose-pose bugil di tempat suci lainnya, seperti di Mesir, Turki, dan Vatikan yang konservatif itu, Marisa Papen harus banyak berurusan dengan pihak berwajib. Ini membuktikan bahwa zionis Israel tak begitu peduli dengan simbol-simbol agama yang tak penting itu.

Sepertinya juga zionis Israel memahami dan mendalami apa yang disebut dengan dua mata manusia. Pertama, mata yang berfungsi indrawi yang materialis banget (visible the world) atau mata yang sering bikin adik horny. Yang kedua, mata jiwa (inteligibel), mata yang mengarahkan pada nilai-nilai ideal, termasuk seni.

Marisa Papen dengan anugerah dimensi sensualnya yang bersemampai badan setinggi 173 cm, berberat badan 55 kg, serta ukuran bra 34, sepertinya ingin menghidupkan lagi spirit dan arwah legenda cerita rakyat, The Naked Protester, Lady Govida.

Lady Govida adalah bangsawati Anglo-Saxon, Inggris, yang rela telanjang bulat pada abad pertengahan dengan mengendarai kuda serta berkeliling di jalanan kota demi sebuah protes atas pajak yang menindas rakyat dari penguasa. 

Dan tragisnya, penguasa tiran itu adalah suaminya sendiri, Leofric, Earl of Mercia dan Lord of Coventry. Suaminya akan menyanggupi penurunan pajak dengan syarat, Lady Godiva, yang istrinya itu, harus bertelanjang bulat seperti di atas. 

Berbeda dengan Marisa Papen, yang terlahir jauh dari kemuliaan dan keningratan bangsawati Inggris, dia tak perlu menyuruh mata dunia untuk menutup layar-layar antarmuka gawai mereka guna menghindari kebugilannya.

“Silakan saja dinikmati,” mungkin gumamnya. “Pasti kalian suka!”mungkin terusnya, hehehe….

Dia juga tak perlu meminta restu para pembesar agama di Kapel Sistina Vatikan, yang pada masa Renaissance telah memberi restu Michael Angelo untuk membuat lukisan-lukisan bugil di langit-langit bangunan tersebut.

Cukup baginya untuk berdiri sendiri sebagai pribadi yang bebas dalam melakukan perlawanan. Tak perlu juga menyuruh arwah Michael Angelo untuk susah payah melukis detail mancung putingnya, atau montok pantatnya.

Biarkan udara bebas Yerusalem menjadi saksi berdirinya rambut-rambut halusnya saat berpose memanjat dan bergesekan dengan tiang berbendera Bintang Daud itu.

Aksi protes tersebut telah Marisa tuangkan dalam sebuah tulisan bertajuk The Wall of Shame (Tembok Memalukan) yang ia unggah ke media sosial pada 23 Juni 2018 lalu, tentunya bersama foto-foto bugilnya.

Marisa Papen juga seorang aktivitas lingkungan hidup, khususnya yang berhubungan dengan konservasi laut. Sentilan-sentilan segar dan kreatif tentang pelestarian lingkungan dan polusi plastik di laut, ia sajikan dalam sebuah proyek yang bertajuk Plastic Sushi.

Wajar juga dia memilih aksi protes dengan telanjang di Yesusalem. Sebab, sudah menjadi salah satu tradisi bagi aktivis lingkungan hidup ketika protes dengan memakai teknik telanjang. 

Tradisi protes dengan telanjang di kalangan aktivis lingkungan hidup tersebut dinamakan dengan singkatan "ER" (Extinction Rebellion). Cara ini cukup full-scaled atau terukur sekali. Dalam artian, sangat efektif, termasuk juga sudah diperhitungkan risiko-risikonya.

Dua kata cukup mewakili gaya perlawanan ini, yaitu visible or risible, dilihat untuk didengar atau sebaliknya, ditertawakan. 

Protes telanjang sudah bertahun-tahun menjadi bagian agenda besar untuk menarik perhatian pada isu-isu lingkungan, hak-hak hewan, atau ketidaksetaraan gender. Melucuti pakaian adalah cara yang dijamin mendapatkan publisitas untuk keberhasilan mencapai suatu tujuan. Ketelanjangan sangat provokatif untuk menguji peran tubuh dalam kaitannya dengan pengaruh publikasi sebuah protes.  

Tubuh telanjang adalah subjek yang bisa dimanfaatkan untuk perlawanan bagi tiran yang tuli akan suara-suara keadilan. Ketelanjangan sekaligus sebagai objek represi yang akan terus-menerus menjadi martir yang rela hancur demi sebuah penyadaran dan jalan buntu.

Dengan cara apalagi agar telinga-telinga mereka mendengar? Tentunya, salah satu darinya, adalah memaku mata-mata mereka dengan erotisme yang dijamin lezat.

Meruntuhkan tembok yang telah dibangun untuk mengekang jiwa. Tembok yang mengekang pengelana di dunia. Tembok yang selalu mengawasi kebebasan kita. Dengan kata lain, inilah agama pribadiku, di mana kebebasan akan menjadi barang yang begitu mewah. (Marisa Papen)

Ketelanjangan di depan publik, baginya, bukanlah suatu hal yang memalukan. Hal tersebut tergantung pada situasi dan kepada siapa kita lemparkan bra dan celana dalam kita. Apakah kepada penonton? Atau kepada ketulian telinga-telinga penguasa tiran?