Aku cuma punya sedikit waktu untuk menjumpai Mella setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum kembali ke Jakarta. Ia tampak gembira ketika memelukku dan menyapa "Gimana kabarmu Eliza?". Tentu banyak perubahan dalam kurun waktu dua puluh tahun sejak kami lulus kuliah. Apa yang tak berubah dalam hidup ini? Satu-satunya yang tetap adalah perubahan itu sendiri.

Namun di antara beberapa perubahan, Mella tetap mempertahankan rambut ikalnya yang dulu.  Aku tak merasa heran jika ia tak tertarik pada penawaran salon kecantikan untuk jasa rebonding atau sekedar untuk menghitamkan rambut putihnya yang jauh lebih banyak dari yang ada di kepalaku. Bila dinilai dari sisi batin, jiwanya mungkin lebih sepadan dengan embah buyut dari embah buyutku, meskipun secara lahiriyah, usia kami sebaya. Ada sesuatu di dalam dirinya, yang berusia jauh melampaui umur kelahirannya.

Sebagai seorang dosen yang cemerlang di UGM, bukan suatu hal yang mengejutkan jika gelar PhD telah diraihnya dalam usia yang relatif muda. Sedangkan aku, sejak kecil selalu bermimpi pergi mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya, melacak jejak  inspirasi, lalu menulis. Kini, menjadi seorang jurnalis adalah cita-cita yang telah mewujud jadi nyata. Aku dan Mella seperti dua kutub magnet berlawanan yang saling tarik menarik. Aku sebagai jurnalis yang gemar bertanya dan Mella sebagai dosen yang pandai menjelaskan.

Sepoci teh panas untuk sementara menemani obrolan kami tentang suami dan anak-anak. Tapi sejak dulu, topik obrolan kami tak pernah jauh dari agama. Baik online maupun offline. Inilah benang merah persamaan yang mengikat kami berdua menjadi sahabat. Di antara sedikit kawan yang selaras, Mella adalah salah satunya.

Ketika Pelayan kafe datang menyajikan makanan yang kami pesan, aku menyempatkan diri menengok telepon seluler untuk membuka notifikasi yang baru saja masuk. Sebuah  video memutar rekaman acara kajian agama, di mana secara kritis seorang santri bertanya tentang kriteria masuk surga. Kami bersama-sama menyimaknya.

"Setahuku selain mumpuni dalam ilmu agama, Gus Ali juga telah menempuh ajaran tasawuf", kataku membahas isi video tadi. Mella masih nampak serius menyimaknya. Entah dia mendengar omonganku atau tidak, namun aku tetap melanjutkannya "Tapi sejujurnya aku kecewa dengan jawaban Gus Ali", lanjutku. "Tanpa mengurangi rasa hormatku pada beliau". Mella mengangguk kecil.

Kami mulai menyantap hidangan yang telah tersaji. Mella menjamu tamu jauhnya ini dengan makanan khas Yogya yang nyaris tak pernah kujumpai di Jakarta, seporsi gudeg dan sepiring lenjongan, semacam jajanan pasar yang terdiri dari beberapa macam makanan, seperti tiwul, ketan hitam, ketan putih, gethuk, sawut, cenil, dan klepon. Semuanya tersaji  di atas piring kecil yang terbuat dari anyaman rotan, dengan dilambari sehelai daun pisang.

"Biasanya pandangan Gus Ali cukup moderat", kata Mella menjawab komentarku. "Tapi, ia masih melihatnya dari dalam kotak. Enggak seperti Rumi yang sudah keluar dari kurungan doktrin". Ah, aku baru mengerti sekarang, ternyata bukan Gus Ali yang membuatku kecewa, melainkan ekspektasiku sendiri yang terlalu tinggi terhadapnya. 

"Kali ini Gus Ali memberikan jawaban secara syariat", kata Mella menjelaskan ."Dan dengan mengatakan wallohua'lam, ia sedang menghindari penjelasan hakekat". Rasa antusias menyimak penjelasan Mella tidak mengurangi kenikmatanku menyantap gudeg selezat ini. Makanan khas daerah memang lebih nikmat disantap di tempat asalnya.

"Keraguan dalam nada bicaranya bukan karena ia tidak tahu, sepertinya  ia memang sedang berhati-hati". Jawaban Mella telah menghadirkan kesadaran baru buatku, bahwa Gus Ali adalah seekor kupu-kupu yang sedang bicara dalam bahasa ulat, karena ia sedang berhadapan dengan para ulat yang tak mungkin mengerti bahasa kupu-kupu. Namun di luar kotak, ia terbang seperti Rumi sebagaimana layaknya seekor kupu-kupu. Tidak semua jiwa siap berkenalan dengan hakekat, ia menyadari hal itu sehingga memilih bahasa syariat untuk menjawab pertanyaan tadi.

Panasnya udara di luar mungkin disebabkan oleh situasi politik yang tengah membara di negri ini. Namun beberapa pohon rindang yang tumbuh di pekarangan kafe telah bisa menyumbangkan kesejukan. Teras berbentuk joglo membuat kesejukan itu mengalir  masuk dengan leluasa melewati jendela-jendela berukuran besar. 

Aku jatuh cinta pada gaya arsitektur bangunan yang bercorak tradisional Jawa Tengah ini. Kami memilih untuk duduk di ruang utama yang dikelilingi oleh gebyok ukiran,  serta dihiasi dengan beberapa ornamen khas Yogyakarta.  Para bule tampak mengisi beberapa meja dengan kursi antik yang terbuat dari anyaman rotan.

Memang tidak mudah menjadi guru agama yang sejati di muka bumi ini, apalagi di Indonesia, salah sedikit resikonya besar. Tidak sedikit pemuka agama di negriku yang dikafir-sesatkan secara sembarangan yang -lucunya- justru dilakukan oleh orang-orang yang sesungguhnya masih sesat, namun mereka tidak menyadari.

"Dakwah semacam ini banyak sekali beredar di mana-mana Mel. Gus Ali masih lebih baik menurutku, tapi yang lebih fanatik banyak". Beberapa teguk teh poci yang hampir dingin memberi jeda sejenak untuk meredakan emosiku sebelum berkata "Ini menjadi sumber konflik jika kriteria masuk surga ditentukan berdasarkan agamanya. Karena para kelompok agamis menggenggam erat kebenaran bagi agamanya masing-masing dengan menempatkan surga sebagai hak agama mereka sendiri". 

Aku berkata sambil menusukkan garpu dengan sedikit hentakan pada potongan getuk di atas piringku, seolah memang ingin mencabiknya. "Betul Liz, aku setuju". Jawabannya singkat namun cukup untuk meredakan kekesalanku. Aku bukan Mella yang tarikan dan hembusan napasnya penuh makna. Salah satu peran Mella bagiku adalah ketika aku mulai mendidih, Mella adalah air dingin yang membuat air dalam diriku menjadi sejuk.

"Tapi jangan salah Eliza. Keyakinan manusia bahwa agamanya pasti akan mengantarnya masuk surga, itu sejatinya berasal dari kerinduan mereka pada kasih Tuhan. Kerinduan itu fitrah adanya", kata Mella sambil memindahkan beberapa makanan lenjongan ke dalam piringnya.

"Tapi keyakinan bahwa agama lain tidak bisa mengantar pemeluknya masuk surga, itu adalah suara ego. Maka kerinduan menjadi tidak fitrah lagi. Ego inilah biang keroknya". Mella berhenti untuk meneguk teh  yang masih tersisa di dalam cangkir sementara aku menghabiskan potongan getuk yang ada di piringku.

Tapi kemudian pikiranku menari-nari  sendiri,  diiringi musik gamelan dan tembang Jawa yang memenuhi ruangan dengan irama etnis-nya. Begitu beratkah bila kita cukupkan keyakinan di awal berupa kerinduan yang fitrah bahwa 'kita semua bisa masuk surga'.  Itu saja. Tanpa ego yang mengatakan 'kalian masuk neraka'. 

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ajaran Islam menginginkan pemeluknya untuk sesering mungkin mengucapkan kalimat itu. Agar selalu ingat bahwa cinta kasih Tuhan bersifat menyeluruh bagi alam semesta. Apakah orang yang berbeda agama bisa masuk surga? Jika Tuhan menghendaki, mengapa tidak? Apa yang tidak mungkin bagi Allah? Segalanya mungkin.

"Biar bagaimanapun ada bagian yang aku sukai dari jawaban Gus Ali". Aku membuka pembicaraan lagi setelah sadar dari lamunan. "Dia bilang beragama Islam saja belum cukup. Tapi harus disertai juga dengan akhlak mulia untuk bisa masuk surga". Dengan kata lain, secara umum, beragama saja tidak cukup, tetapi harus menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur. Itulah syaratnya.

Mella langsung menyambung "Loh, memang itulah tujuan agama, yaitu membentuk akhlak mulia", kata Mella melanjutkan. "Setiap ajaran suci agama dengan segala perbedaan ritualnya, semuanya punya tujuan sama, yaitu menghapus ego dari hati manusia dan mengisinya dengan cinta kasih, sehingga terbentuk manusia yang baik budi pekertinya".

Aku jadi teringat kisah tentang Rabi'ah Al-Adawiyah yang membawa obor di tangan kiri dan seember air di tangan kanan. "Aku ingin membakar surga dan memadamkan api neraka". Katanya.  Sindiran bagi orang-orang di jaman itu yang dianggapnya bertransaksi untung rugi dengan Tuhan. Perempuan sufi itu ingin menyampaikan pesan bahwa  ibadah dan berbuat baik itu bukan untuk surga dan neraka, tapi karena di dalam hati ada cinta pada Tuhan dan kasih pada sesama.

Cukup lama kami terdiam sebelum akhirnya Mella berkata "Semua orang  ingin masuk surga, meski  tak ada satu pun di antara mereka  yang ingin  ke sana secepatnya. Bagaimana jika dikatakan bahwa di sini juga ada surga yang letaknya sangat dekat. Di manakah? Di dalam batin yang penuh dengan cinta. Begitu penuhnya dengan cinta hingga tak ada lagi celah yang tersisa bagi kebencian. Semua tempat akan terlihat indah di mata seseorang yang batinnya penuh kasih. Itulah surga". Aku menuangkan isi teh poci yang penghabisan.

"Lalu di manakah neraka? Di dalam batin yang dipenuhi oleh kebencian. Karena kebencian adalah api neraka yang membakar diri manusia itu sendiri, bukan orang lain". Mella menguraikan filosofinya sementara aku larut mengikuti alurnya. "Pada akhirnya cinta juga harus dilampaui, sehingga yang ada hanya keheningan". Aku mabuk kepayang oleh kata-kata yang diucapkan oleh Dewi Kwan Im yang ada di depanku ini.

"Bagiku, konflik antar agama terasa sebagai ironi, karena berlawanan dengan tujuan agama yang sebenarnya", kataku.

"Karena ketika manusia berada di kulit agama, segala yang dilihat adalah perbedaan, perbedaan dan perbedaan”, jawab Mella.

"Bukankah seharusnya agama mempersatukan Mel?"

"Nah, yang mempersatukan adalah spiritual. Begitu manusia telah menyentuh inti agama, yaitu spiritual, maka yang ditemukan hanya satu keseragaman".

"Lalu apa bedanya agama dan spiritual Mel?"

"Agama meyakini bahwa Tuhan itu ada, namun spiritual menyadari bahwa Tuhan itu hadir. Hadir dalam kasih". Mella seperti sumber mata air yang tak pernah kering.

Hari sudah siang. Selain aku dan Mella, pengunjung kafe lainnya telah berkali-kali berganti wajah. Tidak tersedia banyak waktu lagi bagi kami untuk melanjutkan obrolan.  Meskipun percakapan kami tentang Tuhan tak akan pernah ada habisnya.

Piring dan cangkir kami telah kosong ketika kami bersiap meninggalkan kafe.  Aku memeluknya agar bisa sedekat mungkin mengatakan  "Senang sekali bisa ngobrol denganmu Mella, semoga kita bisa ketemu lagi jika waktunya selaras". Kami saling melepaskan rangkulan. "Enggak perlu Eliza!", jawab Mella. "Kita enggak memerlukan keselarasan apa pun kecuali jika kamu adalah garis lurus".  Ya, aku belum sepenuhnya menetap di ruang kesadarannya, kadang aku menjelma garis lurus.

"Eliza, kalau kamu adalah ruang hening yang maha luas, apa yang bisa dan tak bisa selaras denganmu? Bagi sebuah ruang, segalanya telah selaras. Justru merekalah yang memerlukan keselarasanmu". Dewi Kwan Im itu  mengakhiri pertemuan kami.

Aku duduk sendirian menunggu kereta yang akan mengantarku pulang ke Jakarta. Kubuka catatanku untuk menulis:

Dear My Self

Bila di tengah kegelapan ada seseorang yang mampu melihat cahaya walaupun seredup nyala lilin, ia akan mengikuti jejak sinar itu, yang bakal menghantarnya sampai pada cahaya yang lebih mencerahkan lagi. Begitu seterusnya hingga pada akhirnya ia akan bertemu dengan mataharinya sendiri. Pencerahan.

Kuselesaikan catatanku dalam satu paragraf. Keretaku belum datang. Di hadapanku membentang area luas yang dilewati oleh empat baris rel kereta. Angin terasa kencang mengibarkan kerudungku. Lagu Liebestraum dari Franz Liszt mengalun lewat piano yang berdenting.

Surakarta, 14 Oktober 2019