Mahasiswa kali ini disodorkan dengan hal-hal yang menjadi kesesuaian dengan namanya. Konsep mahasiswa, secara sederhana, adalah belajar. Belajar tentu keharusan yang tak boleh diabaikan. Namun, belajar jangan disempitkan semata ruang kelas.

Belajar dalam arti luas dapat kita pahami menjadi belajar asas, teori, konsep, metodologi secara terstruktur, lengkap dengan pendasaran-pendasaran teoretisasinya. Sementara, belajar juga didapatkan melalui pengalaman hidup, baik secara sosiologis, antropologis, sosial, dan lainnya. Kemudian, dipertajam kembali dengan praksis dari teori tersebut. 

Lalu, mahasiswa dengan ketajaman berpikirnya membuat dirinya memiliki sifat yang reflektif. Dari sifat reflektif ini mengantarkan pribadinya pada sikap kepedulian pada dirinya dan meningkatkan kepekaan sosial. Hal itu sangat perlu untuk membaca dan merespons realitas di sekeliling kita.

Apalagi di tengah situasi yang kian modern, dan kini sudah masuk pada era yang mana kebenaran menjadi tidak tampak, ketimbang opini atau isu yang makin populer. Sehingga, opini mencuat naik dikonsumsi masyarakat menjadi kebenaran ketimbang fakta kebenaran itu sendiri. Fenomena seperti ini disebut dengan era post-truth. 

Era yang disebut dengan pascakebenaran ini menggejala di tengah masyarakat kita. Makin gencarnya perkembangan teknologi dan ideologi-ideologi yang cenderung mengarah kepada ketidaksesuaian dengan nilai Pancasila membuat makin kompleksnya kehidupan manusia. 

Kendati demikian, mulai banyak dampaknya, sebagaimana perilaku yang kali agaknya—mulai terjadi (sebagian) boleh dikatakan tidak sedikit, tentang minimnya adab, misalnya.

Krisis yang menggejala di tubuh masyarakat Indonesia ini, khususnya mahasiswa, perihal adab, menjadi penting selain ilmu yang dimilikinya. Seperti tidak jarang mahasiswa yang santun dalam berbicara, bersikap, dan bertindak. Termasuk menanggapi perihal klaim istilah mahasiswa kupu-kupu dan aktivis organisasi.

Kita tidak boleh menyalahkan mahasiswa yang “kupu-kupu”: kuliah-pulang, atau menyalahkan mahasiswa yang notabene aktif di kampus (yang menyibukkan dirinya (aktivis) di kampus, seperti mahasiswa yang ikut komunitas-komunitas, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dan organisasi kemahasiswaan) atau kerap disapa aktivis.

Begitu pun mahasiswa yang kuliah pulang-kuliah pulang jangan diidentikan pada perilaku yang apatis. Sering kali label mahasiswa apatis ini menjadi alat untuk argumentasi, celaan, mahasiswa yang notabene organisatoris atau aktivis untuk mengeklaim kondisi mahasiswa. Mereka semacam menilai secara generalisasi.

Padahal, belum tentu yang kupu-kupu itu tidak memiliki watak, gagasan, kompetensi yang biasa dimiliki oleh yang tidak kupu-kupu, begitu sebaliknya. Tindakan demikian harus disikapi dengan mawas diri (introspeksi diri) agar tidak membuat klaim-klaim sepihak yang membawa perilaku tercela alias merugikan, mencederai pada pihak lainnya. 

Alangkah indahnya jika praktik sikap kebijaksanaan ditampilkan, sehingga tidak ada lagi cap atau kendala yang memungkinkan terjadi perselihan di antara organisatoris dan non-organisatoris.

Berani Berterima Kasih, Maaf, dan Minta Tolong

Dewasa ini, seiring pesatnya arus modernisasi, menjadikan perilaku manusia dituntut serbacepat dan mengikuti perkembangan modernisasi. Arus ini berdampak pada adanya pergeseran nilai kehidupan, seperti tidak sedikit (sebagian mungkin) yang berani untuk berbicara; terima kasih, maaf, dan meminta tolong kepada orang lain.

Tidak sedikit pulalah (sebagian mungkin) mahasiswa di wilayah perkotaan (urban) mengaplikasikan nilai tersebut. Penulis bukan bermaksud melakukan klaim absolut dan sepihak, namun ini dapat dijadikan pijakan sebagai refleksi dan muhasabah diri.

Ihwal manusia adalah makhluk sosial, yang tidak dapat hidup sendiri, membutuhkan orang lain. Maka, sudah tentu, dalam hal ini, mahasiswa di mana pun ia berada harus memperhatikan perilaku dirinya, merawat, dan membiasakan adab ini. Inilah adab yang sangat sekali mendasar dalam kehidupan. Dengan praktik perilaku yang demikian adalah akhlak yang terpuji. 

Dengan demikian, tidak ada yang orang yang tercedai. Begitu anggun pengamalan nilai-nilai adab ini. Jadi, perilaku ini bukanlah hal sepele atau remeh-temeh, melainkan hal mendasar dalam pelajaran hidup.

Praktik Iman dan Ilmu

Sejujurnya, mahasiswa harus menempatkan dirinya dengan praktik nilai kebijaksanaan. Bijak sejak dalam pikiran dan perbuatan. Sehingga, bijaksana dalam bersikap, berbuat, dan bertindak ini menjadi komponen wajib bagi mahasiswa. Oleh karena itu, mereka dibekali dengan segudang ilmu pengetahuan, wawasan, dan tentunya nilai moralitas-etik.

Dengan mahasiswa dibekali segudang ilmu dan pengetahuan itu sejatinya memaksimalkan perannya di tengah kondisi saat ini. Mahasiswa menjadikan dirinya sesuai dengan predikat dirinya—cendekiawan progresif. 

Cendekiawan progresif merupakan istilah mengaksentuasikan pribadi mahasiswa untuk selalu berupaya meningkatkan kualitas iman dan ilmunya, agar kemudian dapat berperan dengan progresif (berkemajuan) di tengah kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara.

Iman dan ilmu akan membawa pribadi yang berakhlak dan predikat umat terbaik dapat terwujud. Mencapai derajat umat terbaik (khoiru ummah), yakni dengan di antaranya memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, dan menjalankan perbuatan ma’ruf, serta mencegah perbuatan yang munkar

Senada dengan itu, mahasiswa haruslah beriman. Beriman dan bertakwa kepada Allah dan dibarengi dengan ikhtiar berproses untuk menjadi seorang pembelajar terbaik. Pembelajar dengan melakukan pendalaman ilmu agama, umum, kemudian diaktualisasikan dalam kehidupan.

Aktualisasi ini harus dengan usaha maksimal dan tetap dengan perilaku yang sabar, santun, bijak, dan jujur. Dengan demikian, nilai mahasiswa—cendekiawan progresif—itu tidaklah hanya sebatas simbol atau sampai pada wacana melangit, melainkan turun ke bumi, kemudian hidup dan menghidupkan (turun dari wacana ke praksis kehidupan).

Memang mudah berucap seperti di atas, namun dalam bertindak itu menjadi sulit. Namun pemikiran demikian yang menimbulkan penyakit. 

Alasannya, mahasiswa merupakan laboratorium intelektual—cendekiawan progresif sejatinya memang harus mengupayakan dengan maksimal, ber-ijtihad, dan tidak mengatakan, "mudah berucap, bertindak sedikit”. Kalimat demikian membawa pada sifat mengeluh, malas, dan pada akhirnya sedikit bertindak.

Akhir kata, jangan sampai mahasiswa mencadi berkemunduran (dekadensi), bukan berkemajuan (progresivitas). Dan jangan sampai pula perilaku-perilaku tercela menjadi suatu kewajaran, dan kewajaran tersebut menjadi terstruktur, sistematis, dan masif. 

Mahasiswa, sekali lagi, wajib maju sejak dalam pikiran, perilaku, dan perbuatan. Sehingga, mahasiswa sebagai cendekiawan progresif tadi menjadi nyata.

Oleh sebab itu, mahasiswa dengan meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan ilmu, serta mengaktualisasikannya dalam kehidupan dengan bijak adalah suatu keniscayaan. Dengan begitu, kebermanfaatan akan selalu ada dan mengalir, dan dapat terwujudnya peradaban yang berkeadaban dan mencerahkan berkemajuan.