Sudah sejak beberapa tahun belakangan ini, fenomena perselingkuhan yang melibatkan orang ketiga laris manis menjadi bahan perbincangan. Kebebasan beropini dan lancarnya bermedia sosial membuat permasalahan pribadi seperti konsumsi publik.

Keretakan rumah tangga menjadi barang murah, tidak lagi dijaga kerahasiaannya. Seolah-olah, perselingkuhan terjadi wajib diketahui semua orang, agar pelaku kapok dan menjadi sasaran perundungan warganet.

Namun, fenomena yang terjadi selanjutnya adalah aksi main hakim sendiri, baik secara verbal maupun nonverbal terhadap pihak-pihak yang terduga terlibat dalam perselingkuhan. Hingga pada akhirnya, muncul istilah "pelakor" atau perebut laki orang.

Perempuan dan Pelakor

Entah siapa yang memulai atau mencetuskan istilah perebut laki orang. Tetapi yang pasti istilah itu muncul dan langsung menjadi istilah baru di lingkungan dunia maya. Perebut laki orang, tentu adalah perempuan. 

Semua cerita tentang perselingkuhan yang viral, baik di media sosial atau media massa, pastilah menonjolkan konflik antar sesama perempuan: korban dan perebut. 

Korban akan menonjol sebagai pihak yang paling tersakiti, yang secara otomatis menggiring opini publik untuk merundung pihak perebut terlepas dari bagaimana kronologi awal cerita bermula.

Tidak ada yang salah dari curahatan hati perempuan korban perselingkuhan. Sebagai pihak yang tersakiti, wajar bila rasa marah dan kecewa begitu merasuki mental dan pikiran sehingga membuat tindakan yang diambil terkadang terbawa pengaruh emosi. 

Namun faktanya yang sering terjadi kini, perempuan yang dicap pelakor mendapatkan cacian yang sedemikian rupa melebihi laki-laki pelaku perselingkuhan. 

Malah terkadang lelaki pelaku perselingkuhan berada di posisi paling aman, sebatas meminta maaf, kembali kepada pasangan, dan publik melupakan. Tetapi perempuan yang mendapat label "pelakor" akan menanggung beban tersebut hingga seumur hidup.

Pada akhirnya terbentuk stigma dalam masyarakat, bahwa perselingkuhan yang terjadi akibat godaan perempuan yang kemudian disebut “pelakor”.

Bila kita menarik benang merah dari setiap kasus perselingkuhan, tidak ada pelakor tanpa adanya tangan terbuka lelaki menerima kehadirannya.

Lelaki yang telah menikah, telah pula mengikrarkan janji suci untuk sehidup dan semati dengan pasangan. Mengapa disebut janji suci? Sebab, janji yang diucap sebenarnya bukan kepada sang perempuan, tetapi kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena itulah pernikahan termasuk dalam sebuah ibadah yang sakral.

Lelaki yang bahkan telah menodai janjinya dengan tidak menjaga pandangannya terhadap sosok perempuan lain sudah pasti telah berkhianat. Lelaki yang memegang komitmennya akan menghindari terjadinya pertemuan atau obrolan intensif dengan lawan jenis bukan pasangannya.

Tak bisa dipungkiri, perselingkuhan berawal dari mata. Menatap perempuan yang lebih cantik, lebih muda, lebih menarik dari pasangan mudah membuat lelaki terperosok kepada jurang kenistaan. 

Apalagi bila perempuan tersebut juga memberikan godaan umpan balik yang sedemikian dahsyatnya. Namun itulah ujian hebat yang sudah barang tentu akan dihadapi setiap lelaki sepanjang hidupnya, yang bahkan tercantum pula di dalam kitab suci: perempuan.

Karena hipotesis itulah, perempuan menjadi pihak yang paling rentan mendapatkan penghakiman di dalam masyarakat. Korban, tidak selamanya dalam posisi aman. 

Terkadang masyarakat yang patriarki akan mempertanyakan mengapa seorang suami bisa berselingkuh, apakah karena istrinya kurang cantik? Kurang cakap mengurus rumah tangga? Kurang peduli dan perhatian terhadap suami? 

Hingga kemudian pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat posisi perempuan korban perselingkuhan menjadi sangat insecure dan justu menyalahkan diri sendiri atas perselingkuhan yang terjadi.

Sementara perempuan yang mendapatkan cap "pelakor" akan selamanya hidup dengan label tersebut di keningnya. Padahal, sesungguhnya dia tidak akan menjadi "pelakor", bila lelaki tidak menerima kehadirannya.

Karena itulah, berhenti menggunakan istilah "pelakor" pada sebuah kasus perselingkuhan. Perselingkuhan terjadi bukan karena "pelakor", tetapi karena dua orang berkomitmen menjalin hubungan tersembunyi, sementara salah satu di antara mereka masih terikat komitmen dengan pasangan.

Berhenti menghakimi perempuan korban perselingkuhan dan perempuan yang terlibat perselingkuhan. Salahkan dan pertanyakan mereka yang berkhianat dan tidak menepati janji.

Bagaimana menghadapi Pasangan yang Berselingkuh?

Saya selalu yakin, tidak akan ada perselingkuhan tanpa adanya kesepakatan antara kedua belah pihak untuk membangun hubungan. Tidak ada perselingkuhan yang terjalin tanpa adanya ketertarikan kedua belah pihak. 

Adalah bullshit, bila seorang lelaki berkata “aku tidak mencintai perempuan itu!” tetapi nyatanya ia telah berselingkuh dengan seorang perempuan berbulan-bulan lamanya, atau bila seorang lelaki berselingkuh berkata, “aku minta maaf, ini adalah sebuah ketidaksengajaan.” 

Kalau memang sebuah ketidaksengajaan, mengapa hubungan terus berlanjut? 

Kata-kata demikian yang selalu saja menjadi tameng pembelaan lelaki yang berselingkuh. Selingkuh itu karena ada rasa, bukan karena kecelakaan atau tidak cinta tapi kasihan.

Lantas, bagaimanakah bila kita mengetahui atau bahkan memergoki pasangan kita berselingkuh? Di sini saya sama sekali tidak menganjurkan aksi main hakim sendiri baik kepada pasangan maupun kepada selingkuhannya. Sebab tindakan itu hanya akan membuat keadaan semakin runyam. 

Cobalah untuk bertanya baik-baik kepada pasangan, bagaimana awal mereka bertemu? Di sinilah, kejujuran lelaki diuji. Lelaki yang pandai berbohong atau berkelit, akan memposisikan dirinya sebagai korban. 

Mereka pasti akan menyalahkan perempuan yang menggoda, atau seperti yang sudah disinggung sebelumnya, menggunakan istilah “aku tidak cinta” atau “aku tidak sengaja.”

Namun lelaki yang berjiwa besar akan mengakui perbuatannya dan meminta maaf. Lalu apakah kita perlu memaafkan pasangan yang berselingkuh? 

Saya pribadi berpendapat, memaafkan itu wajib, tetapi menerima dia kembali sebagai pasangan adalah tindakan yang tidak dianjurkan. Sebab, lelaki akan mengganggap dengan mengulang kesalahan yang sama, maka kita akan mudah menerima dan memaafkan kembali. 

Pengkhianat yang tidak menepati janji, perlu mendapatkan efek jera. Berilah dia waktu untuk merenungi kesalahannya, untuk memperbaiki dirinya, sebelum dengan mudah menerimanya kembali di dalam hidup Anda. Dan, proses memperbaiki diri tidaklah sebentar. 

Bila dia mencintaimu dia akan memahami hukuman yang Anda berikan, berusaha untuk berubah dan kembali kepada diri Anda.

Perselingkuhan bukan Konsumsi Publik

Terkadang efek jera yang diberikan korban perselingkuhan adalah dengan melakukan blow up peristiwa yang dialaminya, dengan harapan pasangan yang berselingkuh dan selingkuhannya mendapatkan ganjaran sosial dari masyarakat. 

Niat baik untuk berbagi cerita memang tidak salah, tetapi hindari untuk mengunggah sesuatu yang bersifat privasi seperti foto atau identitas pelaku perselingkuhan. Selain karena melanggar UU ITE, tindakan seperti itu justru akan menjadi senjata makan tuan bagi diri korban sendiri. 

Seperti yang sudah saya bahas sebelumnya, kita masih tinggal di antara masyarakat dengan sistem sosial yang sangat patriarki. Dengan mengunggah identitas atau foto pelaku perselingkuhan akan membuat diri kita menjadi perbincangan masyarakat. 

Belum lagi bila ada pihak yang berusaha membanding-bandingkan diri kita dengan selingkuhan pasangan kita. Kejamnya keterbukaan di media sosial dikhawatirkan akan semakin menekan kondisi psikis korban perselingkuhan, bila ia terlalu mengumbar ranah dapurnya sendiri. 

Berbicara dengan orang terdekat, seperti orang tua, saudara yang dipercaya, atau ke psikolog bila merasa mental Anda mulai terserang, akan lebih disarankan, dibandingkan mengunggah cerita ke media sosial di mana Anda tidak mampu untuk memilih komentar warganet sesuai dengan keinginan hati Anda.

Sementara dengan blow up perselingkuhan ke dunia maya, pelaku perselingkuhan akan hidup dalam stigma. Kondisi itu memang akan membuat mereka jera, tetapi membuat usaha mereka untuk berubah atau memperbaiki diri menjadi sulit. 

Seseorang yang hidup dengan stigma atau label yang melekat dari masyarakat, akan memandang dirinya sesuai dengan apa yang selama ini disematkan kepada dirinya. Itulah mengapa sekarang banyak "pelakor" yang pada akhirnya bangga menyebut dirinya "pelakor". 

Perlu diingat, stigma masyarakat membuatnya sulit untuk keluar dari kondisi tersebut. Padahal ada banyak faktor mengapa perempuan tertarik untuk menggoda lelaki yang bukan pasangannya dan tidak semua terjadi karena murni kesalahan perempuan sendiri. Hal tersebut akan dibahas pada artikel selanjutnya.