Sepuluh tahun terakhir perkembangan teknologi komunikasi di Indonesia cukup pesat. Pada jaman saya SMA pada tahun 2000an, punya ID Yahoo atau MRCL untuk bisa berkomunikasi  lewat surat elektronik.

Ataupun melakukan percakapan dengan orang lain pada tapak maya menjadi sesuatu yang membanggakan. Pada saat itu telpon genggam sudah mulai ada. Namun Teman-teman saya yang memiliki alat komunikasi berupa telpon genggam bisa dihitung jari.

Selain harganya yang masuk dalam kategori mahal. Nomer telpon genggam pada saat itu juga mahal harganya. Jika dibandingkan dengan saat ini, nomer telpon genggam seharga satu plastik es kelapa muda.

Fenomena itu saya rasakan sampai tahun 2008 ketika mulai bekerja di Sulawesi Tenggara. Tempat saya bekerja sudah memiliki akun e-mail untuk berkirim dokumen elektronik dengan kantor di Jakarta.

Dan sesekali saya lihat pimpinan kantor menggunakan aplikasi yahoo video. Untuk berkomunikasi dengan kantor pusat.

Meskipun dari hasil ngobrol dengan teman-teman sekantor yang lebih dulu bekerja dibandingkan saya, sebagian besar belum memiliki akun e-mail. Namun hampir semua teman sekantor saya sudah memiliki telpon genggam untuk sarana komunikasi.

Yang biasa digunakan untuk berkirim pesan pendek ataupun telpon.

Memiliki telpon genggam yang bisa mengambil gambar dan merekam suatu objek menjadi hal yang cukup mewah. Dan saya tidak bisa menikmati kemewahan itu, karena telpon genggam saya kecil dengan tampilan layar abu-abu dan hitam saja...hehehe.

Semua media komunikasi itu digerakkan dengan jaringan internet ataupun sinyal. Untuk bisa mengakses akun e-mail, komputer ataupun laptop kita harus terhubung ke jaringan internet.

Kantor saya saat itu menggunakan satelit Vsat untuk bisa mendapatkan akses jaringan internet. Yang biaya berlangganan perbulannya sungguh terlalu....

Untuk urusan pribadi diluar jam kerja, maka saya harus ke warung internet (warnet). Yang pada saat itu di kota tempat saya bekerja belum banyak warnet. Perlu naik angkutan umum kurang lebih tiga puluh menit untuk ke warnet terdekat. 

Begitupun juga untuk bisa menggunakan telpon genggam saya harus mengisi pulsa. Sehingga telpon genggam dapat digunakan untuk mengirim pesan atau menelpon.

***

Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini untuk bisa mengakses internet, sebagian besar dari kita tidak perlu lagi datang ke warnet. Karena akses jaringan internet sudah berada digenggaman kita. Telpon pintar (smartphone) menjadi barang kecil yang hampir dimiliki semua orang.

Dengan membeli kuota internet untuk telpon pintar kita. Maka setiap ada jaringan internet kita bisa mengakses segala  layanan dunia maya setiap saat.

Metode pembelajaran jarak jauh yang sudah berlangsung dua belas bulan  ini. Menjadikan anak saya yang TK sudah sangat familiar dengan telpon pintar.

Yang sebenarnya anak saya lebih banyak menggunakan telpon pintar untuk nge-games dibandingkan dengan belajar jarak jauh....hehehe

Kemudahan mengakses layanan internet baik yang sebelum (pra) dan sesudah (pasca) berbayar. Menjadikan jarak tidak menjadi alasan untuk berkomunikasi. Cuan untuk beli kuota yang sering menjadi alasan berkomunikasi...hahaha

Sampai-sampai dalam obrolan ringan dengan teman-teman saya, ada yang menyatakan mending lapar dech daripada gak punya kuota internet. Sungguh suatu pergeseran kebutuhan yang mungkin di-iyakan oleh kita semua.

***

Kondisi wabah covid-19 yang menjadikan kita harus menghindari kerumunan dan tetap menjaga jarak. Adanya perkembangan teknologi komunikasi saat ini menjadi alternatif media untuk tidak berkerumun.

Kita bisa menggunakan zoom, google meet, videocall, dan lain sebagainya untuk berkomunikasi tatap muka dengan orang lain tanpa harus berkerumun.

Begitupun juga bagi saya dan anda yang jauh dari orang tua ataupun saudara. Penggunaan  fasilitas-fasilitas komunikasi daring  menjadi solusi.

Untuk tetap bisa berbakti pada ibu bapak dan menjalin silaturahmi dengan saudara-saudara kita semua. Bertegur sapa dengan teman dan kolega kita.

Seperti pada lebaran tahun lalu, keluarga besar Bapak saya mengadakan silaturahmi lewat dunia maya. Dengan menggunakan media zoom meeting.

Mbah-mbah saya, pakdhe budhe, tante om, bahkan beberapa keponakan saya hadir dalam zoom meeting itu. Sebuah inisiaasi dadakan yang penuh faedah. Semua nampak bahagia meskipun tidak bisa berjabat tangan langsung.

Sehingga  menghadiahi kuota internet untuk orang tua kita dan suadara-saudara kita menjadi hal yang membahagiakan.

Dengan jarak yang tidak memungkinkan untuk berjabat tangan. Namun kita tetap bisa sungkem dengan Ibu Bapak kita setiap mau berangkat kerja. Sungguh kita akan menjadi anak soleh yang selalu membuat hati Ibu Bapak kita bahagia.

Kebiasaan berikirim bingkisan ataupun membawa buah tangan. Untuk saat ini bisa kita ganti dengan mengirimkan kuota kepada ibu bapak dan saudara kita.

Dengan kuota tersebut kita bisa kapan saja berkomunikasi langsung baik suara atauapun video. Dimana saja dan kapan saja tentunya tergantung sinyal yang berseliweran di sekitar kita.

Kuota internet juga bisa menjadi pengganti “sangu/fitrah/angpao” untuk keponakan-keponakan kita. Pastinya mereka akan dengan riang gembira ketika kita sebagai om atau tantenya, menghadiahi kuota untuk mereka.