Raja Salman bin Abdul Aziz dipastikan berkunjung ke Indonesia dan akan tiba pada tanggal 1 maret mendatang. Membawa robongan yang cukup besar merupakan sejarah tersendiri bagi negara Indonesia dalam hubungan bilateral. Dengan kunjungan ini, kerja sama kedua negara menjadi sangat kokoh terutama dalam bidang keagamaan.

Kedatangan raja Salmam disambut suka cita oleh semua lapisan, termasuk pejuang agama yang tidak lelah menyelenggarakan aksi dari 411 sampai aksi pendekar kapak 212. Bagi pejuang agama, kunjungan Raja super kaya itu untuk menyeselaikan masalah penistaan agama dan akan menemui pimpinannya, padahal menurut laporan dari Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia "sama sekali kunjungan Raja Salman adalah kunjungan kenegaraan".

Berbicara tentang isu miring tersebut, sangat wajar kalau pemimpin tanah haram dikaitkan dengan masalah keagamaan Indonesia, mengingat Arab Saudi adalah negara yang berhukum Islam, tetapi akan sangat salah kalau menilai seorang pemimpin negara mengunjungi orang yang bukan aparat pemerintah apalagi hanya warga sipil.

Di sini, kita harus cerdas dalam berpikir dan menilai mengambil sikap, di mana masalah agama yang terjadi di indonesia tidak harus dikaitkan dengan keberadaan pemimpin agama di negeri lain, karena masing-masing negara punya cara tersendiri dalam mengatur keber-agama-an warganya.

Karenanya, sangat memalukan kalau cuma kasus penista agama harus minta bantuan ke negara lain, apa lagi menganggap datangnya Raja Arab Saudi untuk meredam konflik agama yang melibatkan segelintir orang.

Kunjungan Raja Salman tidak jauh berbeda dengan kunjungan pemimpin negara lainnya, yaitu kunjungan ke-negara-an atau kunjungan kerja sama antarnegara, kalaupun ada masalah yang harus diselaikan itupun juga berkaitan dengan ke-negara-an yang dapat menguntungkan keduanya.

Lalu apa kaitannya dengan ke-agama-an di Indonesia? Tentu saja ada, tetapi bukan untuk mendukung penyelesaian kasus penista agama, yang paling patut, kemunkinan mambahas toleransi antarumat beragama atau masalah kuota haji atau masalah pendidikan.

Kita masih ingat, ketika Arab Saudi memimpin koalis Arab yang menyerang Yaman. Sepintas memang masalah agama, tetapi kalau dihubungkan dengan politik global, serangan itu berkaitan dengan kedaulatan sebuah negara dimana pemimpin yang sah dirongrong oleh kelompok yang merasa berhak atas negara dengan merebut paksa wilayahnya.

Jadi, negara-negara Arab bukan membantu menyelesaikan masalah agama, tetapi membantu menjaga kedaulatan sebuah negara yang jika dibiarkan akan berimbas ke negara-negara lain. Di Indonesia sendiri masalah agama masih dinilai masalah sepele, dan belum merongrong kedaulatan negara, jadi terlalu besar mulut kalau bilang Raja Salman datang ke Indonesia untuk menyelesaikan masalah penista agama.

Sewajarlah dalam berpikir, Raja Salman itu pemimpin negara, apa munkin datang jauh-jauh ke Nusantara hanya untuk kelompok kecil yang berteriak jihad fisabilillah? Pada tulisan saya sebelumnya, "Ibu Pertiwi, Agamamu Apa?", bahwa agama adalah masalah hati.

Sedangkan kesejahteraan masyarakat Indonesia adalah urusan negara, dan kunjungan Raja Salman tentunya membicarakan masalah negara dan kesejahteraan rakyat, bukan masalah agama, sebab, kehancuran perekonomian Indonesia akan berdampak pada negara tetangga termasuk Arab Saudi.

Sedangkan masalah agama tidak akan pernah mengganggu stabilitas dunia, kecuali agama dijadikan alat untuk mengguncang dunia seperti perang salib yang mangangkat isu agama sebagai penggerak jihad.

Kedatangan rombongan kerajaan Arab Saudi semestinya menjadi nilai lebih dilihat dari kecamata kesejahteraan dan kerja sama antarkedua negara bukan dilihat dari konteks agama karena Indonesia masih butuh dukunganan negara sahabat dalam mengembangkan perekonomian yang masih jalan di tempat dan berat sebelah, dan kunjungan ini juga Indonesia dapat mengambil pelajaraan dari perekonomean arab saudi dan kesajahteraan rakyatnya.

Dengan kerja sama yang baik antara Indonesia dan Arab Saudi sangat menguntungkan, utamanya yang beragama Islam, siapa tahu dengan kerja sama ini, ongkos haji makin murah dan kouta haji ditambah dan dalam kerja sama di bidang pendidikan, akan banyak penawaran beasiswa untuk masyarakat Indonesia kurang mampu. Dengan demikian, akan menjadi solusi logis untuk kemajuan bangsa Indonesia dari pada cuma mengurusi kasus penista agama.

Jadi harapan atas kunjungan Raja Salman, dapat membantu dalam perekonomean pendidikan dan hal yang bersifat kesejahteraan, sehingga pada akhirnya negara Indonesia dapat menyamai kemajuan Arab Saudi di bidang ekonomi, pendidikan, kebudayaan dan keagamaan. Pada akhirnya Indonesia menjadi negara yang baik yang dipenuhi kemakmuran, kesejahteraan, berkebudayaan dan berpendikan serta mendapat ampunan Tuhan.