Suatu kali, saya pernah diajak oleh salah seorang teman saya untuk jalan-jalan. Ia mengajak saya pergi sebagai pemenuhan atas janjinya terdahulu untuk mengunjungi salah satu kampus terbaik yang dimiliki oleh negeri ini. 

Nama kampus itu menurut teman saya itu tidak terlalu penting untuk disebut, sebab ia menganggap yang terpenting adalah sepak terjang dan kontribusinya untuk negeri ini. 

Teman saya ini memberikan sedikit bocoran bahwa kampus yang akan kami kunjungi ini mengusung konsep integrasi antara nilai-nilai agama, kemanusiaan, dan jiwa kewirausahaan (religious humanity entrepreneurship) sebagai visi pendidikannya. Dan nyatanya, hal itulah yang telah mereka terapkan dalam sistem pendidikan dan kurikulumnya. 

Sebagai contohnya, untuk memperkokoh landasan keilmuan agamanya, kampus ini telah memberlakukan program hafalan Al-quran dan hadits beserta kajian tafsirnya secara mendetail dan mendalam mengenai kontekstualitas penerapannya. 

Untuk mengasah jiwa-jiwa kemanusiaan (humanity) dari anggota sivitas akademikanya, tidak kurang-kurangnya kampus ini berkunjung ke warga sekitar untuk untuk memberikan penyuluhan secara gratis tanpa dipungut biaya sepeser pun. Selain itu, kampus ini juga aktif berkecimpung dalam pelbagai kegiatan sosial bersama dengan warga sekitar.

Untuk menanamkan jiwa kewirausahaan kepada para mahasiswanya, kampus ini telah memberlakukan sistem pembelajaran berbasis lapangan, sehingga para mahasiswa akan memiliki kekayaan pengalaman dan pengetahuan yang mereka selami sendiri ketika terjun di dunia bisnis. 

Hal yang sangat penting untuk diketahui, mahasiswa yang masuk di kampus ini, UKT-nya gratis alias mereka tidak dipungut biaya sedikit pun. Hal ini disebabkan pihak universitas sudah terlalu kaya dengan seluruh aset dan penghasilannya yang seakan mengalir tanpa henti itu. Dalam falsafah kampus itu, meminta UKT pada mahasiswa tak ubahnya aib kehinaan yang mencoreng muka mereka sendiri. 

Dalam keyakinan mereka seakan telah tertanam kuat sebuah prinsip, untuk apa menjargonkan entrepreneur, jika usahanya sendiri belum terbukti maju. Yang karena ketidakmajuannya itu pada akhirnya mengemis pada mahasiswa? Apakah entrepreneur ini hanya sebatas abal-abal untuk memikat siapa saja yang membacanya? 

Ataukah entrepreneur ini memang benar adanya, namun dengan memerankan mahasiswa sebagai konsumennya. Mahasiswa adalah konsumen atas produk pendidikan yang telah mereka tawarkan. Dan pihak kampus pun jauh-jauh hari telah menjelaskan bahwa mereka jauh dari anasir-anasir komersialisasi atau industrialisasi pendidikan semacam ini. 

Untuk memastikan dugaan-dugaan yang terus menggelanyut ini, bahkan pihak kampus telah menantang siapa saja untuk meneliti kebenaran akan hal ini. Mereka sangat siap jika ada pihak yang ingin meneliti dan membedah ada atau tidak unsur komersialisasi pendidikan di kampus ini. 

Dan rupanya, atas alasan itulah teman saya mengajak saya untuk mengunjungi kampus idaman ini, yakni untuk meneliti benar tidaknya informasi tentang sistem akademik di kampus yang katanya jauh dari praktik industrialisasi pendidikan ini. 

Sekitar jam setengah 12, kami tiba di kampus yang kami maksud ini. Begitu kami memasuki pintu gerbangnya, kami langsung disambut oleh dua orang satpam yang bertanya ramah pada kami, sebelum mereka mempersilakan kami memasuki area kampus.

Beberapa meter setelah kami memasuki area kampus, kami disambut oleh lantunan suara adzan yang sangat merdu dari corong speaker. Begitu merdunya suara adzan itu sehingga menghipnotis kami untuk mencari tahu siapa yang mengumandangkannya dan dari mana sumber asalnya. Rupanya, itulah yang menjadi alasan kami memutuskan untuk ikut shalat zuhur berjamaah di kampus ini. 

Sesampainya kami di masjid kampus, kami disuguhi pemandangan yang luar biasa. Masjid itu tampak sudah begitu penuh sesak oleh para jamaah, baik itu anak-anak muda (yang tampaknya adalah mahasiswa di kampus ini) dan orang-orang paruh baya (yang sepertinya para dosen dan pegawai di kampus ini). Kesan kami tentang nuansa religi yang kental pada kampus ini mulai membekas di hati kami. 

Sambil menunggu jamaah yang hadir, muazin membaca shalawat dengan begitu khusyuk, merdu dan mendayu sehingga saya merasa begitu tenang dan damai saat mendengarnya.

Usai melaksanakan shalat, saya dan teman saya pun kembali melanjutkan tujuan utama kami, yakni "menginspeksi" suasana dan sistem yang ada di kampus ini. Kami bertanya pada beberapa mahasiswa yang kami temui, yang sedang asyik masyuk menatap gawai dan laptop mereka. 

Kami pun mencoba bertanya tentang apa yang sedang serius mereka baca pada gawai dan laptop mereka itu. Mereka menceritakan, bahwa mereka saat itu sedang membaca artikel dan jurnal-jurnal ilmiah, baik yang nasional maupun internasional yang telah ditugaskan oleh para dosen mereka untuk membacanya. 

Suasana akademik layaknya kampus-kampus lain mulai terasa dalam benak kami. Secara perlahan kami pun mengakrabi mereka, sehingga pertanyaan demi pertanyaan dapat kami alirkan dan mereka jawab semuanya dengan ringan. Dan tak lupa, kami pun mencoba menyelipkan pertanyaan tentang UKT di kampus ini pada mereka. 

Dan rupanya, barulah saat itu kami sadar sesadar-sadarnya, bahwa dugaan kami selama ini keliru, dan berita tentang kampus ini pun memang benar adanya. Mereka, yakni mahasiswa itu, bahkan memaparkan pada kami, bahwa tidak ada satu pun mahasiswa di kampus ini yang ditarik uang sepeser pun oleh pihak kampus.

Kami menyimpulkan, pantas saja, diantara mereka (mahasiswa itu) ada yang sempat mengernyitkan dahi mereka cukup dalam ketika kami bertanya tentang UKT itu. Agaknya mereka memang belum pernah mendengar istilah ini. Dan barulah mereka mulai ngeh ketika kami menjelaskan pada mereka dengan cukup panjang lebar tentang UKT itu. Saya menggumam, jika istilah UKT saja mereka tidak tahu, apalagi sempat membayarnya. Jelas tidak mungkin. 

Tetiba, seorang lelaki menyapa kami dari kejauhan dengan senyuman yang lebar. Rupanya lelaki itu adalah kawan dari sahabat saya ini. Sahabat saya mengenalkan saya pada temannya ini. Ternyata ia adalah salah seorang dosen di kampus ini.

Sahabat dari teman saya ini menawari kami tumpangan Toyota Yarisnya yang berkilau elegan. Agaknya ia adalah keluaran seri yang terbaru.  

Di dalam mobil itu, rupanya telah ada seseorang yang duduk di kursi depan. Dan dengan mobil itu, ia hendak mengajak kami berkeliling kampus yang lokasinya amat luas ini. 

Sebelum bercerita lebih jauh, ia memberitahu kami bahwa ia adalah seorang dekan di kampus ini, sedangkan lelaki yang duduk di sebelahnya itu menjabat sebagai kepala jurusan pada Fakultas Ekonomi. 

Pada kami, kedua orang itu bercerita secara bergantian tentang iklim akademik yang dimiliki oleh kampus itu. Ada satu hal yang menurut saya sangat mencengangkan dan hampir tidak masuk akal. Yakni, mengenai kabar bahwa seluruh dosen yang bekerja di kampus ini tidak ada satu pun yang dibayar. 

Kami benar-benar dibuatnya keheranan atas cerita itu. Bagaimana mungkin seorang dosen tidak dibayar? Bagaimana mungkin mereka mau menjalaninya? Bagaimana cara mereka menghidupi keluarga mereka? Untuk menghilangkan rasa penasaran itu, kami pun tak segan untuk menanyakan hal yang menurut kami sangat janggal ini pada mereka. 

Tiba-tiba saja mereka tertawa keras. Membuat isi dalam mobil ini seakan bergemuruh oleh suara mereka. Mereka memberitahu kami bahwa kami adalah orang ke-78 yang menanyakan hal itu pada mereka. Dan mereka pun sangat memakluminya. 

Mereka menceritakan bahwa rerata dosen yang mengajar di kampus ini adalah para pengusaha yang meluangkan waktunya barang sekali dalam seminggu untuk mengisi mata kuliah di kampus. Dan selain itu, mereka pun sudah berkomitmen untuk tidak meminta bayaran sepeser pun sebagai bentuk pengabdian mereka untuk negeri ini. 

Dalam pandangan mereka, yakni para dosen itu, bayaran itu tidak terlalu penting, sebab di luar kampus, mereka sudah sangat sukses menggeluti dunia usaha mereka. 

Kami benar-benar tidak menduga, ternyata kampus semacam ini benar-benar ada di negeri ini. Kampus yang dapat menyediakan kemampuan tenaga pendidiknya antara seorang akademisi sekaligus sebagai seorang praktisi. Ditambah, mereka mau menjalaninya dengan gratis, tanpa bayaran. Bayangan kami tentang masa depan cerah negeri ini pun semakin membuncah. 

Tiba-tiba saja tubuh saya tergoncang, dan goncangan itu semakin menguat. Bahkan, kali ini diikuti oleh rasa sesak pada dada saya, seakan ada yang menindihnya. Secara sayup-sayup saya pun mendengar suara anak-anak yang sedang berteriak dan memanggil-manggil nama saya. 

Sepertinya saya sangat kenal dengan suara itu. Dan benarlah dugaan saya. Rupanya itulah suara anak saya sedang bermain-main di atas tubuh saya dan menindihi tubuh saya. Suara panggilannya dan rengekannya itu rupanya telah mengakhiri mimpi indah saya di siang hari ini. 

Dan supaya mimpi itu tidak lekas hilang, maka mimpi ini pun saya tuangkan dalam catatan. Sambil menulis saya terus berharap, semoga saja apa yang telah saya jumpai dalam mimpi ini, benar-benar akan akan saya temui suatu saat ini.