2 tahun lalu · 1030 view · 7 min baca · Politik images_3_7.jpg
liputan6.com

Kunci Kemenangan SBY adalah ''Jurus Kejut''

Saya heran, seharian ini media pemberitaan sibuk membahas keputusan Pak Beye memilih Agus Yudhoyono nyalon Gubernur. Sampai-sampai demo kami (HMI) kemarin siang di KPK dan MABES POLRI, sepi pemberitaan. Saya sudah bela-belain kehujanan bersama Abang Go-jek, eh ternyata aksi kami tidak banyak diliput wartawan.

Orang Inonesia itu aneh. Mentang-mentang baru menikmati kebebasan politik selama 18 tahun, mau-maunya dibikin heboh dengan isu atau berita. Lha kalau Susilo Bambang Yudhoyono memilih anak sulungnya yang anggota TNI aktif sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta, memangnya kenapa? Masalah buat kita? This is politic! Hitungan-hitungan kita orang biasa, tentu tidak sama dengan mereka Politisi.

Iya, otak buruh, petani, nelayan, mahasiswa atau birokrat, tentu sangat berbeda dengan politkus. Ada hal-hal tertentu yang bagi kita aneh, tidak logis dan tidak mungkin, tapi dimata seorang Politisi menjadi suatu kesempatan yang baik. Politisi selalu menjadi jago-nya dalam menangkap peluang. Bahkan tidak hanya memanfaatkan keadaan, mereka juga ahlinya dalam menciptakan situasi yang menguntungkan.

Anda bisa kembali ke ingatan yang lalu, bagaimana mungkin orang se-brilian Anies Baswedan bisa dicopot dari jabatan Menteri. Sedang orang seperti Wiranto yang modal ‘’ahli dalang kerusuhan 98’’ begitu, malah diangkat jadi Menkopolhukam. Tapi ya mau bagaimana lagi, ini bukan matematika. Ini dunia politik. Sebuah dunia yang bukan bicara hitung-hitungan matematis, tapi tentang kejutan-kejutan yang tak terpikirkan sebelumnya.

Saya menduga, masyarakat metropolitan Jakarta sedang ‘’sakit’. Mereka tiap hari bergelut dengan kemacetan, polusi, banjir, sampah dan muak dengan tingkah tukang parkir yang nongol saat orang mau pergi doang, butuh sesuatu yang menghibur. Kalau yang nyalon Syahrini, apa spesialnya? Kita semua sudah tahu, dia cantik, glamour, suka pamer, kalau bicara ngeselin, sok imut dan semua orang bosan dengan gayanya. Biasa saja.

Orang Jakarta kita akui sangat pengalaman dalam partisipasi politik. Mereka sudah makan asam-garam kehidupan. Pengalaman yang cukup tersebut, membentuk watak masyarakat ibukota yang rasional, pragmatis dan tidak mudah tertipu. Warga Jakarta tentu saja berbeda jauh dengan orang di daerah. Orang Jakarta tidak lagi mempan disuguhi figur yang modal citra, popularitas atau nama tenar di dunia entertainment.

Orang Jakarta tentu berbeda dengan penduduk daerah lain. Di Jakarta, orang sekelas Ahmad Dhani, Ayu Ting Ting atau Tora Sudiro tidak akan pernah menang bila nyalon Gubernur DKI Jakarta. Kalau Pasha UNGU yang modal ‘’nyanyian’’ doang bisa menang jadi Wakil Walikota Palu, ya wajar. Itu palu, bukan Jakarta.

Dalam kasus Bang Rhoma, kita akui beliau sebagai Raja Dangdut. Tapi ingat, Dangdut itu dunia musik, bukan politik. Coba kita perhatikan, dalam sebulan ini ada berapa kali Rhoma Irama dan Partai IDAMAN-nya diberitakan? Bahkan intensitas pemberitaannya pun kalah dengan kasus ‘’Kopi Jessica’’ atau desas-desus keluarga Mario Teguh. Ini bukan karena kenapa-kenapa, tapi ya memang apa menariknya Bang Rhoma?

Orang terkenal, entah artis, pengusaha atau tokoh Aktivis tiba-tiba masuk dunia politik, itu sudah sangat biasa di negeri ini. Tidak ada yang spesial dalam kasus tersebut. Beberapa kawan saya sempat berminggu-minggu membicarakan peluang Yusril Ihza Mahendra jadi kandidat. Tapi jauh-jauh hari sudah ku jamin, beliau tidak akan dapat panggung. Karena ya apa istimewanya Yusril? Pakar hukum berpolitik itu sudah biasa.

Sekarang coba perhatikan, sebenarnya apa yang diinginkan orang Jakarta? Orang Jakarta tentu saja tidak butuh kandidat yang kaya, cerdas, populer atau berpengalaman. Kandidat seperti itu sudah banyak, sudah biasa. Kalau mengandalkan kekayaan, kurang kaya apa Sandiaga Uno? Kurang cerdas apa Anies Baswedan itu? Kurang populer apa Ahmad Dhani itu? Kurang pengalaman apa Ahok (dalam memaki-maki)?

Sudahlah. Pokoknya kriteria-kriteria kualitatif diatas itu sudah biasa. Sudah membosankan. Orang Jakarta itu cerdas. Mereka tidak butuh lagi pemimpin yang berani. Lha orang tiap hari mereka sudah biasa menghadapi preman, copet bahkan begal sendirian. Mereka tidak butuh pemimpin cerdik. Lha wong tiap hari orang Jakarta sudah biasa diakali tetangganya, temannya, bahkan pak RT-nya. Soal kecerdikan, orang Jakarta sudah jago.

Lalu apa yang dibutuhkan orang Jakarta? Gubernur kaya? Tidak! Gubernur ganteng? Tidak! Lha wong gigolo tampan yang bisa dibeli ada dimana-mana. Gubernur pro wong cilik? Tidak! Lha wong semua orang kalau sudah jadi Gubernur pasti kerjaannya menggusur orang kecil. Jadi apa yang kita butuhkan? ya, betul sekali. Kita butuh sosok mengejutkan. Kita butuh surprise. Butuh shock theraphy dagelan politik untuk menyegarkan jiwa.

Kasian deh loe! Sudah jauh-jauh hari menjagokan Yusril, eh bahkan tak ada satupun Partai yang meminangnya. Jangan terlalu berharap, terlebih dalam dunia politik. Politik itu tentang seni mengejutkan publik. Ahok pada awalnya memang membuat banyak orang penasaran. Bisa-bisanya pendatang dari Belitung itu nekad mengobrak-abrik birokrasi Ibukota yang sudah sekian lama terkenal banyak kongkalikongnya.

Tapi itu dulu. Hari ini, semua orang sudah bosan. Kita akui sejak ada Ahok, birokrat yang sebelumnya cuek-cuek keparat, jadi murah senyum. Jalan-jalan gang yang biasanya bisa buat ternak ikan lele, kini mulus bak pahanya Nikita Mirzani. Terus setelah itu apa? Sisanya kita hanya menikmati drama Ahok bertengkar dengan Haji Lulung, Ahmad Dhani atau Ahok dengan FPI. Polanya berulang-ulang. Adu mulut, saling caci atau ejek.

Akhirnya dari situ bosan juga kita mendengarnya. Di tengah kebosanan itulah, eh sesepuh-sesepuh eyang Maha Guru pada turun gunung ikut meramaikan percaturan. Tiga tokoh Eyang buyut Politik seperti Pak SBY, Megawati dan Prabowo, masing-masing memompa lagi tenaga dalam-nya. Mereka bertiga merasa perlu berperan langsung. Mengingat siapa yang berkuasa di Ibukota, bakal menjadi calon kuat nyalon Pilpres 2019.

Kesuksesan Jokowi, Francois Hollande dan Lee Myung Bak yang kepopulerannya dimulai dari Walikota di Ibukota, menjadi contoh kongkret pertaruhan Pak Beye. Saya akhir-akhir ini entah mengapa kagum sama Pak SBY. Sejak setahun belakangan, beliau selalu memberikan kejutan demi kejutan padaku. Tak pernah sebelumnya ku jumpai beliau begitu se-berani dan se-surprise ini. Beliau yang dulu pendiam, kini jadi berani mengkritisi Jokowi.

Pada masa kepemimpinannya selama 10 tahun, mana pernah beliau menunjukkan keberaniannya mengambil resiko sebesar ini? mana pernah beliau bertaruh dengan konsekuensi yang tidak main-main ini? padahal Indonesia dimasa kepemimpinannya, terkesan biasa saja. Malah cenderung lamban dan tidak tegas. Eh ini dalam dua hari saja, beliau menunjukkan pada kita bahwa beliau mampu mengejutkan banyak pihak.

Bagaimana tidak mengejutkan? Dulu saat sedang panas-panasnya Malaysia mengusik Ambalat, banyak orang menunggu keberanian Pak SBY untuk menyatakan sikap. Bahkan kalau perlu menyatakan perang pada Malaysia. Tapi kenyataannya kan tidak begitu. Saking kecewanya rakyat saat itu, beberapa malah mengusulkan ‘’pernyataan Pak Presiden mengenai Ambalat seharusnya lebih pantas disampaikan di gedung Dharma Wanita’’.

Eh kini, beliau ‘’tua-tua keladi. Makin tua makin jadi’’. Makin tua, makin pemberani. Bayangkan saja, Agus Yudhoyono yang sebelumnya tidak begitu dikenal, tiba-tiba bak roket ulang-alik yang diluncurkan ke langit. Agus yang tidak pernah masuk bursa kepemimpinan apapun di dunia sipil (ketua RT pun tidak pernah), tiba-tiba diputuskan jadi kandidat Gubernur DKI Jakarta.

Ya, itulah cara pak SBY menerapkan teori politiknya. Pada tahun 2004, dulu orang mengeluk-elukan Megawati sebagai tokoh demokrasi. SBY waktu itu hanyalah Menteri yang dipecat dan barisan sakit hati politik. Eh ditengah orang mulai bosan karena Megawati banyak menjuali BUMN, SBY menangkap peluang tersebut. Dia menciptakan tren, bahwa orang yang dipecat dan dikucilkan berani nyalon dengan modal dengkul. Eh tak tahunya rakyat benar-benar terkejut, maka terpilihnya dia si anak Pacitan saat itu.

Kini, disaat elektabilitas Ahok masih tinggi. Kelompok islam politik sedang gencar-gencarnya memainkan politik SARA dan menebar ayat-ayat ‘’khusus pemilu’’. Partai Demokrat yang didukung PAN, PKB dan PPP mengusung Tentara aktif (Agus) untuk nyalon. Bila PKS mengusung slogan ‘’Harus Islam’’ dan kubu Ahok menawarkan kepastian program, SBY yang sosok mengejutkan ini menawarkan ketidakjelasan sebagai modalnya.

Strategi SBY memang cerdas dan mengejutkan. Saking pintarnya, tak banyak yang tahu jalan pikirannya kecuali dia sendiri dan Tuhan. Disaat kandidat dan Partai lain ada yang berangkat dari kesadaran perubahan, ideologis atau program-program Pembangunan, eh SBY muncul dengan surprise-nya yang wow.

Iya, dari dulu memang Pak SBY resepnya hanya satu dalam memenangkan pertarungan politik, yaitu jurus kejut. Dulu menjelang Pilpres 2009, saat harga minyak sedang tinggi dan Indonesia bukan lagi produsen, eh beliau malah tiga kali menurunkan harga BBM. Mengejutkan memang. Tapi semua itu dilakukan untuk pencitraan dan menjaring suara rakyat demi melanggengkan masa jabatan keduanya.

Hari ini pun begitu. Agus yang diejek Ikrar Nusa Bakti ‘’Anak Ingusan’’, diragukan banyak pihak. Loh jangan salah, justru sosok terhina, terejek, tidak berpengalaman dan cenderung tolol secara politik begini yang biasanya bakal menang. Anda jangan meremehkan Agus Yuhoyono. SBY itu gurunya politik. Buktinya pascareformasi, hanya dia satu-satunya orang yang dua kali berturut-turut menang Pemilihan Presiden.

Nanti kalau beneran Agus jadi Gubernur, anda pasti menyesal mengejek tentara bau kencur berpangkat mayor ini. Anda jangan gegabah menilai. Sudahlah pokoknya jangan kuatir. Meski yang maju Agus Yudhoyono, kan otak yang bermain otaknya Pak SBY. Manusia dari pedalaman Pacitan yang menguasai perpolitikan Nasioanl selama sepuluh tahun tanpa ada lawan yang berarti.

Para pengamat politik juga aneh, orang sekelas Agus Yudhoyono dikomentarin ‘’sayang, karirnya di militer terhenti gara-gara politik’’. Kalau seandainya Agus tidak terpilih, no problem. Dia itu anak mantan Presiden, anaknya SBY gitu loh. Beda dengan kita. Kalau dia gagal jadi Gubernur dan sudah tidak lagi jadi Tentara, ya apa masalahnya? Mereka keluarga kaya. Bapaknya punya partai, jaringannya luas.

Sudahlah, warga Jakarta itu hanya butuh kejutan doang. Orang Jakarta itu tidak butuh romantisme kampanye. Tidak butuh visi misi yang sok idealis. Semua itu sudah basi dan membosankan bagi orang Ibukota. Kita ini butuh hiburan dan kejutan untuk mewarnai hari-hari kita yang penuh dengan kemacetan.

Artikel Terkait