Sudah setengah jam aku hanya sekedar menatap segelas kopi dan satu potong roti, belum juga sempat aku sentuh. Sepertinya mereka masih tak mau keluar,  dua pintu kamar yang berjejer masih tak ada pertanda akan dibuka. Sampai kapan harus menanti kedua orang itu keluar,  hanya untuk menyempatkan sarapan pagi atau sekadar mengucap "Selamat pagi".

Karena hasrat perutku sudah tak dapat tertahan lagi, menanti mereka keluar untuk beberapa menit ke depan. Terpaksa sarapan pagi ini, ditemani bising lalat yang dari tadi telah mengincar selai roti yang terbuka. Sedangkan nenek dan adik, sudah berangkat olahraga sejak aku masih melaksanakan salat subuh. Jikalau kedua orang tua itu lapar, pasti juga akan keluar sendiri tanpa perlu memaksanya, pikirku.

Baru satu bekas gigitan roti membekas, kedua orang itu keluar bersamaan. Tapi masih saja tak ada sapaan, semuanya diam. Aku menahan tawa, saat sesekali mereka mencuri pandang. Membuatku geli, melihat kedua orang tua rentan ini gayanya seperti anak kecil. 

Aku meninggalkan keduanya, bersiap-siap untuk pergi kerja. Bahkan sampai aku akan berangkat, mereka pun masih sama seperti tadi. Sedangkan aku yang tak ikut sandiwara mereka, tetap tak ada sepatah kata  di pagi hari ini. Dalam kemacetan kota, aku jadi teringat.

Pernah kala itu, saat suara azan magrib berkumandang. Nenek mengeluh jika dadanya terasa sesak, sekejap semua keluarga panik. Meski begitu kedua orang tuaku masih sempat berselisih pendapat, aku pun harus menjadi penengah di antaranya. Bahkan saat nenek sudah muntah darah, mereka masih tetap kuat dengan pendapatnya sendiri.

Hingga akhirnya, terpaksa aku membawa nenek ke dokter. Bukan karena menyetujui pendapat ayahku, ataupun tak percaya dengan perkataan ibu. Sebab keadaan nenek sudah tak menentu, jika aku juga harus ikut dalam perdebatan mereka, maka  keadaan akan semakin kacau. Seakan berjalan ke simpang tiga, ayah ke barat dan ibu ke tenggara, sedangkan aku masih mematung di tengah jalan.

Ibu memang sangat percaya dengan hal-hal mistis, seperti santet, ataupun guna-guna yang lainnya yang masih berbau spiritual. Sedangkan ayah anti dengan hal itu, ayah lebih percaya jika sesuatu seperti itu tak ada hanya khayalan karena tak pernah ada wujudnya. Kalau sudah berbeda pendapat seperti itu, mereka akan membisu seperti tadi pagi. Tapi tak perlu ditanya, keesokan harinya keduanya akan kembali menjadi sepasang suami istri yang sesungguhnya.

....

Sesaat sebelum kantuk menyergap, suasana malam yang hening. Aku mendengar suara ketawa di luar kamar. Ternyata mereka sudah baikkan, lega rasanya. Badan terasa enteng, seperti tak ada beban. Kebiasaan keduanya belum juga luntur.

Sepertinya aku perlu menceritakan penyebab pertengkaran keduanya, tengah malam kemarin hampir lewat aku baru saja pulang dari kantor. Tak ubahnya dengan perempuan lain, sebelum tidur kusempatkan mandi. Tapi entah kenapa, saat aku berbaring kakiku terasa sakit. Aku merintih sembari berteriak memanggil kedua orang tuaku. 

Seisi rumah panik, sedangkan aku tak bisa sedikit pun menggerakkan kakiku. Rasanya begitu sakit, seakan kakiku sedang ditusuk berulang kali. Meski begitu tetap saja tak ubahnya seperti keadaan kala nenek sakit, ibu dan ayah berdebat kembali. 

"Oalah Nak... ini pasti suamimu yang balas dendam"

"Kata siapa toh Bu, mungkin ini dia terlalu capek dan sudah tahu malam juga masih saja mandi" sangkalan dari ayah.

"Sudah, Sudah kau cepat pergi saja ke Marsino!" perintah nenek pada ibuku.

Mbah Marsino adalah tetangga rumahku, ia terkenal sangat ahli menangkal guna-guna. Saat masih kecil dulu, pernah ada seorang anak sebaya denganku yang katanya di ambil setan. Kemudian Mbah Marsinolah yang bisa mengembalikan anak itu. 

Nenek sebenarnya bukan orang yang teralu percaya, hanya dalam beberapa keadaan saja. Seperti kemarin mungkin, tak akan sempat juga membawaku ke rumah sakit di tengah malam. Barangkali mungkin mendapat ibu kali ini benar. 

Ibu sudah kembali, dengan Mbah Marsino di belakangnya. Kemudian ia duduk tepat di samping kakiku, merapal beberapa doa dan sesekali mengusapnya pada kaki. Lalu ia menyuruh untuk sedikit menggerakkan kakiku, tapi tetap saja masih belum bisa. Kadang saat ia menyentuhnya, rasa sakitnya semakin menyerang. Sedangkan ayah masih menggerutu di depan sana. 

Ibu menuruti saja permintaan Mbah Marsino, untuk mengambil satu buah kelapa. Untung saja masih ada dua persediaan kelapa, Ibu mengambil kelapa yang bisanya digunakan ibu untuk memasak.  Lagi-lagi Mbah Marsino merapal., lalu seperti memindahkan sesuatu dari kakiku ke dalam kelapa tersebut. Saat di buka, ada beberapa paku serta silet yang katanya itu kiriman dari seseorang untukku. Aneh tapi begitulah kehidupan. 

...

Hari libur kali ini, aku tak memiliki agenda untuk keluar. Hanya sekedar menonton televisi, ditemani suara derai air hujan di luar rumah.  Kulirik kedua orang tuaku, duduk berdua di depan rumah. Bercanda gurau, sesekali menjadi mode serius. Aku merasa iri dengan hal itu, kenapa secepat kilat mereka akur. Bahkan mereka bertahan sejauh ini, meski sebenarnya banyak perbedaan antara keduanya.

Sedangkan aku, baru saja bercerai dan sekarang hidup dengan status janda tanpa anak. Aku dan suamiku memutuskan bercerai tepat di bulan kelima setelah pernikahan. Sebenarnya seperti halnya orang tuaku yang selalu berbeda pendapat. Tapi bedanya mereka bisa cepat akur dan sedangkan aku terus saja bertengkar, setiap harinya malah akan semakin parah. Kebiasaan keduanya ternyata sulit kubangun pada kehidupan pernikahanku. 

" Pak beli baksonya...!" teriakan ibu membubarkan lamunanku.

"Nak minta tolong, ambilkan dua mangkuk di dapur"

Aku bergegas mengambilnya dan ikut memesan bakso. Sangat  pas dengan suasana dingin kota Jogja, dipadu dengan kuah panas dan aroma gurih bakso. Saat sedang asyik menyantap, aku mencoba bertanya apa kunci dalam hubungan suami istri.

"Kunci dari hubungan itu hanya satu Nak." Jawab ayahku

Kemudian keduanya bersamaan menjawab "Toleransi". Baru kali ini aku menarik kedua ujung bibirku, setelah perceraian dengan suamiku.