Kalau boleh berkata jujur, sebelum saya membahas buku ini, saya mengalami kesulitan untuk mencari inti dari setiap tajuk cerpen yang dimuat dalam buku ini. Bukan karena tidak adanya pesan dari setiap cerpen yang ada, melainkan tema yang diangkat dalam cerpen ini tampak begitu “remeh”. Tapi, setelah saya membaca tuntas, saya baru ngeh apa yang ingin disampaikan Chandra, penulis buku ini.

Ada sepuluh cerpen menarik yang anda akan temui dalam buku ini. Hampir semua isinya mengangkat permasalahan “remeh”; perbincangan antara sepasang kekasih, seusai bercinta; momen pertarungan sengit antara tikus dan tokoh aku; dan masih banyak lagi. meskipun mengangkat tema sederhana.

Tapi, buku berisi kumpulan cerpen ini tidak bisa dianggap sebagai bacaan sambil lalu. Jika mau ditelisik, atau pembaca mau berfilsafat sejenak, buku berisi kumpulan cerpen ini sarat dengan kritik yang ingin disampaikan penulisnya.

Misalkan dalam cerpen bertajuk Percakapan Tentang Perilaku Binatang. Dalam cerpen ini, melalui tokoh aku dan kekasihnya, Chandra mengangkat tema seksualitas, dan LGBT. Tema-tema “angker” yang ,barangkali, masih dianggap tabu untuk diangkat:

“Dalam jumlah populasi yang sedikit, perilaku homoseksual itu tidak menguntungkan apabila dikaitkan dengan fungsi seks sebagai cara meneruskan keturunan. Tapi, dalam populasi yang sangat besar kayak manusia, perilaku homoseksual bisa dijadikan sebagai pengeremledakan populasi.” (hlm. 35)

Tema menarik lainya adalah perihal bunuh diri. Dalam cerpen bertajuk Hal-Hal Yang Memicu Bunuh Diri, Chandra bukan bermaksud mengangkat tentang bunuh diri secara an sich, tapi lebih kepada kritik penulis tentang rutinitas menjemukan yang tidak disadari manusia modern.

Dalam cerpen ini, Chandra memukul palu godam untuk membangunkan kita dari kondisi dehumanisasi akibat rutinitas berulang yang kita jalani. Cerpen bertema bunuh diri ini sebenarnya cukup singkat--meskipun dibagi menjadi dua bagian, dan mangusung alur cerita yang berbeda--tapi ada banyak tafsir jika mau dibaca lebih mendalam.

Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, hampir semua tema yang diangkat dalam Cerpen Chandra – yang dimuat dalam buku ini – mengangkat hal “remeh”, saya tekankan hampir semua, bukan semua.

Salah satu cerpen yang mengusung tema serius dalam buku ini adalah Api Ibrahim. Cerpen ini ditujukan sebagai persembahan bagi Sebastian Manuputty, aktivis buruh, yang rela menjadi martir dengan membakar dirinya sendiri.

Uniknya, dalam cerpen ini, Chandra tidak menggambarkan secara jelas motif pembakaran diri yang dilakukan tokoh “Aku”. Alasan yang disodorkan Chandra bagi pembacanya hanya karena ledakan emosi dan kejengkelan dengan kondisi kerja tokoh “Aku” melakukan tindakan membakar diri. Bagi saya, alasan ini kurang masuk akal.

Tapi, meskipun terlihat tidak masuk akal, Chandra berhasil menyelipkan kritik dalam cerpen ini. Bagi saya, fokus Chandra dalam cerpen ini bukan soal kuatnya alur cerita, melainkan pesan yang ingin disampaikan. Ada satu kalimat menarik yang diucapkan tokoh aku, dan terasa menohok bagi oknum aktivis yang hanya mencari untung:

“Aku ingat dia. Dia adalah manusia sejenis anjing penjilat pantat. Dialah yang mengaku-ngaku menjadi pemimpin kami, pembawa suara kami, tapi tak pernah tahu rasanya mengoperasikan mesin-mesin produki di pabrik yang panasnya seperti neraka. Aku ingat bagaimana lihainya dia memanfaatkan  kami untuk memeras bos bos.”

Selain oknum aktivis, para oknum musisi oportunis berkedok solidaritas juga menjadi sasaran kritik penulis buku ini:

“Si orator tadi rupanya sudah berhenti mengoceh. Giliran sebuah band tampil. Band penampil itu menyanyikan lagu cintanya. Bangsat betul, siapa sih yang mengundang band keparat ini? Siapa yang butuh lagu cinta di saat ini…Mereka adalah borjuis, mereka adalah tukang hura-hura. Aku sering melihatnya di televise tetanggaku.” (Hlm. 59)

Selain alur cerita yang tidak terlalu kuat, cerpen yang dimuat dalam buku ini terasa kering dengan metafora. Semua cerpen dalam buku ini menggunakan bahasa sehari-hari, bahkan ada beberapa kata-kata “jalanan” yang kerap digunakan Chandra seperti: perek, asulah dan lainya.

Penggunaan kata ini, sejauh pemahaman saya, sebagai bentuk penegasan posisi penulisnya yang “nyaman” berada di posisi negasi di tengah wacana-wacana mapan yang ada dalam masyarakat –seperti dijabarkan Mohammad Hadid , penulis kata pengantar buku ini.

Posisi negasi ini diambil sebagai bentuk sindiran penulisnya terhadap kondisi masyarakat, khususnya bentuk sinisme penulisnya mengenai kondisi manusia saat ini. Dalam kata pengantar disebutkan bahwa filsafat Hegel –tentang dialektika antara tesis, sintesis, dan antithesis– begitu kentara dalam cerpen Chandra. Cerpen-cerpen Chandra, dalam kata pengantar, berada pada posisi antitesis yang berperan menegasi wacana mapan yang ada dalam masyarakat.

Tapi, bagi saya, cerpen-cerpen dalam buku ini justru kental dengan filsafat eksistensialis yang diusung Albert Camus. Berbeda dengan filsafat dialektika Hegel yang menafikan kesadaran individu, filsafat Camus justru mengusung kesadaran manusia terhadap sekitarnya.

Dalam karya Camus berjudul Mati Bahagia, dijelaskan usaha tokoh Mersault untuk bebas dari rutinitas menjemukan, dan memutuskan untuk mengasingkan diri di kawasan pinggiran Aljazair. Absurditas juga menjadi nafas dari karya Camus.

Sejauh pemahaman saya, ciri utama filsafat absurditas Camus adalah pertanyaan tentang eksistensi manusia yang tiba-tiba ada di dunia. Manusia hadir di dunia, kemudian tanpa bisa memilih dia akan terlahir seperti apa, dan kemudian mati.

Filsafat eksistensialis Camus inilah, yang menurut saya, begitu kentara dalam setiap cerpen yang dimuat dalam buku ini. Misalkan dalam Percakapan Tentang Perilaku Binatang, pemuda yang berbincang dengan kekasihnya tersebut mengungkapkan penyesalanya soal hidup. Dia menyayangkan kenapa dia lahir menjad seorang manusia, dan jika ada kehidupan kedua dia berharap bisa menjadi seekor babi.

Ciri eksistensialisme lainya juga tergambar dalam cerpen bertajuk Api Ibrahim dan Hal-Hal Yang Menyebabkan Bunuh Diri. Dalam dua cerpen tersebut para tokohnya memilih tindakan mengorbankan diri tanpa alasan jelas; seperti tokoh sisiphus, dalam karya Camus berjudul Mythe Sisiphus,  yang mendorong batu sampai ke atas puncak, dan kemudian batu tersebut digelindingkan ke bawah oleh para dewa, dan didorong lagi oleh sisiphus, begitu seterusnya.

Di akhir ulasan ini, saya ingin menyampaikan bahwa tafsiran saya yang sok berfilsafat tentang buku ini jangan dianggap terlalu serius. Saya khawatir ada ketakutan dari pembaca bahwa buku ini bakal sulit untuk dicerna.

Saya katakan sekali lagi, jangan dianggap serius, itu hanya tafsiran saya yang sok berfilsafat. Saya berani jamin buku ini mudah untuk dibaca, dan saya pastikan anda akan terhibur sembari senyam-senyum ketika membaca buku ini, karena kritik yang diselipkan dalam buku ini selalu dibumbui dengan humor.

Penulis: Chandra Agusta
Penerbit: Rotasi
Tahun Terbit: Maret 2017
ISBN: 978-602-61294-0-6