Masyarakat Jawa merupakan salah satu dari sekian tipikal masyarakat yang menghuni peradaban Nusantara. Jika secara antropologis, masyarakat Jawa merupakan masyarakat yang berbahasa dan menerapkan nilai-nilai Jawa dalam kehidupannya sehari-hari.

Lebih konkretnya dalam aspek budaya antropilogis maka masyarakat Jawa merupakan masyarakat yang menjunjung dan menganut sistem norma dan nilai Jawa yang terdiri dari aspek religiositas, pola pengetahuan, moral, seni, kepercayaan, sistem organisasi, mata pencaharian dan kebiasaan-kebiasaannya.

Adapun aspek sosial yakni masyarakat Jawa merupakan masyarakat yang berpola pikir, pola prilaku, pola interaksi, pola relasi layaknya nila-nilai Jawa. Sedangkan jika perspektif geografis maka masyarakat Jawa merupakan masyarakat yang tinggal atau berasal dari pulau Jawa bagian tengah dan timur.

Bahkan Jawa tidak hanya suatu sistem budaya, tetapi telah menjadi sebuah kepercayaan bagi masyarakat Jawa dengan nilai-nilai yang dijunjungnya dalam konteks tertentu.

Selain berbagai pengertian masyarakat Jawa yang telah dipaparkan ini, tentu saja masih ada perspektif-perspektif lain mengenai apa yang dimaksud dengan masyarakat Jawa. Perihal definisi masyarakat Jawa tampaknya telah dijelaskan oleh ilmu pengetahuan dalam berbagai perspektif yang sesuai dengan studinya masing-masing.

Tulisan berikut ini akan mencoba membedah mengenai kultur masyarakat Jawa dalam perspektif Cultural Studies. Melalui pengkajian ini mengenai masyarakat Jawa maka akan didapatkan beberapa sudut pandang yang amat mungkin berbeda dengan perspektif lain pada umumnya.

Adapun sebab, dikarenakan tipe perspektif Cultural Studies yakni multidisipliner. Makna sederhananya yakni suatu sudut pandang kajian ilmiah yang berlandaskan berbagai sudut pandang disiplin ilmu lain yang dijadikan satu rumpun kajian.

Melalui kacamata yang beragam ini maka Cultural Studies dapat melihat suatu realitas dengan intrepetasi yang berbeda. Cultural Studies mampu melihat suatu realitas dengan berpondasikan disiplin ilmu yang telah langgeng selama ini.

Melalui perspektif Cultural Studies ini maka tulisan ini akan mengangkat konsepsi subkultur untuk melihat masyarakat Jawa. Konsep tersebut akan menjadi pondasi guna melihat suatu realitas masyarakat Jawa yang jarang disadari oleh publik.

Subkultur Jawa merupakan sebuah kajian dalam perspektif Cultural Studies yang akan melihat subkultur yang ada dalam kultural Jawa.

Sebelum lebih jauh, perlu dipahami mengenai konsep subkultur itu sendiri. Subkultur merupakan suatu budaya yang hadir sebagai bentuk resistensi atas budaya induk yang dianggap adiluhung dalam suatu masyarakat. Dapat dipahami juga bahwa subkultur ini merupakan bentuk anti tesis dari kultur yang telah langgeng selama ini.

Biasanya subkultur berekspresi dalam sebuah simbol atau ciri khas tertentu dalam suatu kelompok subkultur. Salah satu contoh subkultur yang dapat dilihat bersama yakni kelompok Punk dan Rastafarian

Beberapa contoh kelompok subkultur tersebut berekspresi dengan ciri khas dan simbol-simbol tertentu yang menggambarkan jati diri mereka. Umumnya ciri khas tersebut memiliki historisitas dan filosofis tertentu yang bermakna resistensi atas budaya luhur dalam suatu masyarakat.

Sehingga dapat dikatakan bahwa kelompok tersebut menunjukkan eksistensi mereka sebagai perwujudan resistensi atas kultur yang telah langgeng dalam masyarakat. Kelompok tersebut hadir sebagai kelompok yang menolak atas budaya adiluhung dalam suatu masyatakat. Kelompok tersebut sebagai subordinat dari budaya luhur dalam suatu masyarakat.

Melalui pendekatan subkultur, maka tulisan ini mencoba melihat realitas kultural Jawa dari sudut pandang subkultur. Perlu diapahami terlebih dahulu perihal kultur jawa yang dianggap luhur oleh masyarakat Jawa.

Budaya luhur masyarakat Jawa jika dari segi geografis dapat dilihat pada corak masyarakat kota Solo. Masyarakat Solo memperlihatkan corak masyarakat Jawa yang telah terkonstruk oleh pola pengetahuan pada masyarakat Jawa secara luas.

Kultur Jawa dianggap sebagai kultur yang luhur seperti dapat dicontohkan dalam sikap unggah-ungguhnya. Sikap unggah-ungguh sebagai nilai moralitas masyarakat Jawa yang berorientasi pada tata krama sopan santun. Baik dalam bentuk sikap/prilaku, bahasa/ucapan, maupun pola pikir masyarakat Jawa.

Kultur adiluhung ini telah terkonstruk secara paten dalam masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa beranggapan bahwa yang tergolong dalam kategori atau yang dapat disebut sebagai masyarakat Jawa yakni mereka yang menerapkan nilai-nilai moralitas Jawa seperti unggah-ungguh tersebut.

Melalui realitas kultural yang adiluhung tersebut maka dalam konteks tertentu akan memunculkan subkultur dari kultur adiluhung itu sendiri. Meskipun dari segi historisitas kurang memiliki korelasi didalamnya, tapi dalam aspek kultural maka subkultur ini menjadi anti tesis atas kultur adiluhung Jawa yang telah ada.

Subkultur yang dimaksud ini yakni subkultur masyarakat Jawa yang bertempat di Surabaya jika dalam segi geografis. Jarak kedua kota tersebut antara Solo dan Surabaya dapat dilihat amat jauh yakni sekitar 260 km. Tentu saja dari aspek geografis tidak memiliki relevansi sama sekali.

Begitupun dengan historisitas masyarakatnya yang juga berbeda. Solo sebagai corak masyarakat kerajaan yang mengunggulkan kultur unggah-ungguh yang tunduk dan patuh pada raja, sedangkan Surabaya sebagai kota pahlawan yang melahirkan corak masyarakat yang pemberani dan tegas.

Aspek sosial, historisitas, maupun geografis tidak memiliki korelasi sama sekali. Namun, bagi Cultural Studies yang merupakan kajian multidisipliner ini memperlihatkan korelasi yang berarti.

Masyarakat Surabaya memperlihatkan corak masyarakat Jawa yang amat berbeda dengan ekspektasi dalam setiap benak masyarakat Jawa pada umumnya. Padahal masyarakat Surabaya merupakan salah satu dari komunitas masyarakat Jawa juga.

Namun, bagi masyarakat Jawa, yang menunjukkan identitas masyarakat Jawa yakni masyarakat Solo. Alasannya tidak lain karena corak masyarakat Solo telah menjadi konstruk pengetahuan dimasyarakat yang telah langgeng selama ini. Sedangkan corak masyarakat Surabaya mengalami subordinat sebagai kultur masyarakat Jawa.

Dapat dicontohkan dalam sikap masyarakat Surabaya yang bertolak belakang dengan masyarakat Solo seperti tidak adanya sikap unggah-ungguh. Standar kesopanan bagi masyarakat Surabaya yakni Misuh (berkata kotor) seperti Jancok atau dalam segi prilaku tidak ada istilah menundukkan kepala kepada seseorang yang dihormati atau lebih tua.

Ciri khas masyarakat Surabaya tersebut sangat bertolak belakang dengan masyarakat Solo. Masyarakat Solo lebih mengunggulkan bahasa Jawa Halus dan berprilaku sopan santun. Sehingga dapat dikatakan bahwa masyarakat Surabaya sebagai subkultur dari kultur masyarakat Jawa yang berkaca pada masyarakat Solo sebagai kultur adiluhung dan langgeng.

Sampai disini dapat dilihat suatu keunikan dari masyarakat Jawa yang jarang didengar oleh masyarakat umum. Salah satunya yakni dari subkultur masyarakat Jawa.

Masyarakat Jawa tidak hanya tentang kultur adiluhungnya tentang unggah-ungguh yang sering didengar oleh publik. Masyarakat Jawa juga meliputi mereka yang memiliki kultur bertolak belakang dengan konsepsi unggah-ungguh, seperti budaya misuh dalam setiap tutur katanya.