Sebelum membaca Catatan Pinggir 1, utamanya pada esai Goenawan Muhammad di Majalah Tempo, 28 desember 1976 yang berjudul "Gandhi ke Champaran", saya menyangka bahwa program KKN (Kuliah kerja Nyata) oleh kampus semata untuk belajar di "lapangan"....

Kan, mahasiswa kudu gitu; setelah enam semester belajar teori dalam kelas, bergelut dengan buku demi merampungkan tugas-tugas, serta belajar semalaman suntuk demi berhasil ujian Mid Semester, habis itu musti belajar menerapkan ilmunya di lapangan. Ya, mediumnya di masa KKN itu.

Mahasiswa KKN, tak selamanya juga dipandang sebagai mahasiswa yang turun belajar di masyarakat. Ada pandangan lain. Misalnya, kata sebagian orang yang rada usil, "KKN itu berarti datang untuk memerbaiki kampung orang".

Ada banyak cerita. Mahasiswa KKN itu kerjanya bikin papan nama jalan, bikin tugu, bersih-bersih rumah ibadah, mengecat balai desa, dan semacamnya. Sehingga, lihatlah, suatu desa yang baru saja ditinggalkan oleh mahasiswa KKN pasti dalam keadaan bersih, indah dan asri.

Paling parah, ada juga yang mengharapkan kampus, melalui mahasiswa KKN-nya, memfasilitasi sejumlah bahan untuk membangun desa. Misalnya material ataukah uang. Ini sama sekali keliru. Mestinya, desa ataupun masyarakatnya, menyediakan bahannya, mahasiswa menyiapkan pikiran dan tenaganya.

Padahal, kehadiran mahasiswa KKN bukan sebatas memerbaiki kampung. Bukan juga sebatas menggugurkan kewajiban sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi S1. Mereka datang untuk belajar, menerapkan pengetahuannya di masyarakat, sekaligus belajar dari dan tentang masyarakat.

Bukannya malah dianggap pembantu desa, yang seenaknya diperintah, dan karenanya diperlakukan layaknya bocah ingusan yang layak dikerjain.

***

Saya memiliki pengalaman pribadi soal menyaksikan bagaimana mahasiswa KKN dikerjain.

Tahun 2014 silam, kampung saya kedatangan tamu, yakni mahasiswa KKN dari kampus IAIN Palu--saya termasuk alumni dari sana. Sejak awal-awal tiba, mereka sudah keliling mengobservasi keadaan desa, aktif berperan di masjid, serta rajin bersilaturrahmi kepada tokoh-tokoh dan juga aparat desa.

Waktu itu saya bekerja sebagai guru honorer  MTs. Sebagai adik-adik yang memiliki rasa ada ikatan emosional (mereka menyebutnya begitu), sayapun termasuk dalam list kunjungan mereka. Utamanya meminta informasi mengenai sekolah, pemuda, serta pengalaman saya semasa KKN dulu. Termasuk saya diundang mengikuti seminar program mereka di balai desa beberapa hari mendatang.

Begitu tiba waktu presentase program sekaligus perkenalan satu persatu para mahasiswa KKN itu di hadapan aparat desa dan juga masyarakat, terjadi sebuah ketegangan. Lantaran cara mahasiswa yang memperkenalkan diri lebih milenial dan kental nuansa kekinian, rupanya tidak disenangi oleh Kepala Dinas Pendidikan yang hadir di acara itu. Padahal, masyarakat menyambut mereka dengan hangat, pendekatan kekinian itu berhasil membangun kedekatan.

Begitulah sang Kepala Dinas itu, ia menjadi tokoh utama di forum itu, di sampingnya ada pak Camat dan pak Danramil. Pak Kepala Dinas mulai mengkritik satu persatu tentang yang dilakukan oleh mahasiswa, terutama cara mereka memperkenalkan diri dan memaparkan program kerja yang katanya tidak serius. 

Kemudian ia menjumpai satu alasan yang dijadikannya amunisi untuk menghabisi para mahasiswa ini di muka umum, yaitu tak ada satupun dosen pendamping yang hadir pada saat itu.

Di sisi lain, pak Kepala Dinas membandingkan, menyebut mahasiswa KKN terdahulu dari kampus umum yang persiapannya--katanya--lebih mantap. Di forum itu mahasiswa KKN dipermalukan, dikata-katai dengan bahasa yang tidak mengenakkan. Para hadirin sebagian tertawa mengejek. Para mahasiswa tertunduk, mereka tak berdaya, sebagian pucat, dan sebagiannya lagi menitikkan air mata. Ini keterlaluan!

Setelah usai pak Kepala Dinas itu berbicara, saya unjuk tangan kemudian berdiri kemudian berbicara dengan sejumput kemarahan yang tertahan. Naluri mahasiswa saya yang berontak mulai bangkit, kepala saya mengembang, pak Kepala Dinas menjadi kecil di mata saya. Ini bukan saja mempermalukan almamater saya di khalayak umum, tetapi ini adalah praktek penindasan dengan menggunakan kekuasaan, sesuatu yang saya tentang dengan sangat keras.

Akhirnya, saya yang guru honorer ini berbicara lantang di depan penguasa itu:

"...Apa hubungannya dosen pembimbing mereka hadir atau tidak? Toh, mereka menyusun dan mempresentasekan program dengan baik. Selain itu, saya saksikan dengan mata kepala sendiri, mereka aktif di masjid. Yang bapak bilang mahasiswa KKN terdahulu yang mantap itu, apanya yang dibanggakan? 

Tugas kita seharusnya menyambut mereka dengan baik, mengoreksi secara bijak jika mereka khilaf. Bukannya malah mempermalukan mereka begini. Saya tidak tahu, setelah almamater kampus dipermalukan seperti ini, kedepannya apakah pihak kampus masih sudi mengirim mahasiswa KKN-nya lagi atau tidak?..."

Ternyata saya tidak sendiri, selepas saya, ada beberapa tokoh masyarakat juga memprotes pak Kepala Dinas. Mahasiswa mendapatkan kekuatan mereka kembali, dan Kepala Dinas meminta maaf atas perlakuannya.

***

Goenawan Mohammad, kala menulis "Gandhi ke Champaran", bagian akhirnya ditambahi dengan "Nb" (nota bene). Bahwa kurang lebih dua pekan sebelum esainya pertama kali dibaca publik, biaya KKN mahasiswa di kampus tertentu naik menjadi dua juta rupiah.

Apa hubungannya Gandhi dengan KKN? Goenawan Mohammad sepertinya menghubungkan dengan cerita ini; tahun 1917 Mahatma Gandhi ditemani oleh seorang petani untuk mengunjungi Champaran, di sana penggarap  ditindas oleh pemilik ladang.

Goenawan Mohammad ingin mengatakan, bahwa KKN bukan sekadar sebuah pintu untuk penyelesaian studi, ataukah sekadar mengaplikasikan ilmu yang didapati di bangku kuliah. Tetapi KKN juga adalah sebuah proses mendekati kehidupan wong cilik. Dalam bahasa Gandhi, mereka adalah kelompok Sudra. Selama ini, merekalah yang menanggung penghinaan dan kemiskinan selama berabad-abad.

Boleh jadi sebelum KKN, mahasiswa banyak melakukan gerakan sosial dengan bergabung ke organisasi baik Intra maupun Ekstra. Tetapi tak jarang menanggalkan nalar aktivisnya ketika hendak turun KKN. 

Di lokasi, mereka tak melakukan advokasi, tak juga membuat tulisan yang mengangkat nasib kaum miskin pedesaan—dan ini termasuk dosa saya dahulu, saya tak jua melakukan tugas-tugas itu.

Tanpa kesadaran akan tugas-tugas seperti itu, percayalah bahwa selamanya KKN hanya akan terlihat hambar, sekadar menggugurkan kewajiban. Mahasiswa menganggap memiliki andil besar meski hanya melaksanakan tugas yang kecil. 

Dalam kurun waktu dua atau tiga bulan—kini hendak dipersingkat lagi oleh adanya program Merdeka Belajar—mahasiswa hanya akan berkutat pada rutinitas itu; membuat papan nama, membuat tugu, mengajar di sekolah, mengadakan lomba dan lain sebagainya.

Manakah tindakan agen of change itu dalam hal menyampaikan nasib wong cilik?

Akan tetapi, patut diakui bahwa setidaknya mahasiswa sudah bersentuhan dengan masyarakat. Mereka merasakan langsung bagaimana nasib wong cilik yang mungkin saja mengalami kerertindasan, sebagaimana yang disaksikan oleh Gandhi. Hanya saja perlu tindakan konkrit, ataukah membawa beban itu selamanya, dan bercita-cita memperbaikinya di suatu saat kelak.