Kuliah Kerja Nyata (KKN) dalam dunia kemahasiswaan Indonesia sudah menjadi tradisi wajib yang ditunggu oleh seluruh mahasiswa di berbagai universitas dan perguruan tinggi. Selain sebagai sebuah momen penting dan barangkali satu-satunya kesempatan untuk terjun dan larut dalam ekosistem masyarakat secara langsung, KKN menjadi hal penting untuk dilaksanakan karena substansi dan esensi yang terkandung di seluruh lapisan program-program di dalamnya penuh dengan kemanfaatan yang besar.

Sepanjang sejarah berjalanannya dunia kemahasiswaan, KKN tanpa absen hadir dan tampil menjelma sebagai identitas pegiat-pegiat pendidikan tinggi. KKN adalah roh bagi seluruh mahasiswa. Serta pantang untuk ditinggalkan karena KKN sendiri adalah aktualisasi dari tri dharma yang dipegang sebagai iman dan pedoman mahasiswa, yakni pengabdian masyarakat.

Sebuah Pembuktian Pengabdian

Sebagai sebuah momentum pengabdian masyarakat, KKN biasanya dilaksanakan dalam beragam bentuk kegiatan sosial kemasyarakatan. Namun yang paling mainstream, KKN identik berupa terjunnya sekelompok mahasiswa ke daerah-daerah pelosok dan tertinggal untuk memberikan sumbangsih ilmu pengetahuan demi membangun daerah-daerah tersebut.

Sesuai dengan nama yang disemat – kerja nyata – mahasiswa-mahasiswa yang sedang melakukan KKN tidak hanya memberikan segudang pengetahuannya, namun diharuskan memberikan program yang empiris berguna dan bermanfaat bagi perkembangan kualitas masyarakat.

kerja-kerja nyata tersebut beragam bentuknya, biasanya sesuai dengan spesifikasi disiplin ilmu yang ditempuh mahasiswa. Semisal, mahasiswa pendidikan bergulat dengan membangun ruang-ruang pembelajaran, mahasiswa teknis memberikan ide alat-alat atau medium-medium untuk mengembangkan potensi masyarakat, mahasiswa ekonomi turut membimbing menciptakan roda ekonomi baru bagi masyarakat, dsb.

Secara kolektif kerja-kerja tersebut menjadi simpul-simpul yang merajut hubungan pendidikan tinggi dengan masyarakat secara langsung sesuai dengan semangat mengabdi dan membangun dengan beragam inovasi gagasan.

Pandemi dan KKN-DR

Namun berbeda dengan tradisi KKN di tahun-tahun seperti biasa, tahun ini KKN bertransformasi dalam bentuk praktik yang berbeda. Keberadaan pandemi Covid-19 yang belum kunjung menurun, memaksa berbagai pihak terkait – universitas – memodifikasi bentuk KKN yang selama ini ada.

Jika biasanya KKN dilaksanakan dengan bersentuhan langsung dengan masyarakat tertinggal di berbagai daerah pelosok, tahun ini KKN dilaksanakan dengan praktik bekerja di lingkungan mahasiswanya masing-masing dengan sebutan KKN-DR (Dari Rumah).

Bukan tanpa alasan, pandemi yang masih menjadi musuh yang kian ditakuti dalam kehidupan masyarakat mengharuskan berhati-hati dan waspada dengan lingkungan sekitar. Imbasnya, anjuran untuk tidak keluar rumah masih dilestarikan, kegiatan dengan volume massa yang besar ditiadakan, atau bahkan sampai tidak menerima orang asing di lingkungan masing-masing. Sehingga mustahil bila KKN tetap dilaksanakan dengan format praktik seperti yang sudah-sudah.

KKN dengan Praktik Seadanya

Seolah telah menjadi hubungan yang mustahil dipisahkan, berbagai universitas dan perguruan tinggi lain enggan membatalkan atau meniadakan KKN bagi mahasiswanya. Berbagai intansi lebih memilih mengubah format praktik KKN dengan disesuaikan dengan kondisi yang selama ini menyelimuti. Di tengah pandemi, KKN dilaksanakan dari rumah yang terkesan seadanya.

KKN yang digelar dengan keterbatasan akses dan ruang kian membuat substansi dan esensi yang terkandung menjadi hilang. Mahasiswa-mahasiswa berbondong-bondong melaksanakan KKN dengan hanya sekadar dan seadanya kemampuan tanpa mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki. Semisal yang banyak dijumpai, mahasiswa hanya ikut andil dalam menyemprot disenfektan di tiap kampung atau kompleknya sendiri, atau juga menggelar penyuluhan tentang covid-19 ke berbagai elemen masyarakat.

Beberapa contoh di atas memang bukan sebuah kesalahan, sekilas tampak masih dikategorikan sebagai sebuah pengabdian. Namun kalau ditinjau lebih dalam, apa yang dilaksanakan dengan pekerjaan sederhana di atas tanpa mahasiswa juga sudah mampu dilaksanakan. Sedangkan secara esensi fungsional KKN sebagai praktik pengabdian yang diharuskan pada mahasiswa berarti menyumbangkan potensi – kelebihan dalam pengetahuan – yang dimiliki mahasiswa untuk pengembangan masyarakat agar bergerak ke arah yang lebih baik.

Langkah yang lebih jauh lagi, KKN adalah momentum mahasiswa dengan segenap kelebihan pengetahuan dan pengalaman pendidikan dapat turut memberikan saran, sumbangsih ide, tenaga, ataupun segala hal yang bersikap membangun masyarakat, bukan sekadar ikut berkicumpang dalam lingkungan masyarakat tanpa memberikan sesuatu yang berarti - yang tanpa mahasiswa tidak mungkin dapat terlaksana.

Artinya, mengerjakan sesuatu yang seadanya dan bahkan tanpa adanya sumbangsih mahasiswa masih tetap bisa berjalan adalah kesia-siaan belaka – bias secara fungsional, esensi dan substansi yang sebenarnya dengan KKN yang tertuang sebagai aktualisasi tri dharma perguruan tinggi atau KKN dengan format yang biasanya diterapkan sebagai tradisi di perguruan-perguruan tinggi pada umumnya.

KKN-KKN yang demikian hanya menjadi formalitas yang jauh dari tujuan. Praktik KKN memang masih berjalan, namun nihil subtansi dan esensi yang terkandung di dalamnya. Akhirnya, alih-alih membawa kemanfaatan, kerja-kerja yang digelar seadanya tersebut justru melahirkan citra buruk dan rendahnya nilai kualitas mahasiswa.