Wiraswasta
1 tahun lalu · 1154 view · 6 min baca menit baca · Politik 38549.jpg
Kota Sirte, Libya, Hancur Pasca Perang

Kuliah di Negara Berkonflik, Nyawa Saya Hampir Terancam

Saya tak pernah membayangkan bisa terjebak dan merasakan hawa peperangan di negeri Orang. Setelah lulus SMA, saya bercita-cita kuliah di luar negeri. Karena berbasis pendidikan pesantren, negara Arab lah yang menjadi tujuan belajar.

Dari info yang saya dapat, negara Arab di kawasan Afrika Utara, seperti Maroko, Tunisia, dan Libya merupakan tempat terbaik untuk memperdalam bahasa Arab, karena masih menggunakan bahasa Arab fushah (resmi). Pun mazhab yang dipakai adalah Maliki, dan penduduknya tidak diributkan oleh konflik sektarian Sunni-Syiah.

Cuacanya sangat nyaman untuk ditinggali. Sepanjang tahun, udara dingin menyelimuti, berkisar 5-10 derajat Celcius. Hanya saat musim panas saja (antara Mei-Agustus), matahari sangat menyengat hingga mencapai 50 derajat Celsius. Beasiswa yang cukup besar dari pemerintah Libya juga menjadi pertimbangan saya saat itu.  

Kesulitan-kesulitan saat kuliah bisa saya lewati dengan baik, sehingga tiba masa ujian akhir. Di negara Arab, kelulusan bukan ditentukan oleh skripsi, tapi ujian akhir. Tidak mudah melewati ujian ini, para mahasiswa harus mempelajari seluruh materi dari semester pertama hingga akhir. Ada 17 mata kuliah yang diujikan.

Maka Hari demi hari saya lewati dengan belajar dan menghapal. Tidak ada ujian ulang/her, jika nilai jelek maka harus mengulang tahun berikutnya. Capek, bosan, dan stress kerap hinggap, tapi rindu yang membuncah pada orang tua dan kampung halaman menjadi pemicu untuk terus belajar.

Saya masih ingat, pagi itu hari Kamis, tanggal 17 Februari 2011, hari ke-4 ujian. Saya dan teman-teman sudah duduk di ruang ujian. Tim pengawas juga sudah datang, hanya tinggal menunggu dosen pengampu. Tapi sudah hampir setengah jam, ujian belum juga dimulai. Syeikh Ali Bashri- dekan fakultas, tiba-tiba menyuruh kami pulang ke syuqqah (asrama) dan kampus dinyatakan libur hingga waktu yang tak pasti.

Kami bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Libya. Banyak kabar simpang siur yang beredar. Dua minggu sebelumnya, Kaddafi (saat itu masih menjabat sebagai Presiden) mendatangi kampus kami, memberi kuliah umum dan berdiskusi dengan mahasiswa. Ia menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan masyarakat dalam membangun pemerintahan yang baik.

Peran mahasiswa luar negeri juga memberi dampak postif terhadap stabilitas ekonomi dan politik negara terebut. Sayangnya, beberapa bulan setelahnya, sang Kolonel menghembuskan nafas dengan cara yang tidak manusiawi.

Hari demi hari kami dirundung ketakutan. Pihak kampus tidak mengizinkan mahasiswa keluar. Kampus kami memang dikhususkan untuk orang luar negeri, mahasiswa lokal tidak diperbolehkan belajar di sana. Kami diwajibkan tinggal di asrama.

Menurut info yang saya dapat, pemeritahan Kaddafi sengaja membangun kampus tersebut dengan dana yang sangat besar. Datangnya para mahasiswa membawa keuntungan ekonomi dan politik Libya. Meskipun pernah diembargo selama 11  tahun, dari tahun 1992 hingga 2003, nyatanya rakyat di sana tetap sejahtera. Kekayaan minyak yang terkandung di dalamnya membawa keberkahan pada negara gurun ini.

Tapi kejayaan Libya ternyata tidak bertahan lama. Bulan Februari menjadi titik balik kejatuhan. Negara yang baru saja menikmati kekayaan dari minyak harus tumbang. Masyarakat Libya terbawa dengan revolusi Arab Spring yang dimulai dari negra Tunisia dan Mesir. Libya dinyatakan darurat perang. Surat kabar menyebutkan bahwa kelompok Oposisi telah menduduki Banghazi (kota terbesar kedua setalah Tripoli).

Setiap hari kami tidak bisa tidur tenang. Meskipun pemerintah menerjunkan ratusan angkatan bersenjata untuk menjaga keamanan kampus, tapi kami tetap diliputi rasa cemas dan ketakutan.

Youtube dan Facebook dibanned karena dianggap menjadi pemicu tersebarnya berita hoax dan propaganda hitam. Sinyal internet sangat susah didapat, sehingga saya tak dapat menghubungi keluarga di kampung yang menanti kabar dengan sangat cemas.

Sebagian besar kedutaan telah memulangkan mahasiswanya, sementara KBRI Indonesia belum mengambil keputusan. Perlu koordinasi dengan banyak pihak terkait proses evakuasi, terlebih bandara telah dikuasai oleh kelompok oposisi. Tripoli semakin memanas. Desingan peluru kerap saya dengar dari jendela kamar.

Pihak kampus berkali-kali menenangkan bahwa mahasiswa dijamin keamanannya. Tapi siapa yang percaya? Saya bahkan mendengar kabar, Rektor dan beberapa dosen melarikan diri ke luar negeri. Dan beberapa bulan pasca revolusi sebagian dari mereka dijebloskan ke penjara, karena disinyalir menjadi kaki tangan Kaddadi.

Tanggal 25 Februari 2011 KBRI akhirnya mengevakuasi kami. Di bandara, suasana tegang terjadi. Ribuan orang berjubel di dalamnya. Semua orang ingin menyelamatkan diri. Jadwal penerbangan dibawah kendali pihak oposisi menjadi kacau. Semua penumpang yang memiliki peralatan elektronik dan uang tunai dirampas. Masing-masing dari kami hanya boleh membawa 2-3 helai pakaian, tidak yang lain.

Proses evakuasi terhambat. Ratusan pesawat komersil tidak diizinkan masuk Tripoli. Kami harus menunggu 48 jam lamanya di bandara, tanpa makanan!!! Saya dan teman-teman terpaksa mengais makanan sisa, hanya untuk mengganjal perut, sedangkan untuk minum terpaksa menadah dari kran toilet bandara.

Krisis makanan telah melanda Libya. Tidak ada sama sekali aktivitas jual beli. Semua orang lapar, lelah, takut, bingung, dan berbagai macam perasaan lain berkecamuk. Kaki rasanya tak sanggup lagi untuk berdiri. Kami tidur di lantai bandara yang kotor dan tak terurus. Badan kami dilangkahi oleh orang yang berlalu-lalang.

Setelah penantian yang mencekam itu akhirnya kami berhasil di evakuasi ke Tunisia. Dari Tunisia kemudian lanjut ke Jakarta. Situasi Libya setelah itu tak kunjung membaik. Ekonomi merosot tajam. Tahun 2010, GDP Libya mencapai 74.76 milyar Dollar, sedangkan tahun 2011 merosot  tajam hingga hanya 34.7 milyar Dollar.

Sebelum perang, Libya mampu mengekspor minyak 1.6 milyar barrel per hari!!! Tapi setelah perang hanya mampu mengekspor 200.000 barrel per hari. Rakyat yang terbiasa disubsidi menjadi bingung. Kemiskinan menjerat, penjarahan terjadi dimana-mana. Salah sorang staf kedutaan memberitahu kami, bahwa seluruh barang di KBRI di Tripoli dijarah (padahal barang berharga yang kami miliki saat itu harus dititipkan ke KBRI).

Pemerintah Indonesia memutuskan untuk menutup kantor kedutaan di sana, dan menggabungnya dengan KBRI Tunisia. Mobil dan harta milik masyarakat Indonesia yang ditinggal sementara oleh pemiliknya  dicuri. Gelombang besar-besaran ke Eropa tak terelakkan.

Perang dan kekacauan menjadi pintu masuk anggota ISIS untuk menguasai sebagian wilayah Libya. Akibatnya, di bawah pemerintahan Trump, Amerika mengumumkan Libya adalah salah satu negara yang tidak boleh masuk ke negara digdaya tersebut.

Arab Spring sama sekali tidak menyisakan kemajuan. Ia malah menjadi bumerang dan memporak-porandakan segala kemapanan yang pernah dicapai. Perang hanya terjadi selama 8 bulan, tapi lihat dampaknya, stabilitas ekonomi yang telah diperjuangkan selama puluhan tahun hilang tak bersisa.

Teman saya yang tinggal di sana memberitahukan bahwa sampai sekarang Libya masih bergejolak. Antara kelompok pendukung dan pemberontak tak bisa disatukan. Penyebabnya karena satu: TA'ASSHUBIYAH (FANATISME BERLEBIHAN PADA KELOMPOKNYA).

Ta'asshub (fanatisme pada kabilah) inilah yang dijadikan propaganda dalam perang sipil Libya. Pada kasus ini, pihak oposisi adalah mereka yang berasal dari kabilah di Banghazi (wilayah timur Libya), sedangkan pro pemerintah adalah mereka yang berasal dari kabilah yang sama dengan Kaddafi, yang mendiami wilayah Mishrata dan Tripoli.

Sudah menjadi aturan tak tertulis, setiap kabilah akan mendukung dan mempertahankan kelompoknya, bahkan dengan cara perang sekalipun. Mereka tidak peduli jika harus membunuh sesama anak bangsa sendiri. Nasionalisme bagi mereka bukan pada negaranya, melainkan pada kabilahnya.

Indonesia tidak perlu menjadi seperti negara Arab. Konflik yang disebabkan oleh isu primordial tidak boleh terjadi. Sejak dini, bahkan dari playgroup anak harus ditanamkan nilai-nilai keberagaman. Wisata pendidikan multikultural, harus sering digalakkan, seperti wisata rumah ibadah.

Pertukaran pelajar antar daerah/provinsi harus gencar dilakukan, seperti yang digagas oleh Komunitas Sabang-Merauke. Anak SMP di Jakarta, misalnya bertukar dengan pelajar di daerah NTT, selama liburan. Mereka diberi tugas mempelajari kesenian dan adat daerah tersebut. Seperti apa yang dilakukan komunitas Sabang-Merauke.

Pesantren dan sekolah agama lainnya diwajibkan melakukan upacara setiap Senin, karena sepengetahuan saya, bahkan di pesantren tempat saya belajar, upacara hanya dilakukan saat 17 Agustus. Hal itu membuat rasa nasionalisme dikalangan santri bisa terkikis. Setiap acara, baik keagamaan maupun hiburan harus didahului dengan menyanyikan lagu indonesia raya dan lagu wajib lainnya.

Pemerintah memang mempunyai peran menuntaskan isu primordial yang bisa berujung pada krisis kemanusian, tapi yang perlu diingat, kita lah yang sebenarnya memainkan peran penting tersebut. Berita-berita yang menjurus pada isu SARA tidak boleh dishare.

Sebaiknya baca dan bagikan berita atau tulisan yang semakin memperkuat persatuan dan kesatuan. Semoga suasana kemerdekaan dalam bulan ini menjadi momen bersatunya anak bangsa. Amin.

Artikel Terkait