Dahulu, orang-orang yang berkuliah bertujuan untuk mengemban ilmu yang kelak akan diimplementasikan pada kehidupannya atau tanah kelahirannya. Kebanyakan mereka berakhir menjadi orang-orang cendekiawan yang memiliki pengaruh di masyarakat.

Namun, di masa kini, kuliah tampak sebagai sebuah keharusan untuk melamar kerja di perusahaan, menjadi mapan, lalu menjadi mantu idaman.

Kuliah pada dasarnya bertujuan untuk berkontribusi dalam memperluas batas ilmu pengetahuan manusia. Akan tetapi, apakah di masa kini tujuan tersebut masih diindahkan?

Apa tujuan kuliah secara ideal menurut para pemuda saat ini?

Pertama, mencari skill untuk bekerja. Sebenarnya, zaman dahulu, wajarlah hal ini bisa menjadi alasan. Sebab, akses untuk mendalami ilmu pada zaman dahulu sangat terbatas, tidak mudah, dan mahal. 

Tapi sekarang? Di zaman di mana segala hal bisa diakses dalam jumlah yang hampir tidak terbatas, mudah, dan gratis; di zaman di mana untuk melakukan segala hal, yang menjadi kendala hanyalah rasa malas dan kuota internet, apakah mencari skill perlu melalui kuliah? Tentu jika dipertimbangkan secara logis, Anda bisa jadi mulai berpikir “ngapain kuliah kalau skill bisa didapat lewat internet?”

Kedua, mencari gelar agar bisa diterima di perusahaan tertentu atau untuk pemerintah. Berniat melamar untuk bekerja di beberapa BUMN atau instansi pemerintah lainnya mungkin merupakan alasan yang tepat untuk berkuliah. Sebab, beberapa BUMN dan instansi pemerintah mewajibkan pelamar untuk memiliki gelar pendidikan tertentu untuk mengisi posisi tertentu.

Akan tetapi, di sejumlah perusahaan swasta dan luar negeri yang cukup bergengsi, gelar tampak tidak menjadi hal yang bermakna. Seperti misalnya Google dan Tesla, perusahaan besar yang telah terang-terangan menyatakan bahwa mereka tidak merekrut pekerja berdasarkan gelar mereka, melainkan berdasarkan skill mereka dan apa yang mereka bisa.

Ketiga, bersosialisasi dan membentuk jaringan. Nah, ini yang mungkin tidak masuk akal. Untuk apa membayar setiap semester untuk bersosialisasi dengan orang terdidik?

Kalau mau nyambung dengan pembicaraan mereka, cukup perluas wawasan di bidang yang mereka dalami, bukan? Atau, cukup dengan “mewawancarai” mereka tentang apa yang mereka pelajari di kuliah mereka, bersosialisasi sudah bisa terjadi, kan? 

Anda mungkin cukup nongkrong di beberapa spot angkringan mahasiswa dan berdandan seperti mahasiswa, lalu berbaurlah di sana, cari topik pembicaraan yang mungkin menarik untuk mereka (Anda bisa mengetahuinya melalui trending topic di media sosial!), dan Anda sudah bisa bersosialisasi dengan mereka, para mahasiswa terdidik!

Kenyataan yang didapat setelah kuliah

Tujuan mereka adalah mencari skill agar diterima kerja. Sayang, kenyataannya, angka pengangguran lulusan universitas di Indonesia justru meningkat 25% dibanding tahun lalu. 

Penyebab utamanya adalah karena skill yang telah mereka miliki tidak sesuai kebutuhan, alias kedaluwarsa. Jutaan dari mereka tidak menyadari bahwa skill yang dibutuhkan secara global sudah berkembang jauh lebih pesat selagi mereka berkutat di bangku kuliah selama 4 tahun atau lebih.

Kesenjangan skill antara yang dimiliki lulusan universitas dengan yang dibutuhkan perusahaan bisa diatasi dengan mengikuti perkembangan skill global di samping waktu kuliah.

Namun lagi-lagi, jika dipertimbangkan lebih lanjut, untuk apa Anda susah-susah membagi waktu kuliah dengan waktu untuk mendalami skill, jika sebenarnya Anda bisa berhenti kuliah dan mengalokasikan waktu Anda sepenuhnya untuk mencari skill?

Gelar yang diperoleh tidak sesuai dengan pekerjaan

Selain itu, mari kita ambil seorang contoh, yakni Pak Chairul Tanjung. Ia adalah Menko Perekonomian sejak 19 Mei 2014 hingga 20 Oktiober 2014. Namanya dikenal luas sebagai pengusaha sukses yang memimpin ICT Corp. Waah, keren! 

Terus, apa gelar Pak Chairul? Sarjana Ekonomi? Hohoho, tidak, Rudolfo! Pak Chairul adalah lulusan Kedokteran Gigi Universitas Indonesia! Dia adalah salah satu bukti nyata bahwa gelar sarjana tidak selalu berkontribusi pada kesuksesan. 

Tanpa kuliah pun, Anda juga bisa mendirikan perusahaan! Anda juga bisa meraih skill tanpa perlu membayar tiap semesternya selama 4 tahun atau lebih!

Lalu, apa motivasi para pemuda untuk berkuliah pada kenyataannya?

Sudah jelas, untuk jadi karyawan, mapan, dan mantu idaman! Sungguh motivasi yang terdengar simpel, tapi itulah tujuan yang memotivasi sebagian besar orang di Indonesia meskipun mereka sendiri kadang malu mengakui. 

Apakah Anda familiar dengan “Pokoknya suami kamu harus bergelar lebih tinggi dari kamu!”? Ya, banyak orang tua yang menetapkan standar tinggi untuk orang yang berniat meminang putra-putri mereka. Oleh karenanya, demi menikah sebelum tua, para pemuda berbondong-bondong menempuh pendidikan tinggi.

Lantas, apa yang harus Anda lakukan?

Sampai sini, kita bisa menyadari betapa tidak perlunya memperoleh gelar sarjana untuk memperoleh pekerjaan di abad 21 ini. Sebab, yang dibutuhkan adalah keahlian kerja di bidang tertentu dan relasi sosial, yang notabenenya dapat diperoleh secara gratis dan hampir tak terbatas di internet jika kita cukup bandel untuk tidak menyerah. 

Di sinilah pentingnya semangat untuk belajar sesuatu yang baru, di usia berapa pun. Oleh karenanya, menjadi long-life learner merupakan kunci dari segalanya.

Selain keahlian dan koneksi, unsur intrinsik pada tiap individu juga memainkan peran penting dalam hal ini. Dalam dunia kerja, karakter tahan banting dan mental tidak mudah menyerah sangat dibutuhkan. Hal ini mungkin bukan hal yang dapat diperoleh sebagai skill dari internet, melainkan lebih kepada hal yang muncul dari didikan sejak dini.

Di sisi lain, proses memperoleh gelar sarjana sebenarnya cukup membantu dalam hal Pendidikan karakter dan mental, di mana para penempuh pendidikan hampir pasti harus memeras otak dan begadang untuk menyelesaikan studi mereka. 

Tak hanya itu, dalam hal memperoleh koneksi yang luas, masa-masa menempuh Pendidikan di universitas berpotensi besar untuk membantu pembangunan koneksi yang bermanfaat kelak di dunia kerja.

Namun, bisa tidaknya seseorang berhasil memperoleh mental tahan banting dan koneksi yang bermanfaat tergantung kepada kesiapan dan kesediaan seseorang dalam membuka diri terhadap hal-hal baru. Hal tersebut, sekali lagi, tidak ditentukan oleh pemerolehan gelar sarjana. Hal tersebut lebih ditentukan oleh semangat dan motivasi diri sendiri.

Jika seandainya setelah membaca artikel ini Anda memutuskan untuk tidak kuliah, tentu tidak lantas pula kemungkinan anda untuk menjadi sukses lebih tinggi daripada mereka yang kuliah. Mereka, para mahasiswa, berkuliah untuk memperoleh keahlian kerja. Sedangkan Anda, jika Anda tidak berkuliah, dari mana Anda akan memperoleh keahlian kerja?

Jika Anda berniat memperoleh keahlian kerja dari internet, itu hal bagus. Akan tetapi, apakah kualitas keahlian anda sama baiknya, atau bahkan lebih baik daripada mereka yang berkuliah? Jika tidak, maka berkuliah bisa menjadi pilihan terbaik Anda.

Lain cerita jika meski tanpa kuliah, Anda bisa memperoleh skill berkualitas tinggi lalu diterima kerja di suatu perusahaan, atau bahkan mendirikan perusahaan sendiri lalu sukses. Maka Anda 100% tidak perlu kuliah.

Kecuali, tujuan Anda adalah untuk berprofesi menjadi seorang yang benar-benar butuh pengakuan di bidang akademik, seperti misalnya menjadi dokter, perawat, ilmuwan atau insinyur bidang tertentu. Anda 100% perlu menempuh pendidikan tinggi.

Pada akhirnya, saya akan menanyakan kembali, pentingkah kuliah di abad ini? Bersediakah Anda mengeluarkan uang banyak demi pendidikan, hanya untuk memperoleh masa depan karier yang belum pasti?

Atau akankah Anda memilih untuk mempelajari sendiri keahlian-keahlian baru secara otodidak dari sumber yang bernama internet, untuk memperoleh masa depan karier yang belum pasti pula?

Well, setidaknya Anda tidak kehilangan uang lebih banyak daripada para pengejar gelar sarjana. Pilihan hidup Anda, langkah Anda selanjutnya, Anda-lah yang menentukan.