Berkaitan dengan adanya pandemi Covid-19, sistem pendidikan di Indonesia mulai berubah secara mendadak. Dimana yang berawal dari sistem pembelajaran tatap muka atau luring menjadi sistem daring . Dengan ini menjadi sebuah hal yang mendadak bagi seorang mahasiswa khususnya saya.

Saya adalah mahasiswa baru Pendidikan Kimia Universitas Sebelas Maret angkatan 2021 atau juga disebut lulus jalur corona. Berawal dari berhasil lolos dari SBMPTN, saya sangat bersyukur karena tidak menyangka saja. Banyak pertanyaan muncul dihadapan saya.

“Kok bisa lolos di UNS yog? padahal di SMA gak pernah rangking”

“Paling cuma beruntung saja masuk UNS, jangan sombong, hahaha”

Semua pertanyaan itu membuat saya merasa insecure, tetapi harus bisa membuang hal yang negatif dan tidak penting tersebut. Mungkin ada benarnya kata mereka, kalau saya bisa masuk di UNS jalur keberuntungan karena bantuan dari doa kedua orang tua saya .

Setelah memasuki pembelajaran kuliah pasti kita semua tidak sabar untuk memulai hal baru. Namun perlu diingat, kita berubah gelar yang awalnya “Siswa” menjadi “Mahasiswa”. Dimana kita dituntut harus bisa berubah, karena kita sudah dewasa dan harus memulai hal baru.

Apalagi mahasiswa harus juga bisa beradaptasi di lingkungan baru. Serta saat kita memulai menggunakan pembelajaran daring ini yang sangat berbeda jauh dengan masa SMA. Mungkin ada beberapa kendala yang dialami para mahasiswa terlebih pada jaringan internet.

Apa benar sih kalau perkuliahan daring banyak tugasnya saja?

Mungkin itu pertanyaan yang membuat para mahasiswa bertanya-tanya. Karena setiap mata kuliah itu hanya seminggu sekali pertemuannya. Serta mahasiswa belum tentu begitu paham terhadap materi yang dijelaskan pada saat pembelajaran daring seperti yang saya alami ini.

Apalagi kalau mengerjakan tugas, dengan kita tidak mengetahui materi dengan jelas membuat susah dalam mengerjakannya. Serta membuat kita hanya bingung dan merasa capek akan semua hal ini. Apalagi yang masuk jurusan kedokteran, teknik atau DKV, betapa capeknya orang yang masuk jurusan tersebut.

Mungkin dengan terlaksananya pembelajaran daring ini. Setiap mahasiswa pasti punya gaya belajar sendiri, apalagi saya yang memiliki gaya belajar auditori atau mendengar. Jadi saya lebih suka mendengar pembelajaran secara langsung terhadap dosennya agar bisa paham materi yang dijelaskan.

Perihal banyak atau tidaknya tugas tersebut tergantung dosen yang memberikan. Apalagi saya bertanya kepada kakak tingkat, setiap naik semester akan ada rasa yang sangat menyenangkan, yaitu bertambahnya tugas dan jam tidur semakin kurang.

“Apa daya ku yang baru semester 1, udah mulai sambat, hahahah”

Kadang mau sambat kepada kakak tingkat, kalau tugas saya banyak merasa malu sendiri. Karena tugas kakak tingkat lebih banyak daripada saya. Maka dari itu, membuat saya bingung dan lebih baik diam atau mengerjakan tugas tersebut.

Apa benar perkuliahan daring kita banyak capeknya saja, daripada dapat ilmunya?

Pembelajaran daring ini, mahasiswa banyak menatap layar laptop atau handphone saja dan duduk sampai berjam-jam. Dimana membuat mahasiswa hanya merasa ngantuk, susah fokus dan hanya merasa menjadi orang linglung yang tidak tahu materi yang dijelaskan oleh dosen.

Apalagi ketika dosen meminta jadwal mata kuliah saling diganti. Di sini menguji ke-mental-an mahasiswa yang harus mencari kelonggaran waktu agar bisa berkuliah dengan dosen tersebut. Serta kita juga harus bersepakat dengan kelonggaran waktu dosen.

Kadang mahasiswa banyak yang sambat apalagi dalam satu hari tersebut hanya diisi mata kuliah. Serta kita juga punya tugas yang harus diselesaikan untuk deadline besok hari. Apalagi kalau tugasnya banyak mau mengerjakan, tetapi kita sendiri sudah lelah untuk seharian diisi dengan pembelajaran daring ini.

Tetapi banyak mahasiswa harus tetap mengerjakan tugas tersebut karena takut tidak segera selesai dan nantinya juga ditambah tugas dari dosen lainnya. Kadang saya sendiri juga merasa lelah dengan pembelajaran daring ini, karena saya seorang yang berkacamata kadang mata merasa tidak kuat untuk menatap layar laptop atau handphone saja.

Permasalahan terakhir, mungkin ini cukup berat untuk mahasiswa yang suka menunda-nunda tugas dan waktu.

Apa kita bisa mengatur waktu antara kuliah dengan organisasi?

Banyak dari mahasiswa pasti ingin mengikuti suatu kegiatan di Universitas. Karena ingin menambah hal baru dan menciptakan banyak relasi. Tetapi perlu kita ingat bahwa tujuan pertama kita adalah tetap kuliah.

Dengan kita mengikuti kegiatan atau organisasi di Universitas. Kita harus bisa memanajemen waktu agar tidak keteteran. Apalagi mahasiswa baru ingin sekali ikut banyak kegiatan karena masih mempunyai banyak waktu.

Tapi perlu diingat, kita mampu tidak dalam mengikuti banyak kegiatan yang di mana juga harus kuliah dengan pembelajaran daring. Maka kita harus bisa mengatur timeline, agar bisa membagi waktu antara kuliah dan kegiatan yang ada di Universitas.

Sehingga dapat disimpulkan, bahwa kita semua sebagai mahasiswa harus dapat mengatur waktu dengan baik apalagi yang mahasiswa baru seperti saya. Serta membuat timeline agar kita bisa menikmati berkuliah dan berorganisasi. Dengan begini kita bisa memaknai bagaimana kita berkuliah yang baik dan tidak banyak sambat saja.

Namanya juga menempuh masa depan, ya harus siap capek agar dapat hasil yang memuaskan.