Saya adalah mahasiswa yang berasal dari sudut desa di Pulau Jawa. Membawa nama “mahasiswa” benar-benar memberi beban besar di pundak saya. Menjadi mahasiswa bagi saya bukan hanya perkara menuntut ilmu. Tetapi lebih dari itu, menjadi mahasiswa adalah puncak pengharapan orang tua kepada anaknya agar menjadi pribadi yang matang dan berguna di mana pun dia berada. 

Menjadi mahasiswa juga merupakan perkelahian saya dengan waktu. Waktu yang menunjukkan betapa saya tak punya rasa malu dengan masih saja meminta ini dan itu di usia saya yang terus melaju. Waktu juga yang menunjukkan betapa orang tua banting tulang dalam menyalakan rezeki keluarga, sementara anak-anaknya hidup bahagia dan terus saja berfoya-foya di kota.

Sebagai orang desa, orang tua yang membiayai anaknya menjadi mahasiswa perlu memutar kepala agar kehidupan anaknya tercukupi di kota. Di situasi seperti ini, orang tua tak peduli apa isi tudung nasi yang akan mereka makan nantinya. Kepeduliannya berganti pada kekhawatiran apabila anaknya tak punya cukup uang saku untuk sekedar bergaul dengan anak lainnya dari berbagai kota. 

Saya sebagai mahasiswa yang terpaksa berdomisili di kota, sebelumnya tak pernah tahu betapa ayah saya benar-benar mengorbankan jiwa dan raganya demi saya mendapatkan jenjang pendidikan selayak-layaknya. Dari sini saya menyadari bahwa menjadi orang tua adalah bentuk dari ketulusan dan tanggung jawab sejati. Ketulusan dan tanggung jawab yang benar-benar tak bisa terganti dengan segala bentuk materi.

Terkadang Tuhan selalu saja memiliki cara terbaik untuk segera menyadarkan kita. Terlebih pada situasi pandemi Covid-19 ini, Tuhan seolah meminta kepada kita agar sejenak saja, tolong kembalilah kepada keluarga. Tengok sejenak bagaimana keluarga adalah tempat kita bertumbuh sepenuhnya, juga sebagai bentuk cinta yang sesungguhnya. Dari pandemi ini saya diingatkan bahwa sungguh meruginya saya bahwa kedua orang tua adalah pahala yang saya sia-siakan selama di kota. Pandemi ini juga mengajarkan saya betapa orang tua terus berjuang untuk anaknya, sementara saya hanya ingin meminta hasilnya tanpa peduli perjuangan orang tua dalam membiayai anaknya.

Hampir tiga bulan sudah saya di rumah. Belajar dari rumah sepertinya adalah bentuk pengajaran sesungguhnya selama saya berkuliah. Bagaimana tidak, di tengah bahaya pandemi saya dibuat nelangsa oleh perjuangan orang tua dalam mencari nafkah. Saya tak mengerti lagi bagaimana Tuhan memberikan tulang dan hati yang kokoh pada sosok ayah, di samping Tuhan menjodohkannya dengan sosok ibu yang maha kasih. Kehidupan keluarga berkecukupan, tidak ada yang merasa kurang. Pembedanya hanya ada pada bagaimana cara ayah berjuang sekarang, juga bagaimana cara ibu teduh berdoa  kepada Tuhan. 

Saya tak bisa membayangkan betapa perjuangan mereka hanyalah demi mewujudkan mimpi putra-putrinya demi kehidupan yang layak seutuhnya. Jika selama ini saya berpikir orang-orang sering kali bersikap tidak baik kepada saya, maka betapa berdosanya saya yang lupa bahwa Tuhan menitipkan potret dua orang penjaga. Dua manusia yang selalu bersedia melakukan yang terbaik kepada anak-anaknya.

Kuliah dari rumah selama tiga bulan ke belakang ini tentunya membawa makna dan pesan mendalam bagi saya. Tuhan seolah membuka mata bahwa orang tua rela untuk terus menderma dan tak peduli akan ada berapa luka dan lara asal anak-anaknya terus bahagia. Tuhan seolah menunjukkan bahwa sebenarnya saya hanyalah seonggok makhluk tak berguna yang untuk apa harus susah-susah di jaga dan di cukupi kebutuhannya. 

Tuhan memberi saya pesan bahwa orang tua harus terus berjuang untuk saya, tanpa meminta sedikit saja balas pengorbanan kepada saya. Dalam pikir saya, saya tidak pernah menyangka bahwa kepulangan saya ke rumah saat ini berbeda dengan kepulangan saya sebelumnya. Saya juga tak pernah menyangka bahwa berdiamnya saya di rumah saat ini akan terasa begitu berbeda dengan berdiamnya saya selagi remaja. Sekali lagi Tuhan ingin menunjukkan betapa saya harus mendewasa. Karena umur bisa saja menua, tapi untuk menjadi dewasa tidak dapat diukur melalui usia.

“Beberapa anak terlahir beruntung dibesarkan di tengah keluarga yang berkecukupan materi, setengahnya lagi lebih beruntung diberi hati dan tulang yang kuat untuk berusaha sendiri.” Kalimat tersebut akhir-akhir ini menjadi cambuk yang benar-benar membekas di telinga saya. Kalimat tersebut adalah puncak kesadaran dari betapa seharusnya menjadi mandiri adalah hal yang vital saat kita mencoba untuk menjadi dewasa. 

Menjadi dewasa berarti juga siap menjadi teladan manusia, sebagai bentuk penjaga untuk keturunan kita yang selanjutnya. Karena roda kehidupan selalu berputar, barang kali yang kita lihat sekarang adalah potret keadaan kita di masa yang akan datang. Tapi saya selalu percaya bahwa adil Tuhan tak pernah tertukar. Saya selalu meyakini bahwa Tuhan hanya sedang memberi cobaan pada setiap penghamba, agar senantiasa berusaha dan tak pernah lelah untuk terus meminta.