Barangkali ini adalah buku tentang bahasa Indonesia yang ramah dengan generasi kekinian. 

Kombinasi warna dan font di sampul depan sudah membawa rasa sejuk bagi para calon pembaca. Judul Recehan Bahasa: Baku tidak Mesti Kaku menyiratkan pesan bahwa buku ini adalah buku serius, namun ia menjanjikan tidak akan membuat pembacanya terintimidasi.

Buku Recehan Bahasa adalah buku kedua Ivan Lanin. Buku pertamanya berjudul Xenoglosofilia: Kenapa Harus Nginggris? (2018). 

Karena bersumber dari tulisan di blog, tulisan-tulisan yang ada di buku pertamanya terasa panjang sehingga menimbulkan kesan serius. Selain itu, buku pertama tersebut kering ilustrasi atau gambar.

Sementara, buku Recehan Bahasa materinya bersumber dari pilihan kiriman seputar kebahasaan ke media sosial Twitter. Sejalan dengan karakter Twitter, tentu saja tulisan-tulisan di buku tersebut cukup pendek.  

Penggunaan font warna merah untuk teks judul bahasan, warna biru untuk teks bahasan pendek, dan disertai dengan ilustrasi atau gambar pendukung, atau kadang hanya ada ilustrasi untuk satu topik bahasan membuat buku ini terasa ringan dan nyaman dibaca.

Dalam buku ini, ada 81 topik kebahasaan yang dibahas secara ringkas dan renyah.  

Diakui oleh Ivan Lanin dalam Prakata bahwa buku ini bukan buku pelajaran bahasa Indonesia yang sistematik, namun mengandung serpihan-serpihan pengetahuan yang dia pelajari dari pelbagai ilmu linguistik: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, pragmatika, dan wacana (halaman xiii).

Kalau dibaca secara urut dari halaman depan sampai halaman akhir, buku ini barangkali bisa diselesaikan dalam waktu sekitar 2 jam.

Bisa juga dibaca secara acak sesuai topik yang diminati dengan melihat Isi Buku (atau yang umum dikenal sebagai daftar isi). Namun demikian, saya sarankan untuk membaca secara urut, karena bisa lebih tuntas, dan pembacaan secara acak sangat memungkinkan terlewatkannya topik-topik tertentu.

Ada banyak bahasan dalam buku ini yang membuat pengetahuan bahasa Indonesia termutakhirkan, seperti penulisan kata, kosa kata, makna kata, dan lain-lain.

Ada yang selama ini saya yakini sebagai benar ternyata tidak baku. Sebagai penutur bahasa Indonesia, saya merasa malu sendiri bahwa banyak hal yang saya tidak tahu, tidak begitu paham, atau bahkan tidak ngeh sama sekali.

Sayangnya, ilustrasi grafis yang ada di buku tersebut tidak bisa saya tampilkan di sini secara visual. Jadi, ilustrasi untuk ulasan beberapa contoh bahasan hanya bisa saya gambarkan lewat kata-kata yang tentunya kurang memadai.

Bahasan pertama di halaman 1 hanya berisi komik 4 kolom. Digambarkan hantu perempuan berambut panjang menutupi separuh mukanya mendatangi seorang penjaja makanan.

“Bang, beli sate, bang…”

“Beli apa?”

“Sate! 200 tusuk, makan di sini!”

“Ha? Maaf, Non, tapi di sini enggak jual sate! Coba, Non, lihat spanduknya!”

Dan di kolom terakhir komik tersebut digambarkan hantu perempuan tersebut berdiri di samping spanduk bertuliskan “SATAI KHAS MADURA.”

Alih-alih sate, ternyata bentuk baku untuk menyebut menu populer ini adalah satai.

Selain kata satai, tentunya ada banyak lagi kosa kata dalam bahasa Indonesia baku yang kalah populer dengan bentuk tidak bakunya yang banyak digunakan di masyarakat. Kata baku jomlo, misalnya, tidak sepopuler kata jomblo, yang bukan bentuk baku namun mulai banyak dipakai sejak akhir 1990an (halaman 52).

Bahasan bertajuk “Sekapur Sirih” (hal. 30) juga menarik. Bahasan itu menampilkan tabel perbedaan antara kata pengantar (foreword) dan prakata (preface).  

Kata pengantar dibuat oleh orang lain, prakata dibuat oleh penulis. Kata pengantar berisi apresiasi terhadap karya tulis dan penulisnya, prakata berisi penjelasan tujuan pembuatan karya tulis.

Terakhir, kata pengantar berisi ucapan terima kasih kepada penulis, prakata berisi ucapan terima kasih kepada orang lain yang mendukung penulis.

Masih di topik ini, disebutkan bahwa ungkapan selayang pandang adalah padanan dari kata bahasa Inggris overview, dan sekapur sirih adalah bersinonim dengan kata pengantar dan berpadan kata dengan foreword.

Ada juga bahasan tentang pelafalan. Salah satunya adalah tangkapan layar Twitter tentang jajak pendapat untuk menjawab pertanyaan: “Bagaimana Anda mengucapkan nama jenis kendaraan bermotor ini? Bas, bis, bus, beus.  

Hasil jajak pendapat ini, beserta informasi tentang ejaan dan pengucapannya, bisa Anda temui dalam buku ini halaman 10 – 11.

Apakah Anda tahu makna kata-kata berikut ini: mancakrida, penjenamaan diri, lewah, perangkat jemala, kuy? Kalau Anda sudah mengetahuinya, berarti Anda memang pemerhati bahasa Indonesia yang militan.  

Namun bila belum mengetahuinya, Anda bisa menemukan arti kata-kata tersebut tidak dalam satu bahasan, namun tersebar dalam beberapa bahasan yang ada di buku tersebut.

Sementara saya cukupkan tinjauan tentang isi buku, dan saya ingin mengungkapkan tiga hal kecil, yang sedikit mengganggu.

Yang pertama, Ivan Lanin mengakhiri Prakata bukunya dengan menuliskan ungkapan bahasa Jawa Witing tresno jalaran soko kulino.  

Sebagai penganjur kebakuan, semestinya ia menggunakan bentuk penulisan yang baku, yaitu witing tresna jalaran saka kulina.

Kedua, yang menjadi pertanyaan saya adalah mengapa huruf pertama kata wikipediawan di sampul belakang, dalam kalimat “Ivan Lanin adalah Wikipediawan pencinta bahasa Indonesia” memakai huruf besar.  

Kalau kata wikipediawan setara dengan nama jenis pekerjaan lainnya seperti guru, pengacara, petani, dan lain-lain, semestinya huruf di awal kata memakai huruf kecil.

Ketiga, barangkali ada kekeliruan ketik atau cetak pada halaman 65 poin no. 29. Di situ tertulis taling: tanda (ꞌ) atau (ꞌ) dan seterusnya. Tidak ada perbedaan antara yang tercetak sebelum dan sesudah kata atau, yang semestinya berbeda.

Secara keseluruhan, saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya untuk buku ini. Buku ini telah memberikan banyak pelajaran tentang berbagai aspek bahasa Indonesia, yang sebagian besar belum saya ketahui. 

Buku ini bukan sekadar recehan, namun kudapan bergizi bagi pengguna umum bahasa Indonesia. Kemampuan berbahasa sehat, negara kuat. Sungguh.

Info Buku

  • Judul: Recehan Bahasa: Baku Tak  Mesti Kaku
  • Penulis: Ivan Lanin
  • Penerbit: Qanita, Juli 2020
  • Tebal:  xiv + 138 halaman
  • ISBN: 978-602-402-179-5