35158_80893.jpg
Pinterest
Cerpen · 11 menit baca

Kuda Hitam

Berzinah itu dilarang. Aku tahu itu. Aku sangat tahu hal itu. Semua kitab suci dari berbagai macam agama pun melarangnya, entah Al-Qur’an, Taurat, Injil, dan bahkan hukum-hukum yang diciptakan manusia juga melarangnya. 

Tapi bagaimana lagi? Libido adalah libido. Hasrat adalah hasrat. Nafsu adalah nafsu. Dan setan adalah setan yang terbakar, berapi, panas. Mereka selalu membisikkan siasat-siasat bagus dan nikmat untuk manusia entah yang berdosa atau pun yang beriman. Salah satunya diriku, yang sudah berdosa, selalu ditambah lagi dosaku dengan siasat-siasat jahanam itu.

Ini bukan hobi, tapi kebiasaan buruk. Kata guru biologiku saat duduk di bangku sekolah, kebiasaan buruklah yang sulit dihilangkan dan akan terus tersimpan di dalam memori busuk. Sekali-kali ketika lengah, akan muncul dan menambah dosa. Walaupun aku sudah berusaha menahannya, tetap saja menjalar ke seluruh saraf dan aliran darah untuk mengerjakannya. Pada akhirnya, tubuh, hati, dan otak menghendaki, meskipun hati kecil memaki-maki.

“Memangnya istrimu tak pernah risau?” tanya seorang pelacur malam itu di atas ranjang kayu hotel melati. Wajahnya berkeringat, tapi kami belum selesai.

“Tak tahu,” jawabku ketus karena malas menjawab pertanyaan yang selalu ditanyakan oleh mereka yang khawatir. Tak kuhadapkan wajahku kepadanya, tapi ke langit-langit yang temaram dengan lampu neon yang tak lagi terang.

“Hmm, baiklah. Itu kau yang urus. Aku hanya melayani. Ayo lagi.” Ia merayuku lagi. Kami bersenang-senang hingga pagi.

___

Di negeri ini hukuman bagi yang berzinah adalah kematian. Dan kematian itu sedang menghadapku di depan pintu gerbang keadilan.

Tadi malam polisi menggerebek para lelaki hidung belang di hotel yang kutiduri bersama seekor kupu aduhai yang kusewa dengan harga lumayan. Sial sekali. Tapi apa boleh buat? Libido adalah libido. Hasrat adalah hasrat. Nafsu adalah nafsu. Dan aku sudah mempersiapkan ancang-ancang kematian untuk kejadian seperti ini.

Pagi itu, ketika fajar melirik, semua orang menontoniku yang telanjang bulat di bawah naungan pisau pancung di alun-alun kota, termasuk istriku dan kedua anakku yang dikawal oleh dua orang penjaga. Kepala dan kedua tanganku terkunci. Mungkin alasannya agar aku tak berzinah lagi atau tidak melakukan onani di depan mereka. Seorang pendeta, biksu, dan kyai datang dari tiga sudut berbeda dan mengelilingiku. 

Mereka membacakan mantra-mantra yang tak kupahami. Mungkin agar mengusir raungan jahat dari sekitar tubuhku. Setelah selesai mereka berbaris di depanku. Sebuah pemendangan yang sangat bahagia. Setelah itu gubernur datang ke hadapanku dan orang-orang yang mengerubuni tontonan cabul ini. Lalu ia berpidato seperti biasa:

“Inilah wujud dari kebinasaan, wargaku sekalian. Inilah wujud dari iblis yang sebenar-benarnya! Sudah berkali-kali kami tegur orang ini agar berhenti berzinah, tapi tubuhnya sudah diselimuti kobaran api neraka yang terus meresahkannya untuk berselingkuh.” Pada tahap itu istriku tersedu. Kedua anakku memalingkan wajah ke dalam pagutan sang ibu. Ah, pemandangan yang menyedihkan. Suami dan ayah macam apa aku ini.

“Inilah satu-satunya hukuman yang pantas untuk manusia biadab seperti dia. Kematian!!! Ia harus mati agar tak menyebar virus iblis yang sudah meradang di dalam tubuhnya.” Istriku menangis kejar. Kutundukkan kepalaku agar tak terlihat oleh perempuan yang kucintai itu. Aku mencintainya. Ia mencintaiku. Anak-anak menyayangiku. Aku menyangi mereka. 

Tapi akhirnya rahasia ini terungkap secara senonoh di hadapan mereka. Tak kupikirkan pandangan orang lain, tapi pandangan keluarga di saat-saat seperti ini adalah pisau.

“Kematian bukanlah sebuah kegagalan, anakku.” Ucap gubernur buncit itu kepadaku. Pakaian necisnya—jas hitam tak dikancingi, kemeja putih tanpa dasi, dan celana hitam bahan tebal—berkeringat. Aku bisa melihatnya gugup. 

“Kematian adalah transisi ke hidup selanjutnya. Biarkan neraka menghapus segala dosamu.” Aku tahu kalau dia juga seorang penzinah. Terlihat hidungnya yang belang. Hidung-hidung para penzinah jelas terlihat belang hitam-putih ketika tersengat sinar mentari. “Maka biarkan dirimu terbakar oleh se…”

“Sudahlah jangan banyak omong, babi tua! Cepat penggal kepalaku agar tak malu mukaku di hadapan keluargaku! Sialan! Gayamu seperti pemuka agama.” Hentakku karena omongannya yang mengada-ada.

“Kau pendosa bajingan! Sudah berzinah, masih melawan. Iblis!” balasnya kesal.

“Heh, tai kuda, kalau mau jadi pemuka agama yang berceramah dosa, neraka, dan hidup, belajarlah kepada mereka,” maksudku ketiga pemuka agama di depan. 

“Jangan berpura-pura pidato kepada penzinah yang ketahuan dan semena-mena menceramahi rakyat padahal dirimu sendiri penzinah. Cepat pancung aku, keparat!” kesal sekali aku melihat wajahnya yang berlemak seperti babi betina hamil. Tapi di sisi lain istriku makin menjerit. Inginnya tak melihat diriku, tapi kedua penjaga itu menghadangnya untuk kabur. “Biarkan keluargaku pergi, penjaga sialan!” mereka tak merespon. Dasar, anjing!

“Memuakkan. Tak tahu malu! Algojo, cepat pancung dia!”

“Vienna, Tedi, Rosa, janganlah kau lihat manusia pendosa ini. Aku minta maaf karena tak bisa jadi suami dan ayah yang ba…”

CROT! Kepala jatuh di hadapan sang bumi dengan darah yang berhamburan.

___

Di mana-mana ada cahaya. Di mana-mana ada sautan. Dan di sana, di ujung dunia, kita bisa melihat apalah kita yang suram. Tuhan selalu punya rencana. Tuhan selalu punya masa. Maka Ialah yang Maha Segala. 

Udara berkelindan dengan suara, dengan gelombang. Aku terbaring di dalam sebuah dimensi transisi. Yang tak pernah kutahu apa itu. Tadi sakit sekali. Tapi begitu saja terjadi. Dan sakit itu akhirnya kusadari sebagai peringatan. Iblis, tolong jangan ganggu diriku lagi.

Hiduplah, o, hiduplah. Dalam wujud yang fana. 

___

Aku tumbuh sebagai kuda hitam yang gagah dan juga diminati oleh banyak betina. Begitulah kata indukku. Ayahku wafat saat umurku dua tahun. Ia wafat saat ikut majikanku, seorang panglima perang bangsa peri, dalam perang melawan bangsa Harpy—bangsa cantik dengan sayap dan rambut panjang indah dan biadab dengan kebiasaan mereka yang busuk. 

Indukku wafat saat umurku lima tahun, saat ia melahirkan saudariku yang akhirnya tidak terselamatkan juga. Kuhabiskan masa remajaku untuk melakukan hal-hal kecil seperti makan, minum, tidur, buang air, dan tak lupa mulai mencoba berkembang biak. Dan untungnya, betina-betina di peternakan ini begitu aduhai. Jadi aku bebas berkembang biak sesukaku dan sebisaku. Bagaimana lagi? Libido adalah libido. Hasrat adalah hasrat. Nafsu adalah nafsu.

“Memangnya kuda poni betina yang kau setubuhi di pojok kandang dua hari yang lalu tak akan marah?” tanya seekor kuda unicorn betina yang berkeringat, tapi kami belum selesai.

“Tak tahu,” jawabku tak acuh karena malas menjawab pertanyaan yang selalu ditanyakan oleh mereka yang khawatir. Tak kuhadapkan wajahku kepadanya, tapi ke langit-langit kandang yang diterangi oleh cahaya rembulan yang menembus atap yang bolong.

“Hmm, baiklah. Itu kau yang urus. Aku tak mau tahu kalau ada masalah. Ayo lagi.” Ia merayuku.

“Tunggu sebentar. Memangnya ada ‘perselingkuhan’ di dunia hewan?” tanyaku heran. Dan, kenapa aku bertanya begitu pun aku tak tahu.

“Apa maksudmu? Hewan adalah hewan. Kau bertanya seperti makhluk lain. Sudahlah, ayo kita selesaikan.” Balasnya heran. Ia merayuku lagi. Kami bersenang-senang hingga pagi.

___

Sangat disayangkan, lama-kelamaan bangsa kuda semakin punah karena banyaknya peperangan. Aku mulai kehilangan teman-temanku, keluargaku, dan wanita-wanitaku. Dan pada akhirnya diriku diikursertakan juga dalam perang oleh majikanku yang adalah anak dari panglima perang terdahulu yang wafat bersama ayahku.

Namanya Perang Utopia, memperebutkan daerah utopia beragama di sudut Timur Lembah Hichigan. Perang ini terjadi karena bangsa peri ingin menguasai daerah itu dan mendapatkan kitab tua Sulaiman dari bangsa manusia. Perang itu memakan waktu selama tiga ratus dua puluh empat hari. 

Karena kebosanan akut yang tercipta dari ketidakseruan perang, aku kabur dari peperangan itu di suatu malam hujan. Para peri sedang tertidur pulas di dalam kamp saat itu, dan aku terikat di sebuah pohon. Aku berhasil kabur dengan menggerogoti tali yang memenjarai diriku dengan perbudakan hewan ini. Tak kupedulikan bagaimana majikanku selalu menyayangiku. Yang penting sekarang adalah kabur, dan hidup bebas.

Aku berlari sekencang-kencangnya hingga pagi datang dan melihat bagaimana indahnya Lembah Hichigan. Di sinilah hewan-hewan bisa bebas berbicara. Di sinilah tempat idaman bagi para binatang agar bisa menjadi setara dengan makhluk lainnya, tidak diperbudak seperti makhluk rendahan. 

Setelah melewati perkebunan gandum dan jagung yang luasnya berhektar-hektar, aku sampai di sebuah pedesaan apik dengan hewan-hewan yang sedang melakukan aktifitas. Ah, inilah yang kucari. Sebuah kebebasan hakiki untuk menikmati dunia.

Malamnya kudapatkan seekor Griffon jelita yang takluk oleh tubuh gagahku di bar bawah tanah. Griffon memanglah makhluk indah dan dihormati. Makhluk dengan tubuh elang di bagian depan, dan tubuh singa di bagian belakang hingga buntutnya. 

Tapi semenjak Kementrian Binatang Buas di Utara melakukan skandal percobaan gagal dan merugikan perihal silang kawin antara Naga dan Rusa Surgawi—hal ini mengakibatkan ketidakseimbangan alam—instansi itu ditutup. Makhluk-makhluk buas berkeliaran tanpa ada yang merawat, dan menjadi gelandang seperti Griffon yang kutiduri ini.

“Janji yah kau akan mencitaiku? Benihmu sudah ada di rahimku.” Ucapnya dengan senyum yang gemilang seperti konstalasi bintang Leo di malam pertengahan tahun. Tapi pertanyaannya seperti sambaran petir Zeus yang merobek hati.

“Hmm, aku bingung. Memangnya menurutmu apa itu cinta? Memangnya benar-benar ada yang namanya cinta?” tanyaku heran. Tak pernah ada yang bertanya seperti ini sebelumnya. Biasanya mereka hanya mempertanyakan, ‘bagaimana pasanganmu sebelumnya? Tak risau atau cemburukah mereka?’ Tapi pertanyaan ini aneh.

“Cinta itu adalah kasih. Kasih yang sayang. Cinta itu mempunyai kesanggupan yang hebat. Dia bisa membuat binatang menjadi manusia, dan manusia jadi binatang.[1]” Balasnya dengan bahagia. “Kau kuda gagah yang sangat polos yah.” 

“Aku tak paham. Tapi aku tak pernah merasakan kasih. Yang kurasakan hanya libido, hasrat, dan nafsu.” Ia melihatku kaget. 

___

Di negeri ini hukuman bagi yang berzinah adalah kematian. Dan kematian itu sedang menghadapku di depan pintu gerbang keadilan.

Tadi malam di perkebunan jagung, saat Griffon jelita itu mengeluarkan amarahnya kepadaku, para anjing penjaga memergoki kami. Dan dengan dendamnya, Griffon betina itu menuduhku memaksanya untuk berzinah denganku. Keparat! Padahal dia yang tergoda padaku. 

Aku dibawa ke alun-alun desa, dan dibiarkan berdiri dengan kepala yang terkunci di bawah naungan pisau pancung raksasa. Griffon itu menangis tersedu-sedan melihatku di bawah ambang kematian.

“Tak seharusnya kau mati.” Katanya gusar sambil mengusap air mata yang terus membanjir.

“Bodoh. Kenapa kau bilang kalau begitu?”

“Kau membuatku marah.”

“Aku memang benar tak tahu cinta.” Dan ia menangis lebih kejar malam itu.

“Sebelum fajar, ada satu pesan dariku. Jika kau memang mau mendengarkannya.”

“Apa itu?” tanyanya sambil menangis.

“Jagalah benih yang ada di rahimmu. Karena jika benar ada cinta, maka kurasa itulah cintaku kepadamu dan seisi dunia.”

___

Pagi itu, ketika fajar melirik, semua hewan dan binatang buas melihatku berdiri lemas di bawah pisau pancung raksasa sialan ini. Kerumunan burung bangkai sudah mengitari langit tapat di atas kepalaku. Bau-bau kematian dan bangkai sudah mulai menguak dari pori-pori tubuhku. Griffon jelita duduk di lantai dua bar yang tepat menghadap alat pancung yang menaungiku. Ia dijaga oleh dua anjing penjaga.

“Ialah aib desa! Padahal cuma pendatang tak dikenal yang berniat beristirahat, tapi malah keterusan meniduri makhluk agung Griffon. Keparat kau!” kepala pertamanya, yang berada di tengah, menghardikku. Lalu ketiganya meludahiku, hadirin tersentak dan Griffon makin meringis. Sang Cerberus, ketua anjing penjaga, menghardikku di depan rakyat desa. 

Ialah pemegang kebijakan setelah kepala desa. Sepertinya kepala desa memang tak bisa hadir untuk masalah remeh seperti ini. Lalu kepala keduanya, yang berada di sebelah kanan menambahkan, “Lebih baik kau ke neraka, bajingan! Kau tak pantas hidup! Kau menodai kaummu sendiri! Kau acuh…”

“Banyak omong! Kalau kau panggil dia agung, mengapa tak ada yang mengurusnya? Dasar bodoh.” Ucapku tak acuh. Omongannya penuh dengan kekosongan. Dan aku seperti pernah mendengar omongkosong seperti ini, tapi aku lupa di mana dan kapan.

“Tak tahu diuntung kau, makhluk biadab. Karena perlakuanmu, nama desa kami tercemar, bodoh!” lanjut kepala ketiganya yang paling kiri. “Lebih baik kau cepat mati dan disiksa oleh Hades beserta makhluk-makhluk dan siksaan neraka! Lihatlah seluruh rakyat desa, inilah hukuman bagi yang melanggar peraturan. Algojo, pancung dia!”

Mataku melihat Griffon jelita yang makin mengamuk. Sepertinya aku pernah bertemu sosok yang sama seperti Griffon jelita itu, tapi aku lupa kapan dan di mana. Jika kau memang kasih, tolong jaga benih di rah…

CROT! Kepala jatuh di hadapan sang bumi dengan darah yang berhamburan.

___

Di mana-mana ada kegelapan. Di mana-mana ada sunyi. Dan di sini, di pusat dunia, kita bisa melihat apalah kita yang terang. Tuhan selalu punya masa. Tuhan selalu punya rencana. Maka Ialah yang Maha Segala. 

Udara berkelindan dengan embun, dengan air. Aku terhempas di dalam sebuah dimensi transisi. Yang tak pernah kutahu apa itu. Tadi sakit sekali. Tapi begitu saja terjadi. Dan sakit itu akhirnya kusadari sebagai peringatan. Hati besar, tolong jangan ganggu diriku lagi.

Hiduplah, o, hiduplah. Dalam wujud yang tiada. 

___

Aku berterbangan. Aku tak terlihat. Aku dihirup. Aku dihembuskan. Aku udara, yang diizinkan Tuhan bepergian ke mana pun aku suka. Juga ke hidung dan paru-paru kalian. Juga ke dalam tubuh pohon, ganggang, dan cyanobacteria. Juga ke dalam air. Juga ke dalam api. Juga ke dalam tanah. Juga ke jiwa-jiwa.

Tak ada libido. Tak ada hasrat. Tak ada nafsu. Hanya dihirup. Hanya dihembuskan. Hanya menyatu. Membaur dengan yang lain tanpa membuah. Hanya berputar di lingkaran yang sama. Sepertinya pernah kuingat sesuatu. Hmm, namanya adalah cinta. Tapi sekarang hanya terpakai sebagai sebuah metafora hangat dalam sentuhan-sentuhan kami. Sentuhan tanpa hasrat. Sentuhan tanpa nafsu. Hanya sentuhan yang mengasih.

Pagi sejuk ini aku berkunjung ke Kerajaan Awan bersama udara lain, untuk mengasih seperti perintah Tuhan. Kami terbang bersama makhluk-makhluk agung ke kerajaan tersebut. Makhluk-makhluk yang memiliki bulu-bulu emas dan hitam di tubuh elang bagian depannya dan di tubuh kuda bagian belakangnya. 

Kami melewati kumpulan awan, gerbang megah kerajaan, pohon dan tanaman harum tak berkesudahan, dan tiang-tiang emas yang berkilauan. Makhluk-makhluk agung itu berkumpul di depan kerajaan untuk menghening. Aku melihatnya takjub dari atas. Kukira mereka sedang merayakan sesuatu.

“Sudah seratus abad setelah kematian leluhur kita, saudara-saudaraku.” Ucap salah satu dari mereka kepada kawanannya di atas tangga kerajaan dengan tangkas. “Pada hari ini, kembali kita rayakan kematiannya yang penuh dengan kesedihan. Ialah yang akhirnya menjadi benih pertama bagi kawanan agung kita ini. Kitalah yang akhirnya diagungkan kembali setelah kematiannya. Kitalah perpaduan agung. Hidup Hippogriff!”

“Hidup Hippogriff!” balas kawanannya serentak, menggaung di atas Kerajaan Awan. Lalu mereka beterbangan secara serentak mengelilingi tiga patung besar di tengah alun-alun kota sambil melempari mawar-mawar perak kepada ketiganya. Patung kuda hitam dewasa, Griffon emas jelita, dan anak Hippogriff yang menggemaskan.

Sepertinya aku mengingat sesuatu. Tapi apa yah?  

___

Pada akhirnya yang baik tak selalu baik dan yang buruk tak selalu buruk. Benarkah?

 

[1] William Shakespeare.