"Feeding time!" ujarku pada kucing-kucing di rumah yang sedari tadi terlihat malas.

Cuaca memang sedikit panas. Hari libur bekerja memang selalu tepat untuk tidak melakukan apapun, kecuali bergolek-golek sambil mencari kantuk. Tampaknya kucing-kucingku lebih menikmati situasi seperti ini ketimbang aku.

Belakangan, memang aku lebih intens dalam memperhatikan kucing-kucing di kontrakan. Bahkan di jalanan sekalipun. Itulah yang membuatku selalu membawa makanan kucing ke mana pun aku pergi. Meski hanya sedikit. Sebab menurutku, bukan hanya manusia yang mendapat nasib kurang baik sebagai gelandangan. Tapi termasuk binatang; kucing, anjing, atau apapun itu selama mereka bernapas dan memiliki hak untuk hidup sewajarnya.

Kegelisahan-kegelisahan

Usiaku 35 tahun, bekerja sebagai seorang buruh pada sebuah pabrik sepatu terbesar di kota S. Aku masih hidup sendiri. Tanpa pasangan. Hal yang kerap dipermasalahkan keluargaku saban aku pulang kampung atau sekedar berbincang di telepon. 

Bukannya aku tidak menyukai perempuan atau tak memiliki cukup materi untuk memulai sebuah rumah tangga. Hanya saja, dalam beberapa hal aku merasa takut untuk menjalin hubungan personal dengan seseorang. Selama ini, aku menganggap bahwa hubunganku dengan setiap orang kecuali keluarga, hanyalah sebuah tuntutan formalitas sebagai mahluk sosial. Selebihnya aku tak peduli.

Ketakutan itu muncul sebab rasa waspada terhadap manusia. Yang aku tahu, mahluk bernama manusia adalah mahluk yang terlampau lihai bermuslihat. Lebih lihai dari jenis binatang buas apapun. Ironisnya, bahwa aku adalah salah satu anggota spesies manusia itu. Namun aku selalu meyakinkan diri untuk menjadi manusia dengan jenis berbeda. 

Pengalaman-pengalaman yang telah kulewati, menjadikan aku mengerti bahwa tak pernah benar-benar ada hubungan tulus antar sesama manusia. Semua relasi-relasi yang dijalin, tak lebih dari sekedar mencari keuntungan antar sesama. Wajar jika Mark Twain pernah berkata "semakin aku mempelajari manusia, semakin aku menyayangi anjingku".

Perasaan yang kurasakan soal manusia, memang terkesan pesimis dan skeptis. Namun menurutku, pada tingkat kekecewaan tertentu, siapapun akan menyadari bahwa menjalin hubungan spesial dengan seseorang tak lebih dari sebuah kegiatan yang membuang-buang waktu.

Pernah, satu kali sebab tuntutan pernikahan dari keluarga, aku mencoba untuk membangun perasaan dengan seseorang. Awalnya semua berjalan lancar. Semua hal terasa indah, perasaan ragu terhadap hubungan mulai memudar. Hari-hari hanya diisi dengan hati yang berbunga. Selebihnya aktifitas kerja.

Namun perasaan-perasaan itu tak berlangsung lama. Hanya berlangsung sebelum akhirnya aku merasa kecewa. Dan kekecewaan itulah yang membuat hatiku semakin tidak percaya pada ikatan apapun.

Dalam dunia pertemanan, aku termasuk orang yang bersifat dingin. Setiap kali seseorang meminta bantuanku, terlebih dahulu aku selalu menimbang dalam hati. Memperhitungkan kemungkinan dia akan balas membantuku jika suatu hari aku kesulitan.

Aku bukan seorang yang perhitungan, apalagi menyoal uang. Hanya saja aku adalah orang yang selalu mengharuskan diri untuk berhitung. Menyeleksi, mana orang yang layak aku belikan makan atau orang yang hanya layak aku beri rokok sebatang. Jadi, bedakan antara perhitungan dan berhitung. Antara pelit dan berhemat.

Dalam dunia kerja, aku dikenal sebagai seorang individualis. aku lebih nyaman bekerja dalam diam. Tanpa obrolan, canda kecil, atau apapun. Sebab setiap detik waktu yang berjalan, sangat penting bagiku. Setiap waktu adalah uang. 

Kerja sebagai buruh di pabrik tak seperti bekerja di toko milik orang tua. Ada target produksi yang mesti dicapai setiap pekerja dalam satu sesi kerja. Dan menurutku, sebuah obrolan kecil dan canda tawa tak penting hanya akan mengurangi produktifitas kerja. Yang akan berpengaruh pada efisiensi pencapaian target.

Harapan-harapan

4 bulan lalu, semenjak aku dirumahkan dari pekerjaan, sebab kebijakan PSBB yang diberlakukan pemerintah, aku merasa kesepian. Itulah kenapa aku mulai memelihara beberapa ekor kucing kampung.

Hendak pulang kampung adalah hal yang sangat mustahil. Penduduk di desaku sedang takut-takutnya terhadap siapapun yang diketahui baru saja tiba dari kota bahkan dari desa tetangga. Kabarnya, ada penjagaan ketat di setiap titik perbatasan oleh pamong-pamong di desaku.

Untuk mendapatkan kucing-kucing itu, aku mesti masuk ke pasar-pasar yang mulai sepi. Tempat di mana banyak kucing-kucing terlantar. Aku mengambil beberapa yang masih terlihat muda. Sebab aku rasa, kucing yang tidak terlalu lama hidup di jalan akan lebih mudah beradapasi dengan manusia, karena sifat liarnya belum terlalu mengerak.

Sedikit-sedikit aku mempelajari kiat-kiat mengadopsi kucing untuk pemula dari berbagai sumber di internet. Mencari apa makanan yang tepat untuk mereka. Sebab aku tidak akan tega jika mereka harus memakan makanan sisaku.

Aku tak pernah peduli apa perasaan mereka terhadapku. Seperti halnya aku tak pernah memperdulikan tentang perasaan-perasaan sesama manusia. Yang aku tahu, bahwa kucing-kucing ini telah memberiku kehangatan sebuah hubungan, yang boleh jadi tak akan pernah aku dapatkan dari manusia.

Sambil melihat mereka makan dengan lahapnya, dalam hatiku berkata. "Apakah kalian pun tak memperdulikan kehadiranku? Apakah hubungan kita tak lebih dari aku yang kesepian dan kalian yang kelaparan? Ah, setidaknya aku sudah memberi yang terbaik untuk kucing-kucing ini. Kalaupun aku mati dalam keadaan dilupakan, setidaknya kalian lah yang akan mengenang".