Kata nenekku, sembilan dari sepuluh pintu rejeki adalah dari berdagang. Aku tidak tahu akan kebenaran kata itu, pun dari mana nenek mengutipnya. Yang jelas aku memilih profesi sebagai pedagang, karena mencari pekerjaan di jaman sekarang itu sulit. Apalagi untuk orang goblok seperti aku.

Walaupun aku seorang sarjana hukum, kenyataannya aku tidak becus melakukan apa-apa. Mau jadi pengacara, tak punya bakat. Mau jadi penulis, tapi aku malas membaca. Melamar pekerjaan di perusahaan, syarat IPK kurang. Ya sudahlah aku berjualan saja.

Dulunya aku berjualan pakaian lewat internet. Menjual barang dari penjual lain. Istilahnya reseller. Kukira itu gampang, tinggal klak-klik-klak-klik dapat duit. Eh, ternyata mencari pembelinya susah juga, mana hasilnya juga sedikit sekali. Untuk satu potong pakaian, untung yang saya peroleh biasanya cuma lima ribu, sisanya diambil penjual utamanya. Kalau begini terus, kapan kayanya? Kapan bisa beli mobilnya? Kapan naik hajinya?

Untungnya, lima tahun lalu nasibku berubah drastis, ketika seorang kenalan menawariku sebuah pekerjaan yang barangkali cocok buatku. Dia bilang masih ada hubungannya dengan pengalamanku berjualan lewat internet. Saat kutanya, dia bilang untuk lebih jelasnya temui bosnya di kafe anu, tanggal sekian.

Sesuai waktu dan tempat yang disepakati, aku bertemu si bos yang ternyata orang penting dan sering nongol di televisi. Tanpa menanyai namaku (katanya, kami tak usah saling kenal karena itu berbahaya bagi karir politiknya), ia menyebutkan pekerjaan apa yang ia tawarkan. Yaitu penjual isu.

“Hah, jual isu?” tanyaku kebingungan.

“Kamu ini kuper atau goblok, sih?”

Kemudian ia menjelaskan caranya.

Pertama, aku harus membuat akun di berbagai media sosial dengan nama yang sudah ia persiapkan: “Kucing_Garong”. Kedua, aku dan kolega-kolegaku (ia menyodorkan kertas yang berisi nama-nama akun penjual isu yang lain) akan mendapat perintah dari seorang koordinator, lewat pesan masuk, tentang isu apa yang akan disebar dan siapa targetnya.

Ketiga, tinggal bagaimana aku menyebarkannya. Untuk upahnya, tergantung dari banyaknya follower, retweet, dan share. Bila kerjaku bagus, ia menjanjikan jutaan rupiah akan masuk rekeningku.

“Jadi bagaimana, kamu mau?”

“Mau banget, Pak Sani. Etapi, gimana kalo isu yang saya sebar ternyata hoax?”

“Itu bukan urusan kamu! Lakukan saja seperti yang diperintahkan, dan jangan sebut-sebut nama saya lagi. Panggil saja saya bos, paham kamu?”

“Siap, Pak Sani, eh maksudnya Bos.”

“Goblok kamu!”

Setelah meminta alamat e-mail dan nomor handphone yang bisa ia hubungi, aku langsung resmi menjadi penjual isu. Tugas pertamaku datang malam itu juga, sebuah surel dari alamat yang tak kukenal masuk ke kotak masukku. Isinya sebuah foto, dan pesan:

“Joko bertemu dengan pengusaha Cina. Ini berarti si Joko dibekingi kapitalis-komunis.”

Aku ngakak. Entah bosku ini sedang bercanda atau gobloknya kebangetan, bahkan aku yang goblok saja tahu bahwa kapitalisme dan komunisme adalah paham yang saling berlawanan.

Aku tak bisa membayangkan orang mana yang bakal percaya dengan omong kosong macam begini. Tapi, ya sudahlah aku turuti perintah saja, namanya juga bawahan. Aku post di Facebook dan Twitter, tag ke akun-akun yang sudah terkenal. Lalu kutinggal tidur.

Besok siangnya (aku memang terbiasa bangun siang), kucek smartphone-ku dan alamak! Kudapati penuh dengan notifikasi: “Anu mengikuti Anda”, “Fulan me-retweet tweet Anda”, “Ntah siapa membagikan post Anda.”

Begitulah awal mulanya aku menjadi terkenal di dunia maya. Sampai hari ini, tak terhitung isu yang telah aku sebar. Sebagian besar omong kosong, sisanya tak jelas. Aku belajar bahwa kebohongan yang diulang-ulang bisa dengan gampang dipercaya orang-orang (goblok). Apalagi jika terkait isu yang berbau agama dan teori konspirasi.

Bersamaan dengan itu muncul pula kegaduhan. Peduli apa, namanya juga cari duit.

***

Siang itu, pintu kontrakanku digebrak-gebrak. Dari balik jendela kuintip tiga orang berjubah putih dan berjenggot panjang, menunggu di depan pintu. Wajah-wajah mereka tak kukenal. Tapi, aku sering melihat penampilan macam mereka. Aku ketakutan.

Namun, pintu digebrak lagi. Kali ini lebih keras. Terpaksa aku membuka pintu.

“Selamat siang, Bapak-bapak. Ada urusan apa ya?” Sapaku antara mencoba ramah dan ketakutan.

Pria berjenggot 1 berkata kepada kedua temannya.

“Wah, antum denger barusan? Dia tak menjawab salam.”

Kedua temannya mengangguk. Tiba-tiba aku merasa salah omong.

“He, ente siapa?”

“A-ane penghuni kontrakan ini, Pak.”

“Ana-ane-ana-ane, jangan sok Arab deh ente!”

Anjrit!

“Ente tahu kenapa ente kami cari?”

“E-enggak tahu, Pak.”

“Di sini, kami mencium adanya orang yang mengancam aqidah, ente orangnya kan?!”

“Waduh, bukan saya, Pak.”

“Tadi ente gak jawab salam, pasti ente ateis!” Tukas Pria Berjenggot 2.

“Udah ngaku aja, ente komunis ‘kan!” Pria Berjenggot 3 tak mau ketinggalan.

“Sumpah mati, Pak, saya bukan komunis.”

“Ente bisa kasih bukti?”

“Tanya aja sama tetangga, Pak.”

“Lah, ane tetangga ente, bahlul!” sambar Pria Berjenggot 2.

Alamak! Mampus aku!

“Masih mau ngelak ente? Sekarang ikut kami.” Pria Berjenggot 3 menarik tanganku.

“Eh, tunggu dulu, Pak.” Aku berusaha melepaskan tanganku. “Bapak kenal sama Pak Sani, ‘kan?”

“Pak Sani dari Partai Anu-anuan? Beliau rekan seperjuangan kami.”

“Iya, saya anak buahnya, coba telepon dia. Bilangin, saya si Kucing_Garong.”

Pria Berjenggot 1 mengeluarkan iPhone dari saku jubahnya. Lalu, ia berjalan menjauh dan seperti menghubungi seseorang. Tak jelas benar apa yang ia bicarakan. Sebentar saja ia kembali lagi.

“Beliau bilang, dia tak kenal ente.”

“Lho, kok?”

Pria Berjenggot 1 melirik kedua temannya. “Bawa dia.”

Segera Pria Berjenggot 2 memiting kepalaku, sementara Pria Berjenggot 3 meringkus kedua tanganku.

“Aduh, Pak, ampun Pak! Saya mau dibawa ke mana?” Aku mencoba berontak.

Buuggh!

Satu pukulan menghunjam tepat ke ulu hatiku.

***

Aku terbangun. Kepalaku terasa agak berat. Punggung bajuku basah oleh keringat. Aku menarik napas panjang. Ah, cuma mimpi, batinku.

Kuraih smartphone-ku yang tergeletak di sebelah bantal. Kuperiksa kotak masuk. Kosong. Aneh, biasanya dua minggu sekali perintah tugas kuterima, tapi sudah sebulan tak kunjung datang. Begitu juga dengan uang gajiku. Sementara uang tabunganku mulai mengering. Apakah si bos telah kehabisan isu, atau aku sudah tak diperlukan lagi?

Ah, pastilah si bos menghendaki aku supaya kreatif. Aku harus membikin isu-isu baru sendiri, tanpa perlu diperintah lagi. Tapi apa? PKI sudah. Syiah basi. LGBT, asing-aseng, Cina, kafir, sesat, ah semuanya sudah. Otakku buntu.

Maka, untuk mencari inspirasi, kunyalakan televisi. Kuputar siaran warta berita, isinya: Ahmadiyah resmi dinyatakan terlarang oleh pemerintah, pengikutnya harus segera tobat atau angkat kaki dari NKRI. Dalam sebuah penggerebekan, aparat berhasil menangkap suami-istri terduga kader PKI, dan mengamankan barang bukti puluhan buku-buku kiri. Puluhan pasangan gay, hari ini akan digantung di depan tugu Monas. Ruko-ruko milik etnis Tionghoa di Palembang dibakar massa yang marah. Pengusiran. Pembakaran. Bentrok.

Klik! Kumatikan televisi. Membosankan. Basi. Aku malah jadi ngantuk. Barangkali satu-dua batang rokok dapat menjernihkan kepalaku. Kuambil beberapa ribu uang yang tersisa dalam dompetku untuk membeli rokok di warung Koh Akok.

Siang itu terasa panas sekali. Sinar matahari terasa membakar mataku. Aku memang tidak terlalu suka sinar matahari. Mungkin karena sudah tiga tahun aku menjadi orang yang hidup dalam kegelapan, menjelma sebagai bayangan. Keberadaanku hanya ada di dunia maya, sementara di dunia nyata aku tak dipedulikan.

Sambil berjalan ke warung, aku memandangi kiri-kanan jalan. Begitu sepi, mungkin orang-orang juga membenci matahari sepertiku. Sepanjang jalan kulihat banyak spanduk membentang di antara tiang-tiang listrik dan pohon. “Awas Bahaya Laten KGB (Komunis Gaya Baru)”, “Usir Syiah dari NKRI”, “Bubarkan Ahmadiyah!”, “Lindungi Indonesia dari Asing-Aseng”.

Ternyata warung Koh Akok tutup. Ya sudahlah, aku tak jadi beli rokok. Aku kembali ke kontrakanku, berniat menyambung tidur.

Kurebahkan tubuhku ke tempat tidur dan kupejamkan mata. Di luar terdengar suara kucing mengerang bersahut-sahutan. Kututup kepalaku dengan bantal. Uh, dasar kucing garong.