Marilah rehat sejenak terlebih dahulu dari persoalan ke-selamat-an. Beberapa mungkin tidak sepakat dengan mengucapkan selamat pada agama lain karena berbeda iman, tapi dengan membolehkan mereka beribadah pada hari perayaannya itu lebih dari cukup. Marilah kita menjaga toleransi.

Namun, ada baiknya kita belajar persoalan ini atas nama dewa politik. Kita tahu bahwa agama itu merupakan hal yang sangat sensitif, dan kita tak bisa mengingkari bahwa agama juga merupakan sebuah pengetahuan. Menyoal pengetahuan pasti berkaitan dengan logika.

Zaman dulu ketika abad tidak dikuasai oleh akal dan logika, maka darahlah yang menjadi pusat kekuasaan. Ini persoalan raja yang turun dari langit. Machiavelli mungkin menyadarinya, dan mempunyai rencana jika ingin menjatuhkan suatu kerajaan maka hancurkanlah yang di mana harapan tersedia, artinya sang raja dan keturunannya.

Namun, saat ini adalah era yang berbeda. Logika dan akal sangat memengaruhi pandangan kita terhadap pengetahuan. Akal cenderung menjadikan pengetahuan menjadi sebuah alat.

Lihat saja jika ada seorang maling bersuara kucing, maka tidak ada yang tahu kalau itu maling. Soalnya, pengetahuan kita tentang suara kucing sudah begitu berbudaya. Pengetahuan itu pun diakali menjadi alat biar aksi pencuriannya menjadi mulus.

Pengetahuan menjadi akal biasanya berjalan di dunia politik pada skala lokal. Itu bisa dilihat dalam gosip sesama penjual bakso. Gosip sudah pasti berisi pengetahuan. Biasanya penjual bakso menyebarkan gosip kalau penjual bakso tetangga itu terbuat dari daging tikus. Maka rakyat jelata yang biasa makan di tempat sana akan tidak datang kembali.

Sebenarnya, kalau ingin bersaing secara adil, tak perlulah membuat pengetahuan seperti itu. Itu justru tak sehat. Warganet saat ini kebanyakan beramsumsi berdasarkan dari teori kerumunan. Kita tak bisa menyalahkan diri kita tanpa ada penyesalan tentunya.

Dalam dunia persilatan, emak-emak dalam arisan juga memperlihatkan betapa kerasnya pengetahuan itu menjadi sebuah alat. Misalnya saja, saudari A sudah menang tiga kali berturut-turut, maka saudari B dan C yang gak suka bakalan nyebarin gosip bahwa si A itu memakai pelet. Entah bagaimana kronologi penciptaan pengetahuannya dengan tingkat cocoklogi yang tinggi (mungkinkah dia memelihara tuyul?).

Penulis tidak bisa mengatakan kasus arisan merupakan persoalan persaingan dan kasus itu sama dengan kasus antar-penjual bakso. Mungkin bakalan terlihat aneh jika ada orang yang menang tiga kali berturut-turut dalam acara arisan. Tapi bukan berarti kita harus berniat buruk dan menciptakan pengetahuan konspirasi seperti teori bumi datar.

Setelah contoh cerita rehat di atas, marilah kita melihat sedikit bagaimana akal berdampak besar terhadap agama.

Nama Isaac Newton mungkin sangat jarang disebut dalam kasus agama. Tapi sebagai penemu teori gravitasi, dia mengalami krisis agama yang terbilang hardcore. Dulu orang tak percaya bahwa bumi mengelilingi matahari, tapi dengan hadirnya teori heliosentris dari Copernicus itu justru membuktikan bahwa bumi bukanlah pusat.

Tapi untuk menjelaskan bagaimana, itu dilanjutkan oleh Newton dengan teori gravitasi miliknya. Yang menarik dari Newton, dia bisa menjelaskan bagaimana semua terjadi tapi sangat sulit untuk menjelaskan mengapa. Itu dikarenakan dia tidak bisa membuktikan bagaimana semesta ini bekerja. Dia pun putus asa, dan di sinilah datang aspek religiusnya.

Dia berpendapat bahwa bagaimana dan kenapa itu bukanlah dua kasus yang berbeda, tapi keduanya adalah satu. Di sini tuhan bisa dijangkau melalui alam karena tuhanlah yang menciptakan semuanya, dan bahkan lebih dari itu. Dia hadir bersama kita. Di sinilah mungkin untuk pertama kalinya kepercayaan Agnostik muncul.

Semuanya bisa dikaitkan dengan alam, dan tuhan pun bisa dirasakan. Sebagai penulis dan pemerhati sosial, penulis melihat ada bahaya yang sangat besar jika seorang agnostik masuk dalam dunia politik. Apa pun pengetahuan kita tentang alam akan dikaitkan dengan tuhan, dan menjadikannya sebagai alat demi keuntungannya tersendiri.

Agnostik itu berbeda dengan teis, karena agnostik tak percaya agama mana pun (dan hanya tuhan dan alam yang dipercayainya). Mungkin dalam kasus politik, kebanyakan menyalahgunakan pengetahuan agnostik. Maka dari itu, perbedaan definisi itu perlu, apalagi berkaitan dengan politik.

Persoalan memberi selamatan pada agama lain, penulis merasa itu adalah urusan pribadi. Dan kita tidak bisa memaksakan pengetahuan kita pada penganut sesama lainnya. Jika kita mengucapkan selamatan, silakan; jika tidak, silakan juga

Bukan berarti apa yang dikatakan itu benar, melainkan kita memang perlu batasan apalagi ini persoalan pribadi. Jika tidak, apa bedanya kita dengan penggosip yang menyebarkan pengetahuan yang salah demi melariskan penjualannya, maupun akal bulusnya demi meraih kemenangan?

Tentu kucing tidak bisa bersuara seperti maling, dan hanya malinglah bisa bersuara kucing karena kucing tidak memiliki akal. Hanya kitalah manusia yang dilebihkan dengan akal bisa memahami betapa pentingnya sebuah pengetahuan demi kepentingan seluruh umat manusia.