Kau hanya ingin memiliki kocek sendiri agar bisa membeli buku-buku sastra karya penulis-penulis favoritmu, saat menawarkan hasil karyamu di media sosial. Memiliki koleksi bacaan tanpa perlu meminta ijin-lalu mendapat uang belanja tambahan dari suami-disertai rasa sungkan. Atau memilih cara lain dengan menghemat jatah uang belanja bulanan yang kauterima dari suami setelah gajian.

Kau sangat senang meski satu bingkai karyamu diapresiasi hanya dengan selembar uang biru.

Pandangan warga dunia maya yang masih suka mengejar harga miring dengan kualitas bagus, senada dengan keinginan sederhanamu-yang hanya-agar punya uang sendiri untuk membeli buku-buku sastra yang kausukai, maka beberapa karyamu pun laris manis, dipinang dan dimiliki mereka yang berburu pajangan dinding.

Pun kecenderungan masyarakat yang mulai mengalihkan penglihatan pada gawai pintar  ketimbang menyusuri jalan, seirama dengan gagasan cerdasmu yang memilih berdagang online-agar tetap bisa terus berada di rumah-tanpa meninggalkan tugas utamamu-ketimbang membuka stan di pinggir jalan. Jadilah segalanya berjalan bersisian. Mudah. Mengasyikan.

Hobi lama yang menghasilkan, juga strategi ekonomi yang jitu, membuatmu terlihat sangat beruntung  di antara begitu banyak ibu rumah tangga yang tak cakap mengembangkan ide dan merealisasikan imaji di atas kanvas, seperti dirimu.

Meski tak sedikit warga dunia maya yang memuji hasil gambarmu, sekaligus menyayangkan harganya yang di bawah standar, hal ini tidak memengaruhi betapa senangnya kau-setiap ada komentar mengisi postingan yang menjadi lapak daganganmu-berupa kalimat membeli. Tak terkira juga kebahagiaanmu, saat pembeli itu menunjukkan tanda bukti transfer ke nomor rekening bank milikmu. Kau pun buru-buru membungkus lukisan yang telah dibeli itu untuk dikirim ke alamat pembelinya.

“Lukisan sebagus ini kok ditawarkan dengan harga murah. Keterlaluan. Lima puluh ribu itu penghinaan. Kamu harusnya memamerkan ini di depan para koruptor yang super power itu. Ingatkan mereka.”

Matamu membulat. Orang yang berkomentar rupanya membaca pesan dalam lukisanmu. Tidak seperti postingan lainnya yang ramai komentar, postingan gambar yang satu ini awalnya nol peminat.

Bisa dibayangkan betapa bahagia dirimu, manakala orang itu  juga menaruh harga dua puluh kali lipat dari harga yang kautawarkan, sebagai bayaran kucing bercorak langit yang terbang di atas gedung Komisi Pemberantasan Korupsi.

Kaupandangi sungguh-sungguh jumlah tertera pada foto bukti transfer yang dikirim pembeli. Dadamu membesar oleh sukacita dan rasa bangga. Lebih dari sepuluh buku sastra penulis-penulis favoritmu bisa terbeli hanya dengan menjual satu karya. Menakjubkan. Kau pun berniat akan membuat lebih banyak lagi karya serupa. Siapa tahu akan ada pembeli yang mau menaikkan harga seperti pembeli tadi. Kau pun tersenyum tak henti-henti.

***

"Win,” ucap sahabatmu setelah menenangkanmu dengan segelas teh hangat, “orang itu hanya mengakui satu karyamu, tetapi kamu bisa membuat lebih banyak lagi. Di waktu mendatang, buatlah yang lebih menakjubkan. Lebih tinggi dari kucing terbang bercorak langit itu!”

Kau masih tak bergeming. Tenggelam pada ingatanmu mengenai kejadian tak mengenakkan, sore tadi.

Di temani sahabatmu, kau terpaku di depan sebuah lukisan dengan pigura perak setinggi pintu. Lukisan itu seolah membalas tatapanmu. Namun di detik berikutnya, tampak seperti menyeringai licik. Mengejekmu.  Tak seperti lukisan-lukisan lainnya yang tampak dengan senang hati kauperhatikan secara detail. Lukisan kucing bercorak langit yang terbang di atas gedung Komisi Pemberantasan Korupsi itu tampak pongah, seakan baru saja mengalahkanmu dalam sebuah pertempuran. Merayakan kemenangan dengan menempel di satu tempat terhomat di dinding Museum Komisi Pemberantasan Korupsi, yang baru diresmikan seminggu yang lalu.

“Hei, ini sangat identik dengan lukisanmu.”

Sahabatmu terperangah, tapi buru-buru menenangkan diri dan memaksakan senyum, supaya kau yang diam terpaku menjadi lunak kembali.

Tapi ternyata, kau justru menitikkan airmata. Kau  merasa dikhianati. Seorang pembeli yang telah kauanggap sebagai pembelamu, bukan hanya sebagai penikmat karyamu atau seseorang yang hanya butuh hiasan dinding. Satu juta rupiahnya membuatmu merasa bak seorang maestro. Kau beroleh banyak rupiah hingga bisa memborong buku-buku sastra pilihanmu, juga mentraktir makan sahabat dekatmu. Setelahnya kau pun masih mampu membeli tiket masuk Museum Komisi Pemberantasan Korupsi, yang kaudengar punya ruangan khusus yang digunakan untuk memajang lukisan-lukisan satire.

Namun ternyata, kau justru menemukan buah pikirmu dilukis ulang, diberi bingkai perak besar berukir, dengan tertulis nama penciptanya yang bukan namamu.

Dulu, kucing bercorak langit yang terbang di atas gedung Komisi Pemberantasan Korupsi itu, didiskusikan hanya oleh dua orang saja; kau dan pembeli lukisan itu. Saat ini, lukisan itu jadi objek perhatian dan kekaguman oleh khalayak ramai. Digantungkan bukan sebagai pajangan dinding rumah, tapi menempel pada dinding sebuah gedung besar bersejarah. Berdampingan dengan lukisan-lukisan lain yang merupakan karya pelukis-pelukis besar tanah air. Nama-nama terkenal yang mungkin tak akan mengenalmu.

Air mata masih mengucur dengan nakalnya saat kau melangkah lemah dari gedung itu. Di rumah sahabatmu, kau benamkan wajah di atas bantal yang basah oleh air mata.

Dalam tangis yang sesak, akhirnya kausadari bahwa ide-ide yang kautuangkan di atas kanvas, tak dapat diukur dengan nilai berupa rupiah saja. Ketika buah karyamu diklaim orang lain, kau merasa tak bisa terima. Asa, kebahagiaan, dan rasa bangga oleh dua puluh lembar uang biru, terpatahkan begitu saja.

Di pelukan sahabatmu, kau mulai bisa menguasai diri, meski hatimu masih dipenuhi satu kata yang terus berulang; karyaku, karyaku!

“Kau bisa membuat yang lebih bagus. Lebih hebat dari seekor kucing terbang bercorak langit.”

Kata-kata sahabatmu kauukir dalam hati. Kaugores dengan tinta emas yang mengkilap. Lalu kaupelototi manakala kau merasa jenuh dengan kuas dan pastel minyak. Tak perlu terus-menerus kaupendam kesedihan. Membesar-besarkan kekecewaan untuk seekor kucing bercorak langit dalam bingkai perak. Dengan kejujuran dan kesederhanaanmu, suatu saat nanti kau pasti akan bisa menciptakan lukisan yang lebih menakjubkan.