Pernah melihat petinju bertarung di dalam ring? Atau, melihat orang dikejar-kejar anjing galak? Seru, ya. Pasti kita bersorak-sorak dan tertawa geli melihat usaha mereka melepaskan diri dari pertarungan.

Tanpa sadar, individu yang kita saksikan itu sebenarnya sedang melawan ancaman eksternal mereka. Memang, pertarungan dalam hidup ini adalah suatu kelaziman. Baik bertarung dengan ancaman dari luar, maupun dari diri sendiri.

Pernahkah terpikir siapa musuh terhebat kita? Apakah lawan si petinju di dalam ring? Atau, seekor anjing galak yang mengejar? Ternyata musuh kita juga beragam level, lho. Ada musuh yang biasa-biasa saja, sedang, dan hebat.

Mungkin tak pernah tebersit sedikit pun bahwa musuh terhebat kita berasal dari dalam diri. Jika bertarung di dalam ring, akan jelas terlihat siapa yang kalah, siapa yang menang; jika dikejar seekor anjing galak, kita bisa berlari menghindar; tapi, jika mengidap kanker kita harus bagaimana?

Musuh sekaligus 'pembunuh' itu, bersemayam di dalam tubuh kita sendiri. Ke mana pun kita pergi, 'dia' ikut pergi. Dan, sewaktu-waktu bisa menghabisi nyawa kita.

Pertarungan Soe Tjen Marching melawan kanker tiroidnya diabadikan dalam memoar Kubunuh di Sini. Menurutnya, pertarungan terhebat adalah saat-saat bertempur melawan sel kanker yang bersemayam di dalam tubuhnya. Apakah ada yang lebih hebat dari itu?

Seperti yang kita ketahui, sel-sel kanker amat ditakuti dan dikaitkan dengan 'sudah dekat ajal'. Anggapan ini berdasarkan pada tingkat kemustahilan dan kecilnya peluang kesembuhan si penderita.

Dokter spesialis radioterapi sub-spesialis onkologi radiasi, Fielda Djuita menyatakan bahwa persentase keberhasilan tak lepas dari pada stadium berapa kanker ditangani. Bila kanker ditemukan pada stadium lebih awal, kemungkinan sembuh lebih tinggi dibanding stadium yang lebih tinggi (merdeka.com).

Apalah arti stadium bagi kita, mendengar terdiagnosis kanker saja terasa runtuh seketika dunia ini. Sudah merasa pesimis terhadap kesembuhan, meskipun di dunia medis stadium sangat penting.

Penyakit berkasta dewa ini seolah-olah tidak boleh diderita oleh kalangan bawah. Kenapa begitu? Karena biaya pengobatan dan perawatannya untuk penderita kanker jauuuh dari 'murah'.

Sel kanker harus dioperasi, radioterapi, kemoterapi, dan kontrol-kontrol lain. Jelas, berbeda 'kasta' dengan penyakit-penyakit sariawan, flu, atau batuk yang bisa beli obat di warung sebelah.

Belum lagi mengatasi keterpurukan mental, si penderita ditambah beban biaya selangit yang harus dikeluarkan. Ironinya, asumsi kesembuhan yang tidak pasti meskipun segala usaha dilakukan semakin memperparah kondisi penderita.

Pada 400 SM, di masa Hippocrates, nama karkinos yang berarti kepiting dalam bahasa Yunani, muncul dalam dunia kedokteran. Karkinos-Cancer-Kanker. Sel-sel abnormal yang tak terkendali dan menghancurkan jaringan tubuh lain konon bentuknya seperti "kepiting".

*

Pembersihan sel-sel kanker bisa lebih berbahaya jika tidak bersih total, operasi malah akan merangsang sel kanker lebih ganas lagi. Artinya, ini tidak bisa dilakukan oleh sembarangan dokter. Harus dokter spesialis bedah kanker.

Begitulah anggapan Soe Tjen dalam memoarnya, sampai-sampai suaminya, Angus, harus mewawancarai dokter yang akan mengoperasinya. Angus benar-benar ingin memastikan operasi istrinya aman dan berhasil, mengingat konsekuensi jika operasi gagal sel kanker lebih ganas.

Biasanya, penderita kanker otomatis mendapat 'vonis' mati dari lingkungan sekitar atau dari diri sendiri. Mengingat penyakit ini memang penyakit yang mencekam. Tapi, Soe Tjen pejuang tangguh yang berhasil mengusir penjajah itu dari tubuhnya.

Terlepas dari kepercayaan 'umur di tangan Tuhan', ada namanya perjuangan hebat yang ikut andil di kehidupan. Tidak semua penderita kanker berujung maut, buktinya ada yang berhasil melewatinya. Peluang hidup itu selalu tersedia.

Inilah ujian hidup yang tidak bisa dipilih. Ada yang diuji dengan hal-hal di luar diri, dan ada yang di dalam diri. Ujian tiap orang berbeda sesuai porsi kesanggupannya. Analoginya, anak kelas 5 SD pasti mengerjakan soal ujian untuk kelas 5. Tidak mungkin mereka mengerjakan soal kelas 6.

Pun dalam menjalani hidup ini, selalu ada masalah yang menanti diselesaikan. Tentu butuh perjuangan untuk bertahan, dan Tuhan selalu melihat usaha kita sekecil apa pun itu.

*

Di tengah menghadapi kanker tiroidnya, Soe Tjen sama sekali tidak menyerah. Dia mengisi waktu dengan berbagai aktivitas laiknya perempuan sehat lain.

Dia mendapat beasiswa PhD dari Monash University di Melbourne, Australia, dan harus menyelesaikan pendidikannya di saat yang sama dengan pertempuran melawan "kepiting" di dalam tubuhnya.

Soe Tjen merupakan seorang feminis, dia pembaca buku Virginia Woolf. Di dalam memoar Kubunuh di Sini pun diselipkan pemahamannya tentang dunia perempuan.

Bersama beberapa rekannya, penganut paham feminis itu mencoba mendirikan majalah Bhinneka. Media gratis yang memberi informasi kritis, yang tidak berpihak hanya kepada para pengusaha kelas kakap, yang membuat rakyat tidak saling bersaing dan menindas, tapi saling bekerja sama.

Dia juga menulis beberapa buku, termasuk memoarnya Kubunuh di Sini, sebagai bentuk 'kenangan' sekaligus kisah inspiratif. Tidak sampai di situ, Soe Tjen bahkan menjadi dosen di SOAS, University of London.

Semua itu dilakukan secara paralel terhadap penyembuhan kanker tiroidnya. Betapa Soe Tjen tidak ingin dikalahkan oleh penjajah dalam tubuhnya itu.

Dari kisah Soe Tjen, saya berasumsi bahwa selalu ada peluang meskipun ketidakmungkinannya lebih besar. Perjuangan hebat akan menghasilkan hasil serupa.

Semoga, kita yang diberi berkah kesehatan lebih, senantiasa bermanfaat bagi kebaikan orang banyak. Selalu menginspirasi dan menggunakan umur pemberian-Nya dengan bijak.

Jika Soe Tjen yang pernah mengalami pertempuran sehebat itu dan tak pernah menyerah, apalagi kita yang tidak kurang satu apa-apa ini.

Memoar: Marching, Soe Tjen. 2013. Kubunuh di Sini. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.